Sabtu, 21 Februari 2015

Pengalamanku Dengan Lisa


Lisa, 20 tahun, adalah mahasiswi baru pada suatu perguruan tinggi. Kami kenal karena sering bertemu didalam perpustakaan, Suatu hari saya mengantar dia pulang setelah selesai berolahraga.Suatu ketika di tempat kostnya, kami langsung berciuman dengan nafsunya. Kemudian kami berbaring ditempat tidur dan mulai melepaskan satu demi satu seluruh busana kami .. sampai tidak tersisa sehelai benangpun! dan kami mulai
berbaringan diatas tempat tidurnya, saya menyentuh dan merasakan hampir seluruh bagian tubuhnya, dan saya ingin tahu bagaimana reaksinya terhadap sentuhan pada vagina seperti yang pernah saya lakukan terhadap Donna dan Sally.

Pada tahap ini saya berharap untuk membuat Lisa berhasil mendapatkan orgasme ejakulasi, karena saya belum begitu mengenalnya dan selama pembicaraan menunjukkan bahwa dia belum mengetahui konsep permainan saya. Tetapi saya ingin tahu apa yang terjadi bila saya sentuh dia seperti yang lainnya. Akankan dia merasa senang walaupun tidak mengalami orgasme? Saya sangat menikmati apa yang sedang kami lakukan bersama,
tetapi saya pikir dia bukanlah wanita yang secara psikologis mampu mendapatkan ejakulasi.

Sambil saya memegang lebih dekat dan membelai bagian vagina dalamnya dengan lembut, reaksinya sangat mengagetkan saya karena mirip dengan reaksi wanita2 terdahulu. Lisa menikmati apa yang saya lakukan, dan reaksinya jelas memperlihatkan kalu dia mersakan kenikmatan. Dia memeluk lebih erat dan dikedalaman vaginanya kelihatan menjadi lebih lembut dan lebih basah. Dan kemudian dia memeluk lebih dekat lagi seiring
otot-otot didalam vaginanya mengembang.. saya memutuskan untuk terus melihat apa yang akan terjadi.

Walaupun saya tidak mengharapkan mendapatkan ejakulasi, saya masih mersaa perlu untuk meyakinkan dia bahwa itu tidak apa-apa. Sementara rangasangan seksualnya sangat jelas kelihatan dan dramatis intensitasnya, saya merasa bahwa dia kurang mengenal rasa kenikmatan yang baru ini. Tetapi saya terus menyentuhnya dan meyakinkan dia, desakan Gairah pada diri Lisa semakin besar dan besar. Dan selain sekedar merintih, dia mulai berteriak. Kemudian yang mengagetkan, gadis manis yang bicaranya lemah lembut ini, mulai berteriak sangat kuat.

"Akhhh! Akh! Ohh... Akhhhhhhhhh!"

Saya memegangnya lebih dekat dan berkata "Lepaskan semuanya." Saya tahu dia tidak tahhu persis apa yang akan dilepaskan, tetapi jelas kelihatan bahwa dia tahu sesuatu yang sama sekali baru akan terjadi padanya. Dia berteriak dengan kombinasi yang sangat aneh.

"Oh tidak! Ya! Oh,tidak! Ya!"

"Ya atau tidak?" desak saya. "Ya atau tidak?"

Vaginanya benar-benar mulai terendam. Jari saya dipenuhi oleh suatu cairan yang tidak kental, sewaktu dia mulai berteriak, "YA! YA! YA"

Dalam beberapa detik seluruh pinggulnya.. mengejang keluar dan kedalam.. sewaktu cairan panas melayang keluar. Ini berlanjut dalam beberapa menit dan keluar lagi berkali-kali.. sampai pada akhirnya.. dia memohon untuk menghentikan kenakalan jari-jari tangan saya.. "Sudah mas.. sudah.. saya bisa pingsan Kemudian saya mengeluarkan jari saya dan memeluknya, Lisa memberi ciuman termanis yang pernah saya rasakan.

"Kamu tahu, aku belum pernah merasakan seperti tadi," katanya. "Jadi kamu belum pernah mengalami keluar cairan ketika kamu orgasme?" Dia kelihatan bingung, dia menatap saya beberapa saat dan berkata, "Apa maksudmu?"

"Tidakkah kamu merasakan kenikmatan yang luar biasa saat cairan itu keluar?"

"Yah," katanya. "Tentu saja."

"Jadi apa yang tidak kamu mengerti?"

"Tidakkah semua orgasme seperti itu?" Lisal bertanya. "Apakah rasanya selalu seperti itu?, Aku belum tahu." katanya. "Itu adalah orgasme yang pertama yang saya alami." Saya diam sejenak, "Apakah kamu belum pernah mengalami orgasme sebelumnya.. dan kamu pikir semua orgasme seperti itu?"

"Bukankan begitu?" Lisa bertanya. "Tidak," jawab saya. "Bahkan tidak mendekati itu" dan akhirnya kembali memberikan senyumannya yang sangat manis itu kepada saya, dan saya pun menikmatinya, malam itu kami
lewati dengan penuh perasaan dan cinta kasih yang meluap-luap.

Tubuh mungil Susan

Gue punya kenalan anak UKI fakultas str, namanya Susan. Anaknya mungil, kulitnya putih bersih dan mulus, maklum anak keturunan negeri seberang. Sedang gue sendiri kuliah di fakultas kdktr, UKI juga .Suatu waktu, gue jemput Susan dari kuliahnya untuk pulang. Sesampainya di rumah Susan di bilangan Cpk Pt, dia ngajak gue
masuk dulu karena katanya rumahnya kosong sampai besok siang. Gue pun masuk dan duduk di sofa ruang tamunya. Setelah menutup pintu depan, dia masuk kamarnya untuk mandi dan ganti baju.

Nggak lama dia datang dengan baju kaos dan rok pendek sambil membawa dua minuman dan duduk disamping gue. Buset, gue bisa mencium harum tubuhnya dengan jelas. Dan terus terang tiba-tiba gue terangsang dan mulai membayangkan keindahan tubuh Susan bila tanpa busana. Nggak sadar, gue lama menatap tubuh segarnya dan membuat Susan bingung. "Kenapa sih Ben?" tanyanya. Gue cepat-cepat sadar dari lamunan
erotis gue. "Nggak..., lo keliatan laen dari biasanya." "Lain apanya Ben..?" sambil menumpangkan salah satu kakinya ke kaki satunya. Buset.. itu paha putih banget. Birahi gue pun tambah terangkat. Pikiran erotis gue mulai bergelora lagi, menghayalkan seandainya gue bisa meraba-raba kemulusan pahanya.

"Heh..!"katanya sambil tertawa dan menepuk bahu gue, lalu "Ngeliat apaan hayo, ngeres deh lo!" Gue cuma bisa nyengir aja. "San, panas ya disini?" sambil gue mengambil saputangan di kantong celana. "Iya yah, lo udah mulai keringetan begini." Tiba-tiba aja dia ngelap keringet di dahi gue pake tisunya. Dalam keadaan berdekatan kayak gini, gue punya inisiatif untuk memeluk dan menciumnya. Dan bener deh,...kejadian deh... Susan
sudah berada dalam pelukan gue, dan bibirnya sudah dalam lumatan bibir gue. Dia sama sekali tidak berontak dan mulai memejamkan matanya menikmati percumbuan ini. Tangannya perlahan berganti posisi menjadi memeluk leher gue. Tangan gue yang tadinya memegang pinggulnya, turun perlahan ke pangkal
pahanya dan akhirnya... Gue berhasil meraba merasakan betapa mulus dan lembutnya paha Susan. Gue meraba naik turun sambil sedikit meremasnya. Rasanya rada bangga juga gue mulai bisa menyentuh bagian tubuhnya yang rada sensitif. Sedang bibir kami masih saling berpagutan mesra dalam keadaan mata masih
terpejam. Lama-lama gue merasa kurang afdol kalau hanya meraba bagian pahanya saja. Tangan gue mulai naik lagi. Sekarang gue kepingin banget menikmati buah dadanya. Pikiran gue udah melayang jauh. Pelan
tapi pasti gue mengangkat baju kaosnya untuk gue buka. Dia nggak nolak, dan setelah gue buka bajunya, kelihatanlah buah dadanya yang masih terbungkus rapi oleh Bhnya. Gue lumat lagi bibirnya sebentar sambil gue bawa tangan gue ke belakang tubuhnya. Memeluk, dan akhirnya gue mencari kancing pengait Bhnya untuk gue lepas. Nggak lama terlepaslah BH pembungkus buah dadanya. Dan mulailah tersembul keindahan buah dadanya yang putih dengan puting kecoklatan diatasnya. Buu..ssee..tt.. benar-benar merupakan tempat untuk berwisata yang paling indah dengan pemandangan yang menakjubkan di seantero jagat. Gue bertambah gregetan melihat indahnya buah dada Susan yang terawat rapi selama ini.

Akhirnya gue mulai meraba dan meremas-remas salah satu buah dadanya dan kembali gue lumat bibir mungilnya. Terdengar nafas Susan mulai tidak teratur. Kadang Susan menghembuskan nafas dari hidungnya cepat hingga terdengar seperti orang sedang mendesah. Susan makin membiarkan gue menikmati tubuhnya.
Birahinya sudah hampir tidak tertahankan. Saat gue rebahkan tubuhnya di sofa dan mulut gue siap melumat
puting susunya, Susan menolak gue sambil mengatakan, "Ben, jangan disiniĆ¢€¦dikamar gue aja!" ajaknya dan kemudian bangun, mengambil baju kaos dan Bhnya di lantai dan berjalan menuju kamar tidurnya. Gue ngikutin dari belakang sambil membuka baju gue sendiri dan melepas kancing celana gue. Begitu pintu ditutup dan dikunci, gue langsung meluk Susan yang sudah topless dan kembali melumat bibir mungilnya dan melanjutkan meraba-raba tubuhnya sambil bersandar di tembok kamarnya. Lama-lama cumbuan gue mulai beralih ke lehernya yang jenjang dan menggelitik belakang telinganya. Susan mulai mendesah pertanda birahinya semakin menjadi-jadi. Saking gemesnya gue sama tubuh Susan, nggak lama tangan gue turun dan mulai meraba dan meremas bongkahan pantatnya yang begitu montoknya. Susan mulai mengerang geli. Terlebih ketika gue
lebih menurunkan cumbuan gue ke daerah dadanya, dan menuju puncak bukit kembar yang menggelantung di dada Susan.

Dalam posisi agak jongkok dan tangan gue memegang pinggulnya, gue mulai menggerogoti puting susu Susan satu persatu yang membuat Susan kadang menggelinjang geli, dan sesekali melenguh geli. Gue jilat, gigit, emut dan gue isap puting susu Susan, hingga Susan mulai lemas. Tangannya yang bertumpu pada dinding kamar mulai mengendor. Perlahan tangan gue meraba kedua pahanya lagi dan rabaan mulai naik menuju pangkal pahanyaĆ¢€¦. Dan gue mengaitkan beberapa jari gue di celana dalamnya dan.. srreet!!! Lepas sudah celana
dalam Susan. Gue raba pantatnya, begitu mulus dan kenyal, sekenyal buah dadanya. Dan saat rabaan gue yang berikutnya hampir mencapai daerah selangkangannya..., tiba-tiba, "Ben, di tempat tidur aja yuk..! Gue capek berdiri nih." Sebelum membalikkan badannya, Susan memelorotkan rok mininya di hadapan gue dan tersenyum manis memandang ke arah gue. Ala mak, senyum itu... Bikin gue kepingin cepat-cepat menggumulinya. Apalagi Susan tersenyum dalam keadaan bugil alias tanpa busana. Buu..ssset khayalan gue benar-benar jadi
kenyataan cing..!

Susan mendekat ke gue sebentar dan tangannya dengan lincah melepas celana panjang dan celana dalam gue hingga kini bukan hanya dia saja yang bugil di kamarnya. Batang kemaluan gue yang tegang mengeras menandakan bahwa gue sudah siap tempur kapan saja. Tinggal menunggu lampu hijau menyala.

Lalu Susan mengambil tangan gue, menggandeng dan menarik gue ke ranjangnya. Sesampainya di pinggir ranjang, Susan berbalik dan mengisyaratkan agar gue tetap berdiri dan kemudian Susan duduk di sisi ranjangnya. Oh buu..ssseet, Susan menggelomoh batang kemaluan gue dengan rakusnya. Gila mak, lalu dia dengan ganasnya pula menggigit halus, menjilat dan mengisap batang kemaluan gue tanpa ada jeda sedikit pun. Kepalanya maju mundur mengisapi kemaluan gue hingga terlihat jelas betapa kempot pipinya. Gue berusaha mati-matian menahan ejakulasi gue agar gue bisa mengimbangi permainannya. Kadang gue meringis nikmat
saat Susan mengeluarkan beberapa jurus pamungkasnya dalam menyepong. Gila bener... uenakya kagak ketulungan cing..!!

Ada mungkin 15 menit Susan mengisapi batang kemaluan gue, lalu dia melepas mulutnya dari batang kamaluan gue dan merebahkan tubuhnya telentang diatas ranjang. Gue ngerti banget maksud ini cewek. Dia minta gantian gue yang aktif. Segera gue tindih tubuhnya dan mulai berciuman lagi untuk beberapa lamanya, dan gue mulai mengalihkan cumbuan ke buah dadanya lagi, kemudian gue turun lagi mencari sesuatu yang baru di daerah
selangkangannya. Susan mengerti maksud gue. Dia segera membuka, mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar membiarkan gue membenamkan muka gue di sekitar bibir vaginanya. Kedua tangan gue lingkarkan di kedua pahanya dan membuka bibir vaginanya yang sudah memerah dan basah itu. buusset, rupanya sewaktu dia mandi sudah bersihkan dan disabuni dengan baik sehingga bau vaginanya harum. Ditambah menurut
pengakuannya, bahwa dia tadi meminum ramuan pengharum vagina. Tanpa ba bi bu lagi, lidah gue julurkan untuk menjilati bibir vaginanya dan buah kelentit yang tegang menonjol.

Gila mak, Susan menggelinjang hebat. Tubuhnya bergetar hebat. Desahannya mulai seru. Matanya terpejam merasakan geli dan nikmatnya tarian lidah gue di liang sanggamanya. Kadang pula Susan melenguh, merintih, bahkan berteriak kecil menikmati gelitik lidah gue. Terlebih ketika gue julurkan lidah gue lebih dalam masuk ke laing vaginanya sambil menggeser-geser ke kelentitnya. Dan bibir gue melumat bibir vaginanya seperti
orang sedang berciuman. Vaginanya mulai berdenyut hebat, hidungnya mulai kembang kempis,dan akhirnya..

"Ben.. ohh.. Ben.. udahh.. entot gue Ben..!!" Susan mulai memohon kepada gue untuk segera mengentotinya. Gue bangun dari daerah selangkangannya dan mulai mengatur posisi diatas tubuhnya dan menindihnya sambil memasukkan batang kemaluan gue kedalam lorong vaginanya perlahan. Dan akhirnya gue genjot vagina Susan yang masih perawan itu secara perlahan dan jantan. Masih sempit, tapi remasan liangnya membuat gue tambah
penasaran dan ketagihan. Akhirnya gue sampai pada posisi paling dalam, lalu perlahan gue tarik lagi. Pelan, dan lama kelamaan gue percepat gerakan tersebut. Kemudian posisi demi posisi gue coba bareng Susan.

Gue sudah nggak sadar berada dimana. Yang gue tahu semuanya sangat indah. Rasanya gue seperti melayang terbang tinggi bersama Susan. Yang gue tahu, terakhir kali tubuh gue dan tubuh Susan mengejang hebat. Keringat membasahi tubuh gue dan tubuhnya. Nafas kami sudah saling memburu. Gue ngerasa ada sesuatu yang memuncrat banyak banget dari batang kemaluan gue sewaktu barang gue masih di dalam kehangatan liang sanggama Susan. Habis itu gue nggak tahu apa lagi.

Sebelum gue tertidur gue sempet ngelihat jam. Alamak..! dua setengah jam¦ Waktu gue sadar besoknya, Susan masih tertidur pulas disamping gue, masih tanpa busana dengan tubuh masih seindah sebelum gue nersenggama dengannya. Sambil memandanginya, dalam hati gue, gue berkata, "Akhirnya gue bisa juga ngelampiasin nafsu yang gue pendam selama ini. Thank's banget "San..., kalo nggak ada lo, gue kagak tau deh kemana gue bawa nafsu gue ini..." Gue kecup keningnya, lalu gue segera berpakaian dan siap cabut dari rumah Susan setelah gue lihat jam di mejanya, mengingatkan gue bahwa sebentar lagi keluarganya bakal datang. Gue kagak mau konyol kepergok lagi bugil berduaan bareng dia. Apalagi masih ada noda darah perawan di sprei tempat tidurnya. Gue bangunin dia dan berkata bahwa lain kali sebaiknya kita main di villa gue, di Bogor,
aja dengan alasan lebih aman dan bebas.

Kenikmatan Janda Muda

Nama saya Firman, saya berusia 23 tahun dan saat ini saya kuliah dan bekerja. Cerita ini bermula pada saat saya jalan-jalan dengan teman-teman saya di suatu kawasan di Jakarta yang memang sudah cukup terkenal di kalangan anak muda. Saat saya sedang melintas di jalan Sudirman saya melihat seorang wanita dan saya menghentikan kendaraan saya lalu kami pun berkenalan. Wanita tersebut bernama Nia dan dia masih berumur 19 tahun dengan tinggi kurang lebih sekitar 175 dan dengan ukuran bra sekitar 36 C akhirnya saya menawarkan dia untuk mengantar pulang dan dia pun setuju, maka akhirnya kami jalan pulang tanpa ada apa-apa.

Kesokan harinya pada pukul 10.00 Nia menghubungi saya via HP saya "Hallo, Firman ya?" "Siapa nih?", tanya saya "Nia, masa lupa yang semalam kenalan.." "Oh, iya.. lagi dimana nih." "Lagi di Blok M, kamu ada acara nggak hari ini?" "Ehmm, nggak ada tuh kenapa?", jawab saya "Bisa jemput?" "Ya udah dimana?"
"Di McDonald Blok M aja ya jam 11.00" "Ok"

Singkat cerita langsung saya meluncur ke arah Blok M. Sesampainya disana kami ngobrol sejenak lalu kami memutuskan untuk pergi. "Mau kemana nih?" tanya saya "Terserah kamu aja.."Main kerumahku sebentar yuk mau nggak?" "Ok", jawabnya dengan santai. "Ga takut?", tanya saya "Takut apa?" "Kalo diperkosa gimana?"
Tapi dia dengan santainya menjawab, "Ga usah diperkosa juga  mau kok.. he.. he.." sambil melirik kearahku dan mencubit manja pinggangku. Kemudian saya bertanya, "Bener nih?" Dia menjawab, "Siapa takut?"

Lalu segera kita meluncur ke arah rumahku di bilangan Tebet yang memang sehari-harinya selalu kosong. Begitu sampai saya lalu mempersilahkan Nia untuk masuk lalu kami duduk bersebelahan dan saya menggoda dia.
"Bener nih nggak takut diperkosa?" Dia malah menjawab, "Mau perkosa aku sekarang?" ujarnya sambil
membusungkan dadanya yang montok itu. Aku tidak tahu siapa yang memulai tiba-tiba bibir kami sudah
saling bertemu dan saling melumat, dan memainkan lidah nya di mulutku. Tangan kirinya melepas bajuku dan aku tak mau ketinggalan, saya ikut membuka kaos ketatnya itu dan melepas BH nya.

Ciumanku menjalar menyusuri leher dan belakang kupingnya."Ahh.. esst.. terus yang..", Nia udah mulai meracau tidak jelas saat lidah saya turun ke dadanya diantara kedua bukitnya.Lidah saya terus menjalar di buah dadanya namun tidak sampai pada pentilnya.Nia mendesah-desah, "Man isep Man ayo Man gue pingin elo isep
Man.."  Namun aku tidak memperdulikannya dan masih bermain di sekitar pentilnya dan turun ke perut sambil perlaha-lahan tanganku membuka celananya dan masih tersisa celana dalamnya.Akhirnya kepalaku ditarik Nia dan ditempelkannya teteknya ke mulutku."Ayo Man isep Man jangan siksa gue Man.."Akhirnya mulutku menghisap tetek sebelah kirinya sedangkan tangan kanan ku meremas-remas tetek sebelah kanannya.
"Ohh.. aah.. esst.. enak Man terus sedot yang keras Man gigit Man ohh..", racaunya.Sambil kusedot teteknya bergantian kiri dan kanan tanganku bergerilya di bagian pangkal pahanya sambil menggosok- gosok klitorsnya dari bagian luar celana dalamnya.Nia pun tidak sabar, akhirnya dia membuka celanaku termasuk
celana dalamku sehingga mencuatlah 'adekku' yang sudah berdiri tegak itu dan Nia terpana.
"Gila gede banget Man punya elo.."Dan tanpa dikomando langsung Nia memasukan kontolku ke dalam
mulutnya yang mungil, terasa penuh sekali mulut itu, Nia menjilat-jilat ujung kemaluanku terus turun ke bawah sampai selurh batangnya terjilat olehnya."Ah.. enak Ni terus Ni" aku pun menahan nikmat yang luar
biasa.Akhirnya aku berinisiatif dan memutar tubuhku sehingga posisi
kami menjadi 69. Sesaat aku menjilati bagian bibir vaginanya Nia mendesah.


"Ah.. enak Man esst.. terus Man.."Akhirnya Nia menggelinjang hebat ketika lidahku menyentuh bagian klitorisnya."Ahh.. Man aku sampai Man.." sambil mulutnya terus mengelum penisku sedotan Niapun semakin cepat dan kuat pada penisku maka aku merasakkan denyut-denyut pada penisku."Ni, gue juga mau sampai Ni ahh..""Barengan ya.."Mendengar itu Nia makin bernafsu menyedot-nyedot dan menjilati
penisku dan akhirnya.."Acchh.. ach..", crot.. crot.. crott.., 8 kali penisku menyemprotkan sperma dalam mulut Nia dan dia menelan semuanya sehingga kamipun keluar secara bersamaan.Akhirnya Niapun menggelimpang disampingku setelah menjilati seluruh penisku hingga bersih.

"Makasih ya Man aku dah lama nggak orgasme sejak suami gue kabur..", kata Nia "Emang suami kamu kemana?" "Ga tau tiba-tiba dia ngilang setelah gue ngelahirin anak gue""Lho kamu dah punya anak?"
"Udah umur setahun, Man"  Kemudian Nia memeluk saya dengan eratnya. Lalu dia mendongakkan kepalanya ke arah saya, lalu saya cium bibirnya lembut dia pun membalasnya tapi lama-kelamaan ciuman itu
berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Kemudian Nia memgang kemaluan saya yang masih terbuka dan meremas-remasnya sehingga secara otomatis 'adikku' langsung berdiri dan mengeras.Kemudian Nia menaiki tubuh saya lalu menjilati habis seluruh tubuh saya mulai dari mulut hingga ujung kaki."Ach.." desahku sejalan dengan jilatan di tubuhku.Kemudian Nia mengulum penisku terlihat jelas dari atas bagaimana penisku keluar masuk mulutnya yang mungil itu."Ah. sst.. enak Sayang terus sedot Sayang achh.." desahanku semakin mengeras.

Lalu kuputar tubuhku sehingga posisi 69 dengan Nia diatas tubuhku lalu aku menjilati vagina Nia dan kuisep klitoris Nia."Ahh.. enak Man terus Sayang, aku Sayang kamu achh.." desah Nia meninggi.Kemudian Nia memutar tubuhnya kembali dan dia memegang 'adikku' yang sudah siap tempur itu, dipaskannya ke liang
vagina setelah pas perlahan-lahan diturunkannya pantat Nia. Sehingga perlahan-lahan masuklah penis saya ke liang senggama Nia"Auw.. sst.. ohh.. geede banget sih punya kamu yang" lirih Nia.
"Punya kamu juga sempit banget Yang, enak.. ah.." kataku.Perlahan-lahan aku tekan terus penisku ke dalam vaginanya yang sempit itu. Akhirnya setelah amblas semuanya Nia mulai mengerakan pinggulnya naik turun sehingga membuat penis saya seperti disedot-sedot.Nia berada diatasku sekitar 15 menit sebelum akhirnya dia
mengerang."Ahh.. Sayang aku keluar Yang, ahh.." racaunya.

Setelah itu tubuh dia melemas dan memeluk aku namun karena aku sendiri juga mengejar puncak ku maka langsung kubalik tubuhnya tanpa melepas penisku yang ada di dalam vaginanya. Setelah aku berada diatasnya maka langsung kugenjot Nia dari atas terus menerus hampir kurang lebih 20 menit hingga akhirnya Nia
mengalami orgasme yang ketiga kali dalam waktu yang singkat ini."Ahh.. Sayang aku keluar lagi Sayang ahh.." Desah Nia."Kamu lama banget sih Sayang" desah Nia sambil terus menggoyangkan pinggulnya memutar.
"Ahh terus Sayang sstt enak Sayang terus.." racaunya."Iya aku juga enak Sayang terus Sayang ahh.. enak Sayang mentok banget ah.." racauku tak kalah hebatnya.

Akhirnya setelah aku menggenjot Nia selama kurang lebih 40 menit aku merasakan seperti ada yang mendesak ingin keluar dari bagian penisku."Sayang, aku mau keluar Sayang" "Mau di dalam atau diluar Sayang?" kataku.
"Bentar Sayang aku juga mau keluar lagi nih ahh.." desah Nia."Di dalem aja Sayang biar aku tambah puas" desah Nia lagi."Ahh.. sst.. Sayang aku keluar Sayang ahh.." racauku "Barengan Sayang aku juga sampai ah.. ahh.. oh.." desah Nia."Ahh.. Sayang aku keluar Sayang ahh.. sst.. ohh.." desahku."Aahh" menyemprotlah spermaku sebanyak 9 kali."Emmhh.." saat itu juga si Nia mengalami orgasme."Makasih ya Sayang" kata Nia sambil mencium bibirku mesra.

Setelah itu kami langsung membersihkan diri di kamar mandi dan didalam kamar mandi pun kami sempat 'main' lagi ketika kami saling membersihkan punya pasangan kami masing-masing tiba-tiba Nia jongkok dan mengulum punyaku kembali dan au dalam posisi berdidi mencoba menahan nikmatnya. Namun aku tidak tahan menahan gejolak yang ada maka aku duduk di ws dan Nia duduk di atasku dengan posisi menghadapku dan dia memasukkan kembali penisnya kedalam vaginanya."Bless.. ahh.. sst.. enak Sayang ahh.." racaunya mulai
menikmati permainan.

Namun setelah 15 menit aku merasa bosan dengan posisi seperti itu maka aku suruh memutar tubuhnya membelakangi aku dan aku angkat perlahan tanpa melepas penisku dan aku suruh Nia menungging dengan berpegangan pada tepian bak mandi dan ketika
dia menungging langsung aku genjot maju mundur sambil
meremas-remas buah dadanya yang mengayun-ayun."Ah.. Man aku mau keluar Man.." desahnya.
"Man aah..", terasa cairan orgasme Nia kembali membasahi penisku.Karena kondisi Nia yan lemas maka aku memutuskan untuk melepaskan penisku dan Nia melanjutkannya dengan mengulum penisku hingga akhirnya..
"Ni aku mau keluar Sayang.. ah..", Sambil kutekan dalam-dalam kepalanya ke arah penisku sehingga terlihat penisku amblas semua ke mulutnya yang mungil itu.

Dan ketika Nia menyedot penisku maka.. "Ah.. Ni.." akhirnya aku semprotkan seluruh spermaku ke mulut Nia dan aku lihat Nia menelan semua spermaku tanpa ada yang tumpah dari mulutnya bahkan dia membersihkan penisku dengan menjilati sisa-sisa seluruh sperma yang ada.

Setelah itu kami saling membersihkan tubuh kami masing-masing dan kami kembali ke kamar dengan tubuh yang sama-sama telanjang bulat dan kami tiduran sambil berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami dan kami saling mencium dan meraba serta ngobrol-ngobrol sejenak. Tanpa terasa kami sudah berada di rumahku hampir selama 4 jam. Maka akhirnya kami mengenakan baju kami masing-masing dan
setelah itu aku mengantarkan Nia pulang ke kostannya di daerah Blok M dan berjanji untuk saling menghubungi. Hingga saat ini diturunkan kami masih sering melakukan hubungan intim.

Minggu, 15 Februari 2015

Janda Tionghoa

Peristiwa itu bermula ketika aku berkeinginan untuk mencari tempat kos-kosan di Surabaya. Pada saat itu, pencarian tempat kost-kostan ternyata membuahkan hasil. Setelah aku menetap di tempat kost-kostan yang baru, aku berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja namanya Varia. Usia Varia saat itu baru menginjak 30 tahun dengan status janda Tionghoa beranak satu.

Perkenalanku semakin berlanjut. Pada saat itu, aku baru saja habis mandi sore. Aku melihat Varia sedang duduk-duduk di kamarnya sambil nonton TV. Kebetulan, kamarku dan kamarnya bersebelahan. Sehingga memudahkanku untuk mengetahui apa yang diperbuatnya di kamarnya.

Dengan hanya mengenakan handuk, aku mencoba menggoda Varia. Dengan terkejut ia lalu meladeni olok-olokanku. Aku semakin berani mengolok-oloknya. Akhirnya ia mengejarku. Aku pura-pura berusaha mengelak dan mencoba masuk ke kamarku. Eh.. ternyata dia tidak menghentikan niatnya untuk memukulku dan ikut masuk ke kamarku.

“Awas kau.. entar kuperkosa baru tahu..” gertaknya.

“Coba kalau berani..” tantangku penuh harap.



Aku menatap matanya, kulihat, ada kerinduan yang selama ini terpendam, oleh jamahan lelaki. Kemudian, tanpa dikomando ia menutup kamarku. Aku yang sebenarnya juga menahan gairah tidak membuang-buang kesempatan itu.

Aku meraih tangannya, Varia tidak menolak. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir. Ternyata, wanita cantik ini sangat agresif. Belum lagi aku mampu berbuat lebih banyak, ternyata ia menyambar handuk yang kukenakan. Ia terkejut ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri. Tanpa basa-basi, ia menyambar kejantananku serta meremas-remasnya.

“Oh.. ennaakk.. terussh..” desisanku ternyata mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh. Tiba-tiba ia berjongkok, serta melumat kepala kontolku.

“Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat..” Ia sangat mahir seperti tidak memberikan kesempatan kepada untuk berbuat tanya.

Dengan semangat, ia terus mengulum dan mengocok kontolku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulutnya terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.

“Oh.. aduhh..” teriakku kenikmatan.

Akhirnya hampir 10 menit aku merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari kontolku.

“Oh.. tahann.. sshh. Uh.. aku mau kkeluaar.. Oh..”

Dengan seketika muncratlah air maniku ke dalam mulutnya. Sambil terus mencok dan mengulum kepala kontolku, Varia berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa.

Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Varia tersenyum. Lalu aku mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidahnya terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.

Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Varia melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudaranya yang semakin bengkak.

“Ohh.. Teruss Ted.. Teruss..” desahnya.

Cerita BF - Kuhisap-hisap pentilnya yang mengeras, semnetara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya aku berhasil meraih belahan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulutnya. Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur. Tanpa dikomando, kusibakkan pahanya. Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal.

Dengan penuh nafsu, aku menciumi memeknya dan kujilati seluruh bibir kemaluannya.

“Oh.. teruss.. Ted.. Aduhh.. Nikmat..”

Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentitnya seperti ular cobra.

“Ted.. oh.. teruss sayangg.. Oh.. Hhh.”

Desis kenikmatan yang keluar dari mulutnya, semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan lidah dan sedotanku beraksi.

“Srucuup-srucuup.. oh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss..” teriakannya semakin merintih.

Tiba-tiba ia menekankan kepalaku ke memeknya, kuhisap kuat lubang memeknya. Ia mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari memeknya semakin banyak.

“Aduhh.. Akku.. keluuaarr.. Oh.. Oh.. Croot.. Croot.”

Ternyata Varia mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang ia lakukan kepadaku, aku juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari memeknya. Aku menelan semua cairan yang kelyuar dari memeknya. Terasa sedikit asin tapi nikmat.

Varia masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang basah. Bless..

“Oh.. enakk..”

Tanpa mengalami hambatan, kontolku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Varia.

“Oh.. Variaa.. sayang.. enakk.”

Batang kontolku sepeti dipilin-pilin. Varia yang mulai bergairah kembali terus menggoyangkan pinggulnya.

“Oh.. Ted.. Terus.. Sayang.. Mmhhss..”

Kontolku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit aku menindih Varia.. Lalu ia meminta agar aku berada di bawah.

“Kamu di bawah ya, sayang..” bisiknya penuh nikmat.

Aku hanya pasra. Tanpa melepaskan hujaman kontolku dari memeknya, kami merobah posisi. Dengan semangat menggelora, kontolku terus digoyangnya. Varia dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan kontolku ke liang memeknya.

“Oh.. Remas dadaku.. Sayaangg. Terus.. Oh.. Au.. Sayang enakk..” erangan kenikmatan terus memancar dari mulutnya.
“Oh.. Varia.. terus goyang sayang..” teriakku memancing nafsunya.

Benar saja. Kira-kira 15 menit kemudian goyang pinggulnya semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kuat ke arah dadaku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku agar kontolku menghujam lebih dalam.

“Tedii.. Ah.. aku.. Keluuaarr, sayang.. Oh..”

Ternyata Varia telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma.

Kemudian aku membalikkan tubuh Varia, sehingga posisinya di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku seperti irama goyang dangdut.

“Oh.. Varia.. Nikmatnya.. Aku keluuarr..”

Crott.. Crott.. Tttcrott.

Aku tidak kuat lagi mempertahankan sepermaku.. Dan langsung saja memenuhi liang vagina Varia.

“Oh.. Ted.. kau begitu perkasa.”

Telah lama aku menantikan hal ini. Ujarnya sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Varia memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas kontolku.

Kemudian, tanpa kukomando, Varia berusaha mencabut kontolku yang tampak mengkilat karena cairan spermaku dan cairan memeknya. Dengan posisi 69, kemudian ia meneduhi aku dan langsung mulutnya bergerak ke kepala kontolku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lobang memeknya. Varia terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala kontolku. Tangan kanannya terus mengocok-ngocok batang kontolku. Sesekali ia menghisap dengan keras lobang kontolku. Aku merasa nikmat dan geli.

“Ohh.. Varia.. Geli..” desahku lirih.

Namun Varia tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina varia membuatku bergairah kembali. Aku kemudian mengecup dan menjilati lobang memeknya. Kelentitnya yang berada di sebelah atas tidak pernah aku lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.

“Oh.. Ted.. nikmat.. ya.. Oh..” desisnya.

Varia menghentikan sejenak aksinya karena tidak kuat menahan kenikmatan yang kuberikan.

“Oh.. Terus.. Sss.” desahnya sembari kepalanya berdiri tegak.

Kini mememeknya memenuhi mulutku. Ia menggerak-gerakkan pinggulnya.

“Ohh.. Yaahh. Teruss.. Oh.. Ooohh” aku menyedot kuat lobang vaginanya.
“Ted.. Akukk ohh.. Keluuaarra.. Ssshhss..”

Cerita Panas - Ia menghentikan gerakannya, tapi aku terus menyedot-nyedot lobang memeknya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, kontolku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Varia merupakan wanita yang sangat pintar membahagiakan pasangannya.

Varia terus menghisap dan menyedoti kontolku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.

“Oh.. Varia.. Teruss.. Teruss..” rintihku menahan sejuta kenikmatan. Varia terus mempercepat gerakan kepalanya.
“Au.. Varia.. Aku.. Keluuarr.. Oh..”

Croott.. Croott.. Croot..

Maniku tumpah ke dalam mulutnya. Sementara varia seakan tidak merelakan setetespun air maniku meleleh keluar.

“Terimakasih sayang..” ucapku..

Aku merasa puas.. Ia mengecup bibirku.

“Ted.. mungkinkah selamanya kita bisa seperti ini. Aku sangat puas dengan pelayananmu. Aku tidak ingin perbuatan ini kau lakukan dengan wanita lain. Aku sangat puas. Biarlah aku saja yang menerima kepuasan ini.” Aku hanya terdiam.

Sejak saat itu, aku sering meniduri di kamarnya, selalu dalam keadaan telanjang bulat, terkadang dia juga tidur di dalam kamar kostku, tentu saja dengan mengendap-endap. Terkadang, kami tidur saling tumpang tindih, membentuk posisi 69, aku tertidur dengan menghirup aroma segar kemaluannya, sedangkan Varia mengulum penisku. Di kala pagi, penisku selalu ereksi, diemut-emutnya penisku yang ereksi itu, sementara aku dengan cueknya tetap tidur sambil menikmati oralnya, terkadang aku jilat kemaluannya karena gemas.

My lovely devi

Hai, namaku Felicia. Aku adalah murid salah satu SMU Swasta. Aku duduk di kelas satu dengan umur 16 tahun. Aku termasuk pintar di antara teman-temanku. Kata teman-temanku, aku termasuk cantik. Sebenarnya aku juga merasa begitu sih. Habis kalau aku lewat, banyak teman-teman cowok yang memandangiku dengan tatapan yang penuh gairah birahi. Aku juga mempunyai bentuk tubuh yang ideal. Aku cukup tinggi atau mungkin terlalu tinggi. Tinggiku 173 cm dengan berat badan 45 kg. Rambutku sebenarnya panjang namun baru-baru ini aku memotongnya hingga sebahu. Dengan penampilan baru ini, aku semakin menjadi perhatian teman-temanku. Dadaku tidak terlalu besar namun padat. Ukuran bra 32B. Kulitku putih mulus tanpa ada cacat. Aku sendiri sebenarnya mengagumi bentuk tubuhku ini. Aku termasuk aktif di sekolah. Itulah pula yang menyebabkanku populer. Pergaulanku pun menjadi luas. Sebenarnya di kelasku ada 5 orang yang juga cantik. Bahkan ada yang lebih menarik dariku. Ketika itu, aku sedang berjalan-jalan di mall dengan Devi. Devi adalah teman sekelasku yang termasuk dalam 5 orang cantik di kelas. Dia cantik dan manis. Devi sangat berbakat dalam bermain basket. Dia termasuk pemain inti. Apalagi tubuhnya yang tinggi menunjang kegiatan tersebut. Devi bahkan lebih populer dibandingkan denganku. Kulitnya tidak terlalu putih namun mulus. Rambutnya lebih pendek dari rambutku. Aku adalah teman baiknya. Kami sering berjalan-jalan bersama, seperti sekarang kami sedang menonton film Love Stink. Kami pun terpingkal-pingkal melihat aksi film itu yang konyol. Sering pula kami tertawa kecil melihat adegan-adegan yang agak porno. Selesai menonton, kami pun keluar dari bioskop. Jam Hello Kitty-ku sudah menunjukkan angka 8 ketika kami akan pulang dari mall. Aku meminjam HP Siemens Devi untuk menghubungi rumahku. Aku meminta orang tuaku untuk menjemputku. Namun ternyata mereka tidak dapat menjemputku. Setelah berunding, akhirnya diambil keputusan, aku menginap di rumah Devi. Hal itu bukan yang pertama bagiku. Akhirnya aku ikut Devi ke rumahnya. Rumahnya tidak terlalu besar namun sangat nyaman. Orang tua Devi sudah kenal baik denganku. Pulang dari mall, kami segera masuk ke kamar Devi. Kami ngobrol dengan bebasnya sampai kami diundang oleh orang tua Devi untuk makan. Seusai makan, kami mandi untuk membersihkan badan. Kami segera mengenakan pakaian tidur. Devi meminjamkan baju Hello Kitty warna pink dan celana pendek warna merah kepadaku. Devi sendiri mengenakan baju tidur kesukaannya yang berwarna biru.Kami membicarakan tentang film tadi. Kuperhatikan tubuhnya yang dibalut baju kesukaannya. Kadang-kadang aku iri dengan dirinya. Dia memang tidak pintar namun dia lebih populer dariku. Setelah lama kuperhatikan ternyata dia tidak mengenakan BH. Kemudian kupandangi bagian depan tubuhnya dan ternyata memang dadanya lancip. Terlihat samar-samar puting susunya. Aku memang belum pernah melihat tubuh Devi secara langsung. Devi tampaknya tidak menyadari sama sekali bahwa aku sedang mengamatinya. Kami terus membicarakannya sampai mengantuk. Dan akhirnya kami tidur. Kami tidur di satu ranjang karena ranjang Devi termasuk lebar. Tengah malam kurasakan ada seseorang yang meraba-raba tangan dan pahaku. Aku terbangun dan menemukan Devi sedang di atas tubuhku. Dia terlihat sekali sedang terangsang. Mungkin film yang tadi siang kami tonton telah membangkitkan imajinasinya. Menerima perlakuannya yang terus-menerus, akhirnya aku pun terangsang. Kubalas perlakuannya dengan mencium mulutnya yang mungil. Kubiarkan lidahku beradu dengan lidahnya di dalam mulut kami. Tanganku pun mulai menjelajah ke dalam balik bajunya. Kubuka bajunya dan kutemukan sepasang bukit kembar yang ternyata besar dan kenyal tanpa terbungkus oleh BH. Harus kuakui bahwa ternyata bentuk payudaranya lebih bagus dari milikku. Payudaranya telah menegang. Devi pun telah melepas bajuku dan kini dia sedang menciumi payudaraku. Aku mengeluarkan rintihan-rintihan kecil. Devi sangat ahli dalam melakukannya. Dia mencium perlahan dadaku, lalu memuntir-muntir puting susuku, menggigitnya perlahan. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Aku memang belum pernah melakukan hubungan seks dengan cowok apalagi dengan cewek. Bermasturbasi saja aku belum pernah. Aku pasrah saja terhadap arus kenikmatan yang diberikan Devi. Devi yang melihat ketidakberdayaanku pun menggencarkan serangannya. Sampai akhirnya Devi menghentikan ciumannya, dan mulai membuka celana tidurku. Lalu terlihatlah gundukan hitam di dalam celana dalamku. Devi membelai perlahan celana dalamku itu. Ketika belaiannya mengenai kemaluanku, kurasakan sensasi yang sungguh sangat luar biasa. Apalagi setelah itu Devi melepaskan celana dalamku dan membelainya tanpa dihalangi apapun. Tak ada kata yang mampu melukiskan betapa nikmatnya sensasi tersebut. Aku menggelinjang terus kenikmatan. Belaian itu semakin cepat dan cepat. Begitu ahlinya Devi melakukannya sampai-sampai aku lalu merasakan dorongan dari dalam tubuhku. Aku membusurkan badanku untuk menahan gejolak yang membara dalam diriku. Aku merasa lemas dan baru kusadari bahwa keringat telah membasahi permukaan kulitku. Devi membiarkanku merasakan orgasmeku yang pertama ini selama beberapa saat. Lalu Devi mendudukanku, membuka kedua pahaku dan menahannya dengan tangannya. Devi menjulurkan lidahnya untuk meraih kemaluanku di depan wajahnya. Aku mengerang kenikmatan. Namun Devi tak menghiraukannya. Ia terus menikmati kemaluanku. Lidahnya masuk ke dalam kemaluanku dan mencari-cari daging kecilku. Setelah menemukan G-Spot-ku, ia menjilatnya dan menghisap-hisapnya. Sungguh kacau perasaanku saat itu, tak dapat kukatakan betapa nekatnya perlakuan Devi itu. Tak lama kemudian, akhirnya aku kembali mengejang dan kemaluanku mengeluarkan cairan kenikmatan untuk yang kedua kalinya. Kali ini Devi terus melahap kemaluanku dan menelan semua cairan yang kukeluarkan. Rasanya sungguh aneh namun nikmat. Lalu, tangan Devi kembali bermain, dimasukkannya sebuah jari ke dalam milikku. Kurasakan sakit yang melanda kemaluanku. Jari itu keluar masuk perlahan, namun temponya bertambah cepat. Ketika Devi menambah jumlah jarinya yang masuk, kurasakan kemaluanku berdenyut-denyut menjepit kedua jari Devi. Aku sunguh-sungguh terbius oleh kenikmatannya kali ini. Nafasku semakin memburu, beradu dengan kecepatan tangannya. Nikmatnya membuatku tak dapat bertahan lama. Akhirnya aku keluar lagi untuk yang ketiga kalinya. Kali ini, Devi melahap semua cairanku dan mencium bibirku untuk membagi cairan kenikmatan tersebut. Setelah membantuku mengalami tiga kali orgasme, Devi memintaku untuk memuaskannya. Kuarahkan ciumanku ke arah dadanya dan kuperlakukan dadanya seperti apa yang ia lakukan padaku. Lalu sambil menciumi dadanya, kujelajahkan tanganku ke daerah bawah tubuhnya. Lalu tanpa membuka celananya, kutempatkan tanganku di tengah-tengah pahanya. Kurasakan celananya sudah basah oleh cairan. Kugesek-gesekkan tanganku di sana. Lalu kulepaskan celananya dan kuciumi kemaluannya. Devi terus mengerang tanpa henti. Dia terus menarik rambutku. Aku berusaha menemukan klistorisnya. Kuhisap-hisap klistorisnya ketika kutemukan daging kecil itu. Kugigit-gigit kecil tonjolan itu. Ketika sedang enak-enaknya menghisap, tiba-tiba badan Devi mengejang. Wajahku yang berada di antara pahanya pun tersembur cairan itu. Kulahap semua cairan itu dan kumasukkan ke mulut Devi melalui French Kiss. Kubuka kedua bibir kemaluan Devi yang basah itu lalu dimasukkan jari tengahku ke dalamnya. Kumasukkan perlahan karena takut Devi kesakitan. Benar saja, Devi sudah kesakitan. Jariku serasa dijepit oleh kemaluannya. Aku dapat merasakan denyut kemaluannya. Kugerakan keluar masuk dengan perlahan dahulu, namun ketika Devi sudah tidak merasa kesakitan, kupercepat tempo permainan. Lalu Devi menyuruhku ikut memasukkan jari telunjukku. Walaupun sudah dua jariku berada di dalam kemaluannya, Devi tak kunjung mendapatkan klimaksnya. Padahal aku sudah melakukannya dengan kecepatan yang tinggi. Devi kulihat sudah sangat tersiksa dengan keadaannya. Wajah Devi saat itu tak mungkin kulupakan. Wajahnya sungguh sangat berbeda dengan wajahnya yang biasa. Wajahnya sungguh merangsang. (Mungkin bila ada cowok yang melihatnya mungkin penisnya sudah tegang maksimal). Setelah sekian lama, akhirnya Devi mencapai klimaksnya juga. Cairan yang keluar dari kemaluannya sangat banyak. Kali ini aku melahapnya semua. Kami duduk saling menatap. Kulihat tubuh Devi berkeringat di bagian dadanya. Rupanya dia sangat capai. Semakin kuamati tubuhnya, semakin ada perasaan aneh menjalar di hatiku. Aku masih belum sadar apa yang terjadi padaku saat itu. Sekian lama hening, Devi mengambilkan handuk untukku. Aku sungguh senang dengan sikapnya itu apalagi Devi sendiri yang mengusap keringat di tubuhku. Aku merasa aman, dilindungi. Setelah itu, Devi membelai rambutku dan aku pun bersandar pada dadanya. Tak terasa, kami pun tertidur sampai pagi. Pagi harinya, ketika aku bangun, kulihat Devi masih tertidur lelap di sampingku. Wajahnya menunjukkan perasaan puas dan senang. Aku berusaha keluar dari tempat tidur perlahan karena tak ingin membangunkan Devi. Aku pakaikan selimut ke tubuhnya yang polos itu. Lalu aku segera mengenakan pakaianku dan keluar untuk menemui kedua orang tuanya. Ternyata kedua orang tuanya pergi menginap ke Bandungan kemarin malam. Aku merasa lega, karena aku sempat takut perbuatanku tadi malam diketahui oleh orang tua Devi. Tadi malam jeritanku dan Devi cukup keras untuk didengar orang rumah. Aku segera masuk kembali ke kamar, namun aku tidak menemukan Devi di ranjang. Pakaian Devi yang terjatuh di lantai pun sudah tidak berada di tempatnya. Lalu aku mencarinya ke halaman belakang rumah yang terdapat ring basket. Di sanalah Devi berada. Rupanya Devi sedang berolahraga. Devi memanggilku untuk berolahraga bersamanya, namun aku menolaknya. Aku hanya memandangi Devi dan tubuhnya dari pinggir lapangan. Tak lama kemudian, kami pun masuk kembali ke dalam rumah. Aku ingin mandi terlebih dahulu sebelum makan, maka kukatakan pada Devi agar dia makan dahulu. Devi pun mengiyakan. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi mewah di kamar Devi. Kamar mandi itu sungguh mewah. Dindingnya berwarna krem, bath up-nya luas, cukup untuk menampung 3 orang. Aku ingin sekali memiliki ruang mandi seperti itu. Aku segera melepas seluruh pakaianku dan bersiap untuk mandi. Kunyalakan air panas di bath up. Aku ingin sekali berendam di air panas. Sambil menunggu air panas, aku berdiri memandangi cermin di depanku. Tanpa sadar, kupegang bagian tubuh yang kubanggakan ini. Kucoba membandingkannya dengan milik Devi. Aku menjadi teringat akan kejadian tadi malam. Tubuh mulus Devi, sentuhan tangan Devi, permainan lidah Devi. Mengingat semua hal itu, membuat tubuhku merasa panas. Kucoba mengalihkan perhatianku dengan merendam tubuhku di bath up yang sudah terisi separuhnya. Kumatikan aliran air, sehingga kini tidak ada bunyi apapun di kamar mandi tersebut, kecuali bunyi air yang kutepuk-tepuk. Aku segera melupakan masalah tadi. Tiba-tiba kudengar bunyi derit pintu dibuka. Ternyata aku lupa mengunci pintu kamar mandi. Aku segera tahu siapa yang membuka pintu, karena ada suara lembut yang terucap dari si pembuka pintu. Devi rupanya menanyakan apakah ia boleh mandi bersamaku. Entah sadar atau tidak, aku menganggukan kepalaku. Devi mulai melepas pakaiannya. Mulai dari bajunya. Gaya Devi ketika melepas bajunya rupanya mampu menimbulkan gejolak di hatiku. Tubuh bagian atas Devi kini sudah tidak berbalut apapun. Lalu tangannya mulai merambah perutnya terus ke bawah. Diturunkannya perlahan celananya dan tampaklah kini gundukan hitam di tengah-tengah selakangannya. Kini Devi berjalan ke arahku dan mulai memasuki bath up bersamaku. Dia mengambil tempat tepat di depanku. Devi menyelonjorkan kakinya dan mulai menikmati nikmatnya air panas. Devi sekali-kali menatap tubuhku dengan pandangan yang berbeda dari tatapannya yang biasa. Tak jarang kami bertemu pandang, namun Devi cuek-cuek saja. Aku sebenarnya senang-senang saja dipandangi oleh Devi karena aku juga senang bisa melihat tubuhnya. Timbul pikiran di otakku, untuk merangsang Devi. Aku sangat ingin menikmati kenikmatan seperti yang dia berikan tadi malam. Aku mulai mencoba gerakan-gerakan yang dapat merangsangnya. Kupegang-pegang dadaku dan mendesah halus. Lalu kulebarkan kedua kakiku. Devi menangkap isyaratku. Dia mendekatiku dan mencium bibirku. Lumatan bibirnya yang hebat sungguh membuatku tak ingin kalah. Kucoba mengimbangi ciuman Devi. Lidah kami saling beradu di dalam mulutku. Tak hanya itu, tangannya sudah mulai merambah ke dadaku. Aku juga memainkan kedua bukit kembarnya. Lalu aku menurunkan ciumanku ke lehernya. Devi mendesah-desah kecil. Ketika ciumanku sampai di dadanya, kurasakan nafas Devi sudah tidak beraturan. Kujilati seluruh bagian payudaranya, kupermainkan putingnya dengan lidahku. Payudara Devi sudah mulai mengeras, bentuknya pun menjadi lebih indah dan kini payudaranya sudah mengacung tegak. Aku lebih bernafsu untuk merasakannya. Kuturunkan lagi ciumanku ke bagian kemaluannya. Kujilati bibir kemaluan Devi, lalu kumasukkan lidahku ke bagian dalamnya. Kucari-cari klistorisnya di setiap dinding kemaluan yang terkena lidahku. Sampai akhirnya aku menemukan apa yang kucari. Kuhisap-hisap daging kecil itu dan kugigit-gigit kecil. Nafas Devi kian memburu. Sampai suatu saat, pahanya menjepit kepalaku dan badannya mengejang. Desahan Devi mencapai puncaknya. Cairan hangat tersembur dari dalam kemaluannya. Kutelan semua cairan tersebut. Devi mengajakku untuk bermain di lantai. (Lantai kamar mandi Devi tidak terlalu keras) Devi terlentang di lantai dan aku di atasnya. Kini aku menciumi kemaluan Devi, dan Devi juga melakukan hal yang sama denganku. Devi sangat ahli melakukannya. Kombinasi jilatan, hisapan, gigitan Devi mampu membuatku keluar terlebih dahulu. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Cairan hangat meleleh dari kemaluanku. Devi menghisapnya lalu memberikan kepadaku dengan ciuman. Kami pun kembali pada posisi semula. Kali ini kami saling memasukkan dua buah jari. Kami mendesah panjang ketika lubang kemaluan kami diisi dengan jari-jari. Tempo permainan berjalan semakin cepat dan cepat. Kembali, aku keluar terlebih dahulu. Aku memang sangat mudah terangsang. Setelah aku keluar, Devi pun menyusul. Aku sungguh merasakan lelah. Aku menghentikan tusukanku pada Devi. Namun Devi masih terus memainkan jarinya. Kali ini Devi menusukkan jarinya ke lubang anusku. Aku merasakan sakit yang luar biasa, ketika jari tengah Devi menembus perlahan. Devi pun menggerakkannya perlahan-lahan saja. Anehnya walaupun sakit, aku justru mendapatkan rasa nikmat. Aku tak ingin Devi menghentikan perlakuannya itu. Cukup lama waktu yang diperlukan Devi untuk membuatku mendapatkan orgasme. Namun akhirnya aku mencapainya juga. Kami beristirahat sebentar. Kemudian, Devi mengaitkan kakinya dengan kakiku sehingga kemaluan kami saling menyentuh. Lalu Devi menggesek-gesekkannya. Cara Devi ini berhasil membangkitkan gairahku sekali lagi. Aku pun ikut menggesek-gesekkannya. Desahan ikut mengiringi kecepatan kami. Bunyi permainan kami mampu disamarkan bunyi kran air yang tadi sempat dinyalakan Devi. Tak lama, kami keluar bersama. Ini sungguh nikmat. Perasaanku menjadi sangat nyaman, damai dan puas. Setelah itu, Devi membawaku ke bath up dan memandikanku. Aku semakin sayang kepada Devi. Devi mengajariku segalanya mengenai seks. Devi juga menceritakan bahwa sebelum berhubungan denganku, dia juga pernah melakukannya dengan 2 cewek untuk beberapa kali. Pengalaman itulah yang membuat Devi mengerti tehnik dan cara untuk memuaskanku. Sejak saat itu, kami lebih sering terlihat bersama. Di sekolah, di mall, dll. Bisa dikatakan kami berpacaran. Kami sering mengulangi perbuatan itu di rumahku, di rumahnya, maupun di sekolah. Aku sangat menyukai tubuh Devi dalam seragam sekolah. Apalagi seragam sekolahku tipis. Biasanya kalau di kelas (kami duduk semeja), Devi memegang tanganku, meraba pahaku dan perbuatan lain yang mampu merangsangku. Aku pun biasanya menanggapinya. Bagiku Devi adalah kekasih yang mampu memberikan rasa aman pada diriku. TAMAT

diah dan suu mungilnya

Aku bukanlah orang cerdas, tetapi bila ada keinginan, aku berusaha mengerjakannya setekun mungkin. Ketekunan inilah yang membuat nilai sekolahku cukup baik. Dan seperti biasanya 20 siswa terbaik kelas 2 SMP akan ikut seleksi untuk pelajar teladan tingkat kabupaten. Nanti di kelas 3 Pelajar Teladan tingkat kabupaten akan ikut kontes pelajar teladan tingkat propinsi. Aku termasuk siswa kelas 2 yang ikut seleksi pelajar teladan tingkat kabupaten mewakili sekolahku bersama teman siswi bernama Diah, yang kebetulan juga teman sekelasku.

Aku baru mengenal Diah dikelas 2 SMP karena di kelas satu kami beda kelas. Keakraban kami dimulai ketika pelajaran seni suara dan harus menyanyi di depan kelas. Semua siswa menyanyikan lagu2 pop zaman itu. Hanya Diah dan aku yang menyanyikan lagu perjuangan nasional. Karena merasa ‘senasib’ sejak itulah Diah kulihat mulai memperhatikanku, dan senang bila bisa satu group belajar denganku. Tapi sejauh ini kami tidak akrab karena sama2 termasuk anak yang tidak banyak cakap.

Mewakili sekolah untuk seleksi pelajar teladan ini, kami jadi sering bersama. Ikut lomba berbagai jenis mata pelajaran dan ketrampilan diberbagai tempat di kota Tasik.
“Penat juga ya.. nonton yuk..” aku mengajak Diah setelah sore itu kami mengikuti lomba pidato di aula kantor bupati. 
Diah kaget, karena tumben aku ngajak dia.”Ayo, nonton apa?”
Aku kaget juga, padahal aku ngajak hanya basa basi. Lagian dia cewek pendiam, kuper kalau kata anak sekarang.
“Apa saja, yang penting ke bioskop dulu. Nanti lihat film apa yang lagi main”, jawabku ngasal.

Akhirnya kami pergi bioskop. Ternyata jam mainnya sudah terlewat, baru main lagi jam 6.30 atau jam 7.00. Itupun film yang labelnya 17 tahun keatas. Aku senang karena tidak jadi nonton.
“Kita pulang dulu, ganti baju, terus nanti kesini lagi nonton jam 6.00”, kata Diah. Aku terkejut.
“Nanti nonton film yang mana?”, tanyanya
“Yang itu saja ya”, dia menunjuk film Blue Lagoon yang dibintangi Brooke Shields. Film yang diputar di bioskop itu memang bukan film2 baru.
Aku benar2 kaget atas responnya dan hanya bisa berkata “Oke..”
“Sampai ketemu”, ia berlalu dengan ceria.

Malam itu kami bertemu di bioskop, dan Diah tampak cantik. Aku berharap bahwa penjual tiket atau penjaga bioskop akan melarang kami karena usia kami yg masih 14 tahun. Tetapi ternyata kami lolos dan boleh nonton film Blue Lagoon. Alasannya karena malam itu penontonnya sedikit.
Film itu cukup membuat darah muda kami bergolak. Dibioskop itu aku genggam tangannya dan dibalas erat. Karena duduk paling belakang, aku berani meraih pundaknya menyandarkan kepalanya di pundakku. Semakin lama, aku terdorong utk mendekapnya. Aku mulai mencium pipinya. Lalu mencium bibirnya. Pada saat berciuman terdengar suara dada dan desah napas kami berpacu. Kami tak peduli lagi dengan jalan cerita filmnya
Gejolak terus membara. Tanganku mulai meraba dadanya dan meremas2. Sambil terus berciuman
Semakin membara, tangan menyusup ke celah2 kancing baju, menyelinap ke balik bh. Terasa kulit halus susunya. Terasa juga degup jantungnya. Kupaksa terus menyusup dan tertangkaplah puting susu.
Ketika sedang dimabuk gairah, tiba2 lampu bioskop nyala. Rupanya film sudah selesai. Dengan napas terengah2 kami keluar bioskop. 

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan diri menepi ketempat sepi dan berniat mengumbar gelora lagi. Tetapi karena tempat agak rame, kami cuma bisa berciuman sebentar. Dan akhirnya berpisah didepan rumahnya dengan pengalaman yang sulit dipercaya tapi sangat mengesankan. Sejak malam itu, hubungan kami berubah. Kadang canggung kadang akrab. Kebersamaan dan keakraban kami dianggap biasa oleh teman2 karena kami masih harus menuntaskan lomba pelajar teladan. 

Dua minggu kemudian, saat sesi latihan matematika siang hari, guru pembimbing berhalangan dan hanya member soal2 utk diselesaikan oleh kami berdua, utk diperiksa besok paginya. Kami memutuskan utk melanjutkan di rumah Diah. Baru mengerjakan soal beberapa menit, orangtua Diah pamit ke acara keluarga.
Tahu bahwa kami hanya tinggal berdua di rumah itu, pikiran dan emosi kami mulai kacau. Kenangan percumbuan di bioskop membangkitkan hasrat kami, dan ini ada kesempatan. Daripada saling menunggu, aku ambil inisiatif mendekati Diah dan mencium bibirnya dan dibalas hangat. Aku mendorong tubuhnya sehingga terlentang di lantai. Lalu aku merangkak ke atas tubuhnya dan menindihnya. Diah kaget tapi terlihat pasrah. Ini adalah posisi yang mendebarkan bagi kami. Lalu kucium lagi bibirnya.

Kuangkat wajahku, dan kutekan2 bokong ke selangkangannya. Dia terus menatapku. Berhenti sejenak dan kubuka kancing bajunya, sehingga tampaklah bagian muka tubuhnya yg hanya tertutup bh. Sesaat aku menikmati belahan dada dan gundukan susu yang tertutup bh krem. Kubelai tubuh mulusnya dan belahan dadanya. Kuciumi belahan dada itu pelan2, kudengar jantungnya mulai berdetak kencang.

Setelah puas, kusingkap bhnya ke atas sehingga nampaklah dua bukit susu dan putingnya. Secara reflek Diah menutupi susunya dengan tangannya. Pelan2 tanpa memaksa aku lepaskan tangannya dari susu. Dia tidak melawan, sehingga bukit susu itu tampak kembali. Dibandingkan dengan susu wanita dewasa yang pertama kali kulihat, susu Ceu Kokom, susu Diah masih mungil. Putingnya pun kecil berwarna coklat.

Setelah puas memandang, kubelai2 kedua bukit itu, dan kuremas2. Lalu kuciumi kedua bukit itu, kuhisap putingnya, dan kujilati. Bergantian yang kiri dan yang kanan. Berulang2.
“Mmhhh..”, Diah menahan erangannya
Tanganku menyelinap kebalik roknya. Mengusap2 paha Diah. Lalu mencoba menuju selangkangannya.
Tiba2 terdengar suara motor. Orang tua Diah sudah kembali! Waduh cepat banget baliknya.
Bergegas kami bangkit. Aku kembali menghadapi soal2 yg harus dikerjakan. Sedangkan Diah segera berlari ke kamar mandi dan menutup pintu utk merapikan kembali bh dan bajunya.

“Lho koq sendiri. Diah mana?” ibunya bertanya.
Byurr, terdengar suara siraman dari kamar mandi. Tak lama kemudian Diah keluar dan menyalami ibu bapaknya. Sambil nyengir Diah bilang, “sakit perut nih”. Dan orangtuanya mengangguk2.
Lalu kami teruskan penyelesaian soal2 hingga malam.

Sejak itu, setiap ada kesempatan kecil, ngumpet dibalik tembok atau di kebun, aku sering minta nyusu ke Diah. Cukup buka kancing baju, singkap bh, lalu kuhisap susunya. Kalau kesempatannya sempit, paling2 cuma meraba2 dadanya. 

Namun kesenangan ini hanya bertahan sebentar, karena dikelas 3 keluarga Diah pindah tugas ke Samarinda.