ABG Lagi Ngesek di telephone
Senin, 22 September 2014
Imel, Objek Foto Telanjang
Pada suatu siang saat aku sedang hunting foto Mei menelponku supaya
aku mampir ke kantornya krn ada sesuatu yg hendak dibicarakan mengenai
program office-nya, dan aku pun langsung meluncur kesana menemuinya.
Sesampainya di kantor Mei kami langsung membicarakan pekerjaan kami di
ruangan dia.
Selang beberapa saat datang Imel sambil membawa bungkusan.
“Eh…, ada mas Anto.. Kebetulan nih, aku bawa burger.. Kita lunch sekalian yuk..” kata Imel.
“Ah, aku sudah makan kok barusan..” jawabku basa-basi.
“Gak apa2, mas.. Temenin ci Imel tuh, kebetulan aku ada janji sama client nih..” sahut Mei.
“Oke deh kalo begitu..” jawabku.
“Kita makan di atas aja yuk, mas.. Sambil liat ruang senam yg baru..” ajal Imel.
“Atas mau dibuat sanggar ya?” tanyaku sekenanya.
“Nggak kok, mas.. Tu ci Imel pengen punya ruang senam pribadi aja..” sahut Mei.
“Oooo, gitu..” jawabku sambil manggut2.
“Udah sana ke atas temenin ci Imel, kelaparan tuh..!” kata Mei.
“Ha..ha..ha.. Ayuk, mas..! See U Mei..!” sahut Imel sambil keluar ruangan diikuti aku.
Kami naik ke lantai atas dan masuk ke sebuah ruangan berukuran kira2 8X6m. Lantainya karpet abu2 dan temboknya dilapisi bahan peredam warna hitam. Ruangan itu kosong, hanya ada satu meja kerja & laptop di pojok, sofa panjang dgn satu meja di depannya, dan lemari kecil disamping meja kerja dgn seperangkat home-theatre di atasnya. Sebuah kaca yg besar terpasang di salah satu sisi dinding, ukurannya hampir memenuhi satu sisi dindingnya. Beberapa lampu dinding tampak terpasang dan di langit2 terdapat 6 lampu sorot kecil. Indah sekali, batinku sambil melihat sekeliling ruangan.
“Silahkan duduk, mas.. Aku setel musik dulu” kata Imel sambil menyalakan CD dan alunan piano Richard Clayderman mulai terdengar sayup.
“Suka lagu2 gini mas?” kata Imel sambil membuka bungkusan burgernya dan menyiapkan untuk kami berdua.
“Suka.. Apalagi ndengerin sambil cari inspirasi..” jawabku sambil meletakkan tas kameraku.
“Wah, suka fotografi ya..?” tanya Imel.
“Hobi aja sih, gak buat profesi. Kalo ada yg pake sih ga nolak.. Hehehe..” jawabku sambil makan.
“Hobi kalo menghasilkan kan bagus tuh..” kata Imel sambil ikut makan.
Kami pun makan sambil ngobrol kesana-kemari, bercanda dan kadang main tebak2an. Setelah selesai makan Imel segera membersihkan sisa2 dan bungkus makanan kami.
Mendadak dia bertanya kepadaku “Mas, aku kasih job foto mau?”
“Emmm…, gimana ya? Job foto gimana? Kalo acara2 resmi atau wedding aku belum pernah sih..” jawabku ragu.
“Foto aku..! Aku ingin difoto sendiri, privat..!” kata Imel.
“Maksudnya kamu mau difoto seperti model gitu..?” tanyaku.
“Iya, tapi khusus buat aku pribadi lho.. Berapa harganya, mas..?” balas Imel.
Wah, aku belum pernah dapat job foto model gini, batinku bingung.
“Gampang soal itu deh.. Kayak sama siapa aja, lagian buat eksperimen aku juga..” jawabku sekenanya.
“Bener nih..? Kalo iya, kita mulai aja..!” kata Imel.
“Sekarang? Lokasinya mau dimana?” tanyaku.
“Disini aja, kira2 bagus gak suasananya? Kalo diluar berarti harus cari lokasi dulu deh..” kata Imel.
Aku melihat sekeliling ruangan. Tampaknya layak juga untuk foto session. Dinding, lampu ruang yg bisa diatur, suasana, semua oke sih.
“Oke, bisa kok disini kalo mau..” kataku.
“Siiipp…! Sebentar, aku make-up dan cari baju dulu ya..” kata Imel sambil keluar ruangan.
Aku segera menyiapkan kamera SLR-ku dan perlengkapannya, lalu mengambil sample seting pencahayaan disitu (mirip profesional? Hahaha..!)
Tak beberapa lama Imel masuk kembali, kali ini dia tampak lebih cantik dengan dandanannya. Dia memakai celana jeans pendek sekali dan t-shirt besar warna putih. Pahanya yang mulus semakin kelihatan jelas dan rambutnya yang bergelombang sebahu dibiarkan terurai. Pundaknya yg putih nampak terbuka sebagian karena t-shirtnya yg lebar itu. Tidak nampak adanya tali BH membuatku semakin penasaran. Pikiranku mulai melayang kemana-mana nih..
“Kok melamun sih…? Gimana penampilanku?” kata Imel membuyarkan pikiranku.
“eh.. mmm.. Bagus kok..” jawabku gugup.
“Keliatan sexy gak, mas..?”
“Sexy kok, kamu juga keliatan cakep..” jawabku polos.
“Ihh… Mas Anto jangan ngeledek, ah..”
“Bener kok, Mel.. You’re look so beautiful & sexy..!” jawabku.
“Kita mulai aja ya..” ajak Imel sambil pasang gaya.
“Kita ambil sample dulu ya..” jawabku sambil mulai jepret dia beberapa kali.
Setelah sepakat dengan hasilnya, kami melanjutkan sesi foto kami. Imel nampak luwes dalam bergaya.
Dalam beberapa pose dia nampak ingin tampil sexy dengan menurunkan belahan pundaknya, membuatku makin penasaran saja.
Akhirnya aku pun berkomentar juga “Yang lebih menantang dong, Mel…”
“Oke…” jawab Imel.
Kemudian dia memasukkan tangan ke dalam t-shirtnya lalu melempar sesuatu ke lantai. Wow..! itu tadi ternyata BH tanpa talinya, Imel sekarang tdk pakai BH. Aku kembali melihatnya, tambah kelihatan sexy karena putingnya kelihatan menonjol dibalik t-shirtnya.
“Ready..?” tanyaku.
“Oke..” jawab Imel.
Imel mulai berpose lagi, kali ini semakin berani. Dia mulai melorotkan t-shirtnya sehingga nyaris kelihatan payudaranya, belum posenya yg membuat laki2 bergetar.
Tak berapa lama Imel membuka retsleting celananya sehingga CD-nya yg berwarna merah kelihatan. Dia terus bergaya dengan pose yang semakin menantang.
“T-shirtnya buka aja, Mel..” kataku tanpa sadar.
“Malu, ah mas..!” jawab Imel.
“Gak apa2.. kan ini cuma buat pribadi aja…” kataku.
“Malu sama mas Anto, tau..!” kata Imel.
“Gak apa2 kok.. Kayak sama siapa aja..” jawabku semakin berani.
“Oke lah..” jawab Imel sambil membuka t-shirtnya sambil membelakangiku.
“Ok, pose gitu ya.. Muka noleh ke kamera dong..” kataku.
Aku ambil gambarnya beberapa kali dalam pose itu.
“Hadap samping, Mel..” kataku.
Imel pun berpose menghadap samping dengan tangan menutupi dadanya dan wajah ke kamera. Setelah beberapa kali jepretan, aku memintanya menghadap kamera. Imel pun menurut dengan tangan tetap di dada. Uuhh… Membuat semakin penasaran nih, batinku.
“Jangan ditutupi dong, Mel..” kataku.
Imel tidak menjawab tapi langsung berpose dengan berkacak pinggang. Payudaranya yang tidak terlalu besar tapi kencang dan bagus bentuknya dengan puting menantang langsung kelihatan. Aku sempat terpana melihat pemandangan itu, betul2 topless.
“Udah, jangan melongo gitu mas..! Katanya suruh kelihatan..” kata Imel sambil tersenyum.
“Ehh… i..i..iya..” jawabku gugup sambil siap untuk memotret. Kurasakan adik kecilku mulai mengeras juga. Wah, gawat nih.., batinku.
Setelah beberapa jepretan kami lalu beristirahat dan Imel mengenakan t-shirtnya lagi. Kami melihat hasil jepretanku di kamera sambil duduk di lantai karpet.
“Kurang jelas mas, kecil2 banget..” kata Imel.
“Liat pake laptop aja, ntar aku sambungin..” jawabku.
Imel berdiri mengambil laptop di meja, langsung aku sambung ke kamera dan aku transfer foto2 tadi.
Kami melhat hasil dari awal sambil saling berkomentar hasilnya. Sampai pada foto topless Imel terdiam sambil mengamati satu persatu, aku pura2 cuek aja.
“Mas, foto lagi yuk..” mendadak Imel berkata padaku.
“Oke…” jawabku.
“Tapi….” kata Imel sambil menatapku, ada keraguan di mata dan nada bicaranya.
“Kenapa, Mel..?” tanyaku.
“Aku mau difoto naked, telanjang..! Tapi yang kelihatan art-nya gitu.. Kira2 gimana, mas..?” jawab Imel.
Aku sempat kaget, bingung, dan mungkin girang campur aduk jadi satu.
“Eeee… bisa kok.. Lagian kamu punya tubuh yang bagus, pasti ntar keliatan indah hasilnya..” jawabku sekenanya.
“Ah.. Mulai tuh gombalnya…” kata Imel tersipu.
“Suer… Bener kok.. Kamu cakep, punya body bagus, mulus.. Kurang apalagi coba..?” kataku sambil berharap mudah2an dia jadi difoto.
“Oke lah… Ayuk, kita mulai..” kata Imel sambli berdiri. Yess..!! Aku bersorak dalam hati.
Imel mulai melepas t-shirt, celana pendeknya, lalu CD-nya sambil membelakangiku. Aku langsung mengambil gambarnya dari posisi belakang sambil mengarahkan gayanya. Imel menurut saja dengan arahanku dari mulai menghadap samping sampai ke kamera tapi dengan pose tangan tetap menutupi dada dan bagian bawahnya. Imel nampak enjoy dengan posenya yg semakin berani. Adik kecilku kembali terasa tegang, tapi tidak kuhiraukan karena asyik memotret.
“Open semua aja, Mel.. Nanggung..” kataku nekat. Imel kembali tersenyum dan perlahan melepas kedua tangannya dari dada dan bawahnya. Wow..! Perfect..!
Body Imel proporsional walaupun bisa dibilang agak kurus. Payudaranya tidak terlalu besar tapi bagus bentuknya, pantatnya pun sedang, jembinya kelihatan tipis dan rapi. Aku masih tertegun melihat pemandangan itu ketika Imel berkata “Tuh, kan.. Malah melongo.. terusin gak nih..?!”
“i..i..iya.. Terusin.. Habisnya kamu perfect, Mel..” jawabku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Lalu kami mulai lagi sesi pemotretannya. Kali ini Imel benar2 pose telanjang. Dia nampak enjoy dengan posenya, bahkan semakin lama semakin berani dan menantang. Kulihat sekilas dia merasa horny juga. Aku pun jadi semakin berani mengambil gambar bagian2 vitalnya dari dekat dan berbagai posisi. Adik kecilku terasa semakin berontak tapi aku tak peduli sambil terus mengambil gambar Imel.
Setelah berapa puluh jepretan kami pun kembali istirahat duduk di lantai sambil melihat hasil sesi kami. Kali ini Imel tidak langsung mengenakan bajunya, dia hanya menutup dadanya dengan t-shirtnya. Aku disampingnya dengan perasaan tidak karuan. Bagaimana tidak? Ada mahluk manis dan sempurna telanjang bulat disebelahku!
Satu persatu dia mengamati fotonya di laptop dengan serius, seakan sedang menilai bentuk tubuhnya sendiri.
“Sempurna, Mel..” kataku tanpa sengaja terlepas.
“Ah, mas bisa aja.. Biasa aja kaleee..” kata Imel sambil mencubit pahaku.
“Yakin, Mel.. Ga bohong kok..” jawabku.
“iihhhhh, genit ah..!!” kata Imel merajuk sambil memukuli pahaku.
“Kamu tuh yg jadi genit kalo gini.. Cewek genit kan sukanya gitu..” jawabku.
“Tuhhhh kan… Malah ngeledek, awas lho..” Kata Imel sambil memukuli pundakku dengan tangan satu karena satunya memegangi t-shirt di dadanya.
Aku tertawa sambil memegang tangan yg memukuliku. Tanpa sadar tangan satunya berusaha memukulku juga sehingga t-shirtnya terlepas, aku langsung terdiam melihat payudaranya. Melihatku terdiam Imel langsung sadar dan segera melepas tangannya dan menutupi dadanya sambil tersipu melihatku.Aku menatap wajahnya yg tersipu itu, Imel nampaknya jadi salah tingkah dan terdiam menatapku juga.
Perlahan aku memegang kedua tangan yg menutupi dadanya lalu kulepas dari dadanya. Imel diam saja sambil kami bertatapan tapi wajah kami semakin mendekat entah siapa yg duluan. Lalu kukecup bibir tipisnya, dia diam saja sambil memejamkan matanya. Kali ini kucium bibirnya dan dia mulai membalas ciumanku, akhirnya bibir kami saling bertaut. Tak berapa lama Imel melepas tangannya dari peganganku dan langsung memeluk leher serta kepalaku. Ciuman bibirnya bertambah ganas, nafasnya pun jadi semakin cepat. Hmmm.. Imel mulai naik nih.., batinku. kami pun saling berpelukan sambil saling bermain mulut dan lidah.
Tanganku perlahan mulai gerilya di dada Imel. Kuraba dan kuelus payudaranya sambil sesekali memainkan putingnya, kadang kuremas perlahan. Imel semakin ganas menciumku dan semakin erat memelukku. Kemudian perlahan kurebahkan tubuhnya di lantai karpet sambil kami tetap saling berpagut.
Dengan posisi Imel yang rebah semakin memudahkan tanganku untuk menjelajahi tubuh mulusnya. Sambil terus berpagut bibir tanganku mulai memainkan payudaranya, kanan kiri bergantian. Kuremas perlahan dan kumainkan putingnya yg makin mengeras.
Lalu kulepas bibirku kemudian mulut dan lidahku mulai menjelajahi leher Imel, setelah puas terus turun ke arah payudaranya. Kukecup, jilat dan hisap payudara Imel satu persatu sementara tanganku mulai menjelajah ke selangkangan Imel. Imel mulai mendesah dan menggeliat merasakan naik birahinya ketika tanganku menyentuh pintu meqinya. Aku terus mempermainkan payudara Imel dgn mulutku sementara jariku memainkan pintu meqinya. Imel semakin menggelinjang sambil mendesah-desah dgn mata tertutup menikmati permainan ini.
Kemudian perlahan kuarahkan lidahku turun ke arah perut Imel, kujelajahi bagian perutnya dengan lidah dan mulut sampai akhirnya berhenti di dekat meqinya. Lalu aku beranjak dan duduk di depan selangkangan Imel dan segera kubuka lebar kedua kakinya. Kujilati mulut meqinya yg mulai basah perlahan sambil sesekali kumasukkan lidahlu kedalam lubangnya. Ternyata meqi Imel tidak berbau sama sekali dan dia sepertinya sudah bukan perawan, membuat aku semakin asik memainkannya. Imel semakin menggelinjang sambil memegang kepalaku, mulutnya terus mengeluarkan desahan2 kenikmatan “oooohhhh… aaahhhhh.. Masss… uuuuhhh….”
Aku terus memainkan lidahku di meqi Imel yang semakin basah oleh cairannya. Tak berapa lama dia menggelinjang hebat dan meqinya tampak semakin membanjir oleh cairannya dan desahannya semakin bertambah keras “aaaahhhh…! uuuuuhhh…massss…! Terusssss….! ooooouuughhhh…!!”
Rupanya dia sudah orgasme oleh lidahku. Seketika itu juga aku teringat pintu sudah dikunci atau belum, kuatirnya ada orang mendengar dan masuk. Aku menghentikan aktivitasku dan bermaksud mengunci pintu.
Imel ikut bangun menatapku dan berkata dengan nada protes, “Kok berhenti sih.. Kenapa..?!”
“Pintu udah dikunci belum tuh?”
“Udah.. Tadi aku kunci kok..”
“Mel, aku mau nanya sesuatu boleh?” tanyaku pelan, aku ingin yakin dia masih perawan ato tidak. Kalo masih, aku gak mau nerusin ini. Aku gak mau merusak dia juga.
“Nanya apa, mas..?” sahut Imel sambil memegang tanganku.
“eemmmm.. Kamu masih virgin gak?”
“Emang kenapa mas? Bedanya apa?”
“Aku gak mau merusak kamu kalo kamu masih virgin, Mel…” jawabku.
“Aku udah gak virgin kok.. Tenang aja..” kata Imel sambil mulai menciumi leherku dan tangannya mulai membuka kancing bajuku. Aku diam saja menikmati cumbuan Imel disekitar leherku sementara bajuku sudah mulai terlepas semua. Imel terus turun ke dadaku dan mulai menghisap putingku sambil kuelus pelan rambutnya yg harum, semakin membuatku sangat ingin ‘meng-eksekusi’ dia.
Perlahan Imel mendorongku hingga rebah dilantai sambil mulutnya terus mencium dan menjilati dadaku serta tangannya mulai meraba kedalam celanaku, setelah tangannya medapatkan kontolku langsung dipegangnya dan dipijit-pijit lembut. Kemudian Imel mulai membuka retsleting celanaku, tampak ujung kontolku menyembul dari balik CD-ku. Tak berhenti sampai situ Imel segera melorotkan celana dan CD-ku, aku pun langsung membantu melepasnya.
Sejenak Imel menatap kontolku yg sudah berdiri tegak dan keras dgn pandangan yg tak kumengerti. Ukurannya sih biasa, gak gede2 amat, tapi mengacung dgn sangat keras. Perlahan Imel mulai mengelus kontolku, kemudian menjilatinya dengan lembut, sangat nikmat sekali jilatannya. Lalu Imel mulai memasukkan kontolku ke mulutnya memulai prosesi BJ-nya. Serasa sekujur tubuhku seperti kesetrum sampai ubun2 menikmati BJ Imel, perlahan tapi pasti mulutnya maju-mundur mengulum kontolku sambil sesekali dijilati dan dikocok pelan kontolku.
“oohhh, Mel… Kamu hebat, sayang…” kataku disela-sela desahanku menikmati BJ-nya.
Lalu kuraih dan kuangkat tubuh Imel yg sedang mem-BJ-ku naik ke atas tubuhku hingga posisi kami jadi 69, posisi favoritku. Meqi Imel kini tepat di wajahku dan segera kujilati, Imel kembali menggelinjang diatas tubuhku. Semakin kerap aku memainkan meqinya dengan lidahku Imel semakin ganas dalam BJ-nya, mungkin disebabkan karena birahinya yg semakin tinggi. Cukup lama kami dalam posisi itu hingga akhirnya Imel kembali menggelinjang keras sambil melenguh panjang dan meqinya bertambah basah menandakan dia mengalami orgasme lagi. Kontolku yg sedang di BJ Imel pun semakin merasakan sesuatu yg akan keluar tapi aku masih berusaha menahannya, akhirnya kuhentikan aktivitasku dan berguling kesamping menurunkan tubuh Imel. Kini dia tergeletak pasrah di lantai, semakin membuatku ingin segera menerkamnya. Aku merebahkan diri disampingnya dan kembali menjilati putingnya sambil meremas-remas payudaranya. Tangan Imel meraih kontolku lalu meremas dan mengocoknya.
Tak lama kemudian Imel menarik tubuhku untuk menindihnya, rupanya dia sudah ingin dieksekusi tapi malu untuk mengatakannya. Aku pun segera menindihnya tapi tak kumasukkan kontolku ke meqinya sambil kutatap Imel, tampak pandangannya seperti sedang mengharapkan sesuatu. Kuciumi leher Imel sambil menusuk-nusukkan kontolku ke permukaan meqinya, sengaja tidak kumasukkan dulu supaya dia tambah penasaran. Rupanya Imel sudah tidak tahan, kakinya semakin lebar mengangkang membuka jalan untukku.
Perlahan kugenjot pinggangku dan masukkan kontolku ke meqinya secara bertahap. Imel memelukku erat ketika perlahan meqinya dimasuki kontolku. Meqi Imel terasa agak sempit tapi enak sekali rasanya.
Akhirnya kutekan penuh pinggangku sehingga kontolku masuk semua ke meqinya.
“auuhh..mas..aaaahhhh..!!” desah Imel sambil mempererat pelukannya.
Aku mulai menggenjotnya perlahan, lalu tambah cepat, lalu pelan lagi, terus menerus. Imel nampak merem-melek sambil terus mendesah menikmati genjotanku. Setelah bosan posisi itu aku segera bangkit dan kucabut kontolku lalu kutekuk kaki Imel keatas. Kemudian sambil jongkok kumasukkan kontolku lagi dan kembali kugenjot.
“ooowhhh…punyamu keras sekali masss…aaahhh…aku suka…uuuhh..” kata Imel disela desahannya.
“Punyamu juga enak, Mel..” jawabku sambil terus menggenjotnya. Payudara Imel bergerak naik-turun seiring genjotanku, segra kuraih keduanya dan kuremas-remas perlahan. Imel jadi semakin terangsang dan mendesah-desah tak karuan.
Beberapa lama kemudian kucabut kontolku dan membalikkan badan Imel supaya nungging.
“Jangan lewat pantat, mas… Gak mau..” kata Imel kuatir.
“Gak, Mel.. Tenang aja..” jawabku.
Segera kumasukkan kontolku lagi ke meqinya setelah Imel dalam posisi nungging langsung amblas ke dalam, Imel melenguh panjang “uuuuuugghhhh…masssshh.. “.
Segera kugenjot Imel dalam posisi doggy, dia tambah mendesah-desah tak karuan. Rupanya posisi ini memberikan sensasi yg hebat buat dia. Benar saja, tak sampai 5 menit dia mengalami orgasme lagi sampai wajahnya tertelungkup ke lantai. Posisi seperti ini membuat dia jadi lebih tinggi nunggingnya. Aku pun berhenti dan berdiri. Kumasukkan lagi kontolku ke meqi Imel yg sedang nungging. Bleeesss….. Langsung kugenjot lagi dengan irama biasa dan lama2 menjadi cepat. Imel kembali mendesah-desah tak karuan. Dia nampaknya pasrah mau dibuat seperti apa.
Setelah puas kulepas kontolku lalu kubaringkan Imel lagi di lantai. Kutindih dia lagi dgn posisi misionaris. Kembali kuhujamkan kontolku kedalm meqinya. Langsung kugenjot cepat karena aku sudah tidak tahan ingin segera menyemburkan maniku. Imel rupanya paham dengan maksudku, kakinya segera melingkar di pinggangku dengan erat. Rasanya semakin enak sekali meqi Imel. Terus kupercepat genjotanku sambil berbisik ke Imel, “Keluarin diluar atau dalam, Mel..?”
“Terserah, mas…aku gak peduli, ah..” jawab Imel disela-sela deshan nafasnya yg memburu. Pikiranku sempat bimbang juga, aku gak mau kalo Imel sampai hamil juga. Bisa panjang sekali nanti urusannya, pikirku.
Lalu kulepaskan lilitan kaki Imel di pinggangku dan kunaikkan ke depan dadanya, terus kugenjot lagi dia dengan cepat. Imel semakin hebat menggelinjangnya menandakan dia hampir sampai orgasme. Semakin kupercepat genjotanku karena kurasakan sesuatu akan segera menyembur.
“Massss…massss…uuuhhh…aa agghh..uuuhhhhhhhh.. .maassss…!!!” Imel memekik tanda dia sudah orgasme lagi. Kupercepat lagi genjotanku sampai terasa klimak. Sebelum laharku menyembur, kulepas kontolku dari meqi Imel dan beringsut ke atas badan Imel. Aku sudah tidak tahan, akhirnya..
“aaaahhhh… Mel…aku keluarrrr…!!” dan.. Crot..crot..crot..crot.. Beberapa kali aku menyemburkan maniku di dada dan wajah Imel. Dia tidak menolak sama sekali, bahkan ikut mengocok kontolku dan itu membuatku semakin kegelian.
Tak lama kemudian Imel meraih t-shirtnya dan membersihkan cairan maniku di wajah dan dadanya. Aku pun berbaring di sisinya. Lalu Imel memelukku sambil berkata, “Terima kasih ya mas, pengalaman ini indah sekali…”
“Sama-sama, Mel… Kamu suka..?”
“Ehhmmmm…, baru kali ini aku merasakan seperti ini. Dulu sama mantanku gak kayak gini. Payah dia, cuma mau enaknya sendiri..” sungut Imel.
Setelah ngobrol2 sejenak sambil berbaring di lantai kami pun segera mengenakan baju dan aku juga berkemas bersiap2 untuk pulang. Sebelum membuka pintu Imel memegang tanganku dan memberikan ciuman di pipiku, baru kami keluar dan turun. Di bawah nampak Mei sedang berdiri di depan kantornya. Dia agak terkejut melihat kami berdua.
“Lho, dari mana aja kalian dari tadi..?” tanya Mei. Aku baru ingat ternyata tadi cukup lama juga aku dengan Imel. Makan + ngobrol kira2 1 jam-an, sesi foto 1,5 jam-an, sesi ‘bercinta’ hampi 1 jam-an, istirahat 30 menitan, kira-kira 4 jam lebih!
“Dari atas lah…emang mau dari mana lagi..” jawab Imel. Kulirik Imel nampak dia mengerlingkan sebelah mata ke Mei dan kulihat raut Mei jadi berubah agak melongo dan bertanya-tanya. Wah, jangan2 Imel nanti cerita ke Mei tentang peristiwa tadi. Tapi kubuang pikiran itu dan segera berpamitan pada mereka berdua.
Aku pun pulang dengan perasaan puas sekali. Hunting foto yang akhirnya dapat obyek bagus + bonusnya.
Sejak itu Imel kadang kontak kalau sedang ingin ditemani, entah untuk teman ngobrol atau ‘yang lain’…
Selang beberapa saat datang Imel sambil membawa bungkusan.
“Eh…, ada mas Anto.. Kebetulan nih, aku bawa burger.. Kita lunch sekalian yuk..” kata Imel.
“Ah, aku sudah makan kok barusan..” jawabku basa-basi.
“Gak apa2, mas.. Temenin ci Imel tuh, kebetulan aku ada janji sama client nih..” sahut Mei.
“Oke deh kalo begitu..” jawabku.
“Kita makan di atas aja yuk, mas.. Sambil liat ruang senam yg baru..” ajal Imel.
“Atas mau dibuat sanggar ya?” tanyaku sekenanya.
“Nggak kok, mas.. Tu ci Imel pengen punya ruang senam pribadi aja..” sahut Mei.
“Oooo, gitu..” jawabku sambil manggut2.
“Udah sana ke atas temenin ci Imel, kelaparan tuh..!” kata Mei.
“Ha..ha..ha.. Ayuk, mas..! See U Mei..!” sahut Imel sambil keluar ruangan diikuti aku.
Kami naik ke lantai atas dan masuk ke sebuah ruangan berukuran kira2 8X6m. Lantainya karpet abu2 dan temboknya dilapisi bahan peredam warna hitam. Ruangan itu kosong, hanya ada satu meja kerja & laptop di pojok, sofa panjang dgn satu meja di depannya, dan lemari kecil disamping meja kerja dgn seperangkat home-theatre di atasnya. Sebuah kaca yg besar terpasang di salah satu sisi dinding, ukurannya hampir memenuhi satu sisi dindingnya. Beberapa lampu dinding tampak terpasang dan di langit2 terdapat 6 lampu sorot kecil. Indah sekali, batinku sambil melihat sekeliling ruangan.
“Silahkan duduk, mas.. Aku setel musik dulu” kata Imel sambil menyalakan CD dan alunan piano Richard Clayderman mulai terdengar sayup.
“Suka lagu2 gini mas?” kata Imel sambil membuka bungkusan burgernya dan menyiapkan untuk kami berdua.
“Suka.. Apalagi ndengerin sambil cari inspirasi..” jawabku sambil meletakkan tas kameraku.
“Wah, suka fotografi ya..?” tanya Imel.
“Hobi aja sih, gak buat profesi. Kalo ada yg pake sih ga nolak.. Hehehe..” jawabku sambil makan.
“Hobi kalo menghasilkan kan bagus tuh..” kata Imel sambil ikut makan.
Kami pun makan sambil ngobrol kesana-kemari, bercanda dan kadang main tebak2an. Setelah selesai makan Imel segera membersihkan sisa2 dan bungkus makanan kami.
Mendadak dia bertanya kepadaku “Mas, aku kasih job foto mau?”
“Emmm…, gimana ya? Job foto gimana? Kalo acara2 resmi atau wedding aku belum pernah sih..” jawabku ragu.
“Foto aku..! Aku ingin difoto sendiri, privat..!” kata Imel.
“Maksudnya kamu mau difoto seperti model gitu..?” tanyaku.
“Iya, tapi khusus buat aku pribadi lho.. Berapa harganya, mas..?” balas Imel.
Wah, aku belum pernah dapat job foto model gini, batinku bingung.
“Gampang soal itu deh.. Kayak sama siapa aja, lagian buat eksperimen aku juga..” jawabku sekenanya.
“Bener nih..? Kalo iya, kita mulai aja..!” kata Imel.
“Sekarang? Lokasinya mau dimana?” tanyaku.
“Disini aja, kira2 bagus gak suasananya? Kalo diluar berarti harus cari lokasi dulu deh..” kata Imel.
Aku melihat sekeliling ruangan. Tampaknya layak juga untuk foto session. Dinding, lampu ruang yg bisa diatur, suasana, semua oke sih.
“Oke, bisa kok disini kalo mau..” kataku.
“Siiipp…! Sebentar, aku make-up dan cari baju dulu ya..” kata Imel sambil keluar ruangan.
Aku segera menyiapkan kamera SLR-ku dan perlengkapannya, lalu mengambil sample seting pencahayaan disitu (mirip profesional? Hahaha..!)
Tak beberapa lama Imel masuk kembali, kali ini dia tampak lebih cantik dengan dandanannya. Dia memakai celana jeans pendek sekali dan t-shirt besar warna putih. Pahanya yang mulus semakin kelihatan jelas dan rambutnya yang bergelombang sebahu dibiarkan terurai. Pundaknya yg putih nampak terbuka sebagian karena t-shirtnya yg lebar itu. Tidak nampak adanya tali BH membuatku semakin penasaran. Pikiranku mulai melayang kemana-mana nih..
“Kok melamun sih…? Gimana penampilanku?” kata Imel membuyarkan pikiranku.
“eh.. mmm.. Bagus kok..” jawabku gugup.
“Keliatan sexy gak, mas..?”
“Sexy kok, kamu juga keliatan cakep..” jawabku polos.
“Ihh… Mas Anto jangan ngeledek, ah..”
“Bener kok, Mel.. You’re look so beautiful & sexy..!” jawabku.
“Kita mulai aja ya..” ajak Imel sambil pasang gaya.
“Kita ambil sample dulu ya..” jawabku sambil mulai jepret dia beberapa kali.
Setelah sepakat dengan hasilnya, kami melanjutkan sesi foto kami. Imel nampak luwes dalam bergaya.
Dalam beberapa pose dia nampak ingin tampil sexy dengan menurunkan belahan pundaknya, membuatku makin penasaran saja.
Akhirnya aku pun berkomentar juga “Yang lebih menantang dong, Mel…”
“Oke…” jawab Imel.
Kemudian dia memasukkan tangan ke dalam t-shirtnya lalu melempar sesuatu ke lantai. Wow..! itu tadi ternyata BH tanpa talinya, Imel sekarang tdk pakai BH. Aku kembali melihatnya, tambah kelihatan sexy karena putingnya kelihatan menonjol dibalik t-shirtnya.
“Ready..?” tanyaku.
“Oke..” jawab Imel.
Imel mulai berpose lagi, kali ini semakin berani. Dia mulai melorotkan t-shirtnya sehingga nyaris kelihatan payudaranya, belum posenya yg membuat laki2 bergetar.
Tak berapa lama Imel membuka retsleting celananya sehingga CD-nya yg berwarna merah kelihatan. Dia terus bergaya dengan pose yang semakin menantang.
“T-shirtnya buka aja, Mel..” kataku tanpa sadar.
“Malu, ah mas..!” jawab Imel.
“Gak apa2.. kan ini cuma buat pribadi aja…” kataku.
“Malu sama mas Anto, tau..!” kata Imel.
“Gak apa2 kok.. Kayak sama siapa aja..” jawabku semakin berani.
“Oke lah..” jawab Imel sambil membuka t-shirtnya sambil membelakangiku.
“Ok, pose gitu ya.. Muka noleh ke kamera dong..” kataku.
Aku ambil gambarnya beberapa kali dalam pose itu.
“Hadap samping, Mel..” kataku.
Imel pun berpose menghadap samping dengan tangan menutupi dadanya dan wajah ke kamera. Setelah beberapa kali jepretan, aku memintanya menghadap kamera. Imel pun menurut dengan tangan tetap di dada. Uuhh… Membuat semakin penasaran nih, batinku.
“Jangan ditutupi dong, Mel..” kataku.
Imel tidak menjawab tapi langsung berpose dengan berkacak pinggang. Payudaranya yang tidak terlalu besar tapi kencang dan bagus bentuknya dengan puting menantang langsung kelihatan. Aku sempat terpana melihat pemandangan itu, betul2 topless.
“Udah, jangan melongo gitu mas..! Katanya suruh kelihatan..” kata Imel sambil tersenyum.
“Ehh… i..i..iya..” jawabku gugup sambil siap untuk memotret. Kurasakan adik kecilku mulai mengeras juga. Wah, gawat nih.., batinku.
Setelah beberapa jepretan kami lalu beristirahat dan Imel mengenakan t-shirtnya lagi. Kami melihat hasil jepretanku di kamera sambil duduk di lantai karpet.
“Kurang jelas mas, kecil2 banget..” kata Imel.
“Liat pake laptop aja, ntar aku sambungin..” jawabku.
Imel berdiri mengambil laptop di meja, langsung aku sambung ke kamera dan aku transfer foto2 tadi.
Kami melhat hasil dari awal sambil saling berkomentar hasilnya. Sampai pada foto topless Imel terdiam sambil mengamati satu persatu, aku pura2 cuek aja.
“Mas, foto lagi yuk..” mendadak Imel berkata padaku.
“Oke…” jawabku.
“Tapi….” kata Imel sambil menatapku, ada keraguan di mata dan nada bicaranya.
“Kenapa, Mel..?” tanyaku.
“Aku mau difoto naked, telanjang..! Tapi yang kelihatan art-nya gitu.. Kira2 gimana, mas..?” jawab Imel.
Aku sempat kaget, bingung, dan mungkin girang campur aduk jadi satu.
“Eeee… bisa kok.. Lagian kamu punya tubuh yang bagus, pasti ntar keliatan indah hasilnya..” jawabku sekenanya.
“Ah.. Mulai tuh gombalnya…” kata Imel tersipu.
“Suer… Bener kok.. Kamu cakep, punya body bagus, mulus.. Kurang apalagi coba..?” kataku sambil berharap mudah2an dia jadi difoto.
“Oke lah… Ayuk, kita mulai..” kata Imel sambli berdiri. Yess..!! Aku bersorak dalam hati.
Imel mulai melepas t-shirt, celana pendeknya, lalu CD-nya sambil membelakangiku. Aku langsung mengambil gambarnya dari posisi belakang sambil mengarahkan gayanya. Imel menurut saja dengan arahanku dari mulai menghadap samping sampai ke kamera tapi dengan pose tangan tetap menutupi dada dan bagian bawahnya. Imel nampak enjoy dengan posenya yg semakin berani. Adik kecilku kembali terasa tegang, tapi tidak kuhiraukan karena asyik memotret.
“Open semua aja, Mel.. Nanggung..” kataku nekat. Imel kembali tersenyum dan perlahan melepas kedua tangannya dari dada dan bawahnya. Wow..! Perfect..!
Body Imel proporsional walaupun bisa dibilang agak kurus. Payudaranya tidak terlalu besar tapi bagus bentuknya, pantatnya pun sedang, jembinya kelihatan tipis dan rapi. Aku masih tertegun melihat pemandangan itu ketika Imel berkata “Tuh, kan.. Malah melongo.. terusin gak nih..?!”
“i..i..iya.. Terusin.. Habisnya kamu perfect, Mel..” jawabku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Lalu kami mulai lagi sesi pemotretannya. Kali ini Imel benar2 pose telanjang. Dia nampak enjoy dengan posenya, bahkan semakin lama semakin berani dan menantang. Kulihat sekilas dia merasa horny juga. Aku pun jadi semakin berani mengambil gambar bagian2 vitalnya dari dekat dan berbagai posisi. Adik kecilku terasa semakin berontak tapi aku tak peduli sambil terus mengambil gambar Imel.
Setelah berapa puluh jepretan kami pun kembali istirahat duduk di lantai sambil melihat hasil sesi kami. Kali ini Imel tidak langsung mengenakan bajunya, dia hanya menutup dadanya dengan t-shirtnya. Aku disampingnya dengan perasaan tidak karuan. Bagaimana tidak? Ada mahluk manis dan sempurna telanjang bulat disebelahku!
Satu persatu dia mengamati fotonya di laptop dengan serius, seakan sedang menilai bentuk tubuhnya sendiri.
“Sempurna, Mel..” kataku tanpa sengaja terlepas.
“Ah, mas bisa aja.. Biasa aja kaleee..” kata Imel sambil mencubit pahaku.
“Yakin, Mel.. Ga bohong kok..” jawabku.
“iihhhhh, genit ah..!!” kata Imel merajuk sambil memukuli pahaku.
“Kamu tuh yg jadi genit kalo gini.. Cewek genit kan sukanya gitu..” jawabku.
“Tuhhhh kan… Malah ngeledek, awas lho..” Kata Imel sambil memukuli pundakku dengan tangan satu karena satunya memegangi t-shirt di dadanya.
Aku tertawa sambil memegang tangan yg memukuliku. Tanpa sadar tangan satunya berusaha memukulku juga sehingga t-shirtnya terlepas, aku langsung terdiam melihat payudaranya. Melihatku terdiam Imel langsung sadar dan segera melepas tangannya dan menutupi dadanya sambil tersipu melihatku.Aku menatap wajahnya yg tersipu itu, Imel nampaknya jadi salah tingkah dan terdiam menatapku juga.
Perlahan aku memegang kedua tangan yg menutupi dadanya lalu kulepas dari dadanya. Imel diam saja sambil kami bertatapan tapi wajah kami semakin mendekat entah siapa yg duluan. Lalu kukecup bibir tipisnya, dia diam saja sambil memejamkan matanya. Kali ini kucium bibirnya dan dia mulai membalas ciumanku, akhirnya bibir kami saling bertaut. Tak berapa lama Imel melepas tangannya dari peganganku dan langsung memeluk leher serta kepalaku. Ciuman bibirnya bertambah ganas, nafasnya pun jadi semakin cepat. Hmmm.. Imel mulai naik nih.., batinku. kami pun saling berpelukan sambil saling bermain mulut dan lidah.
Tanganku perlahan mulai gerilya di dada Imel. Kuraba dan kuelus payudaranya sambil sesekali memainkan putingnya, kadang kuremas perlahan. Imel semakin ganas menciumku dan semakin erat memelukku. Kemudian perlahan kurebahkan tubuhnya di lantai karpet sambil kami tetap saling berpagut.
Dengan posisi Imel yang rebah semakin memudahkan tanganku untuk menjelajahi tubuh mulusnya. Sambil terus berpagut bibir tanganku mulai memainkan payudaranya, kanan kiri bergantian. Kuremas perlahan dan kumainkan putingnya yg makin mengeras.
Lalu kulepas bibirku kemudian mulut dan lidahku mulai menjelajahi leher Imel, setelah puas terus turun ke arah payudaranya. Kukecup, jilat dan hisap payudara Imel satu persatu sementara tanganku mulai menjelajah ke selangkangan Imel. Imel mulai mendesah dan menggeliat merasakan naik birahinya ketika tanganku menyentuh pintu meqinya. Aku terus mempermainkan payudara Imel dgn mulutku sementara jariku memainkan pintu meqinya. Imel semakin menggelinjang sambil mendesah-desah dgn mata tertutup menikmati permainan ini.
Kemudian perlahan kuarahkan lidahku turun ke arah perut Imel, kujelajahi bagian perutnya dengan lidah dan mulut sampai akhirnya berhenti di dekat meqinya. Lalu aku beranjak dan duduk di depan selangkangan Imel dan segera kubuka lebar kedua kakinya. Kujilati mulut meqinya yg mulai basah perlahan sambil sesekali kumasukkan lidahlu kedalam lubangnya. Ternyata meqi Imel tidak berbau sama sekali dan dia sepertinya sudah bukan perawan, membuat aku semakin asik memainkannya. Imel semakin menggelinjang sambil memegang kepalaku, mulutnya terus mengeluarkan desahan2 kenikmatan “oooohhhh… aaahhhhh.. Masss… uuuuhhh….”
Aku terus memainkan lidahku di meqi Imel yang semakin basah oleh cairannya. Tak berapa lama dia menggelinjang hebat dan meqinya tampak semakin membanjir oleh cairannya dan desahannya semakin bertambah keras “aaaahhhh…! uuuuuhhh…massss…! Terusssss….! ooooouuughhhh…!!”
Rupanya dia sudah orgasme oleh lidahku. Seketika itu juga aku teringat pintu sudah dikunci atau belum, kuatirnya ada orang mendengar dan masuk. Aku menghentikan aktivitasku dan bermaksud mengunci pintu.
Imel ikut bangun menatapku dan berkata dengan nada protes, “Kok berhenti sih.. Kenapa..?!”
“Pintu udah dikunci belum tuh?”
“Udah.. Tadi aku kunci kok..”
“Mel, aku mau nanya sesuatu boleh?” tanyaku pelan, aku ingin yakin dia masih perawan ato tidak. Kalo masih, aku gak mau nerusin ini. Aku gak mau merusak dia juga.
“Nanya apa, mas..?” sahut Imel sambil memegang tanganku.
“eemmmm.. Kamu masih virgin gak?”
“Emang kenapa mas? Bedanya apa?”
“Aku gak mau merusak kamu kalo kamu masih virgin, Mel…” jawabku.
“Aku udah gak virgin kok.. Tenang aja..” kata Imel sambil mulai menciumi leherku dan tangannya mulai membuka kancing bajuku. Aku diam saja menikmati cumbuan Imel disekitar leherku sementara bajuku sudah mulai terlepas semua. Imel terus turun ke dadaku dan mulai menghisap putingku sambil kuelus pelan rambutnya yg harum, semakin membuatku sangat ingin ‘meng-eksekusi’ dia.
Perlahan Imel mendorongku hingga rebah dilantai sambil mulutnya terus mencium dan menjilati dadaku serta tangannya mulai meraba kedalam celanaku, setelah tangannya medapatkan kontolku langsung dipegangnya dan dipijit-pijit lembut. Kemudian Imel mulai membuka retsleting celanaku, tampak ujung kontolku menyembul dari balik CD-ku. Tak berhenti sampai situ Imel segera melorotkan celana dan CD-ku, aku pun langsung membantu melepasnya.
Sejenak Imel menatap kontolku yg sudah berdiri tegak dan keras dgn pandangan yg tak kumengerti. Ukurannya sih biasa, gak gede2 amat, tapi mengacung dgn sangat keras. Perlahan Imel mulai mengelus kontolku, kemudian menjilatinya dengan lembut, sangat nikmat sekali jilatannya. Lalu Imel mulai memasukkan kontolku ke mulutnya memulai prosesi BJ-nya. Serasa sekujur tubuhku seperti kesetrum sampai ubun2 menikmati BJ Imel, perlahan tapi pasti mulutnya maju-mundur mengulum kontolku sambil sesekali dijilati dan dikocok pelan kontolku.
“oohhh, Mel… Kamu hebat, sayang…” kataku disela-sela desahanku menikmati BJ-nya.
Lalu kuraih dan kuangkat tubuh Imel yg sedang mem-BJ-ku naik ke atas tubuhku hingga posisi kami jadi 69, posisi favoritku. Meqi Imel kini tepat di wajahku dan segera kujilati, Imel kembali menggelinjang diatas tubuhku. Semakin kerap aku memainkan meqinya dengan lidahku Imel semakin ganas dalam BJ-nya, mungkin disebabkan karena birahinya yg semakin tinggi. Cukup lama kami dalam posisi itu hingga akhirnya Imel kembali menggelinjang keras sambil melenguh panjang dan meqinya bertambah basah menandakan dia mengalami orgasme lagi. Kontolku yg sedang di BJ Imel pun semakin merasakan sesuatu yg akan keluar tapi aku masih berusaha menahannya, akhirnya kuhentikan aktivitasku dan berguling kesamping menurunkan tubuh Imel. Kini dia tergeletak pasrah di lantai, semakin membuatku ingin segera menerkamnya. Aku merebahkan diri disampingnya dan kembali menjilati putingnya sambil meremas-remas payudaranya. Tangan Imel meraih kontolku lalu meremas dan mengocoknya.
Tak lama kemudian Imel menarik tubuhku untuk menindihnya, rupanya dia sudah ingin dieksekusi tapi malu untuk mengatakannya. Aku pun segera menindihnya tapi tak kumasukkan kontolku ke meqinya sambil kutatap Imel, tampak pandangannya seperti sedang mengharapkan sesuatu. Kuciumi leher Imel sambil menusuk-nusukkan kontolku ke permukaan meqinya, sengaja tidak kumasukkan dulu supaya dia tambah penasaran. Rupanya Imel sudah tidak tahan, kakinya semakin lebar mengangkang membuka jalan untukku.
Perlahan kugenjot pinggangku dan masukkan kontolku ke meqinya secara bertahap. Imel memelukku erat ketika perlahan meqinya dimasuki kontolku. Meqi Imel terasa agak sempit tapi enak sekali rasanya.
Akhirnya kutekan penuh pinggangku sehingga kontolku masuk semua ke meqinya.
“auuhh..mas..aaaahhhh..!!” desah Imel sambil mempererat pelukannya.
Aku mulai menggenjotnya perlahan, lalu tambah cepat, lalu pelan lagi, terus menerus. Imel nampak merem-melek sambil terus mendesah menikmati genjotanku. Setelah bosan posisi itu aku segera bangkit dan kucabut kontolku lalu kutekuk kaki Imel keatas. Kemudian sambil jongkok kumasukkan kontolku lagi dan kembali kugenjot.
“ooowhhh…punyamu keras sekali masss…aaahhh…aku suka…uuuhh..” kata Imel disela desahannya.
“Punyamu juga enak, Mel..” jawabku sambil terus menggenjotnya. Payudara Imel bergerak naik-turun seiring genjotanku, segra kuraih keduanya dan kuremas-remas perlahan. Imel jadi semakin terangsang dan mendesah-desah tak karuan.
Beberapa lama kemudian kucabut kontolku dan membalikkan badan Imel supaya nungging.
“Jangan lewat pantat, mas… Gak mau..” kata Imel kuatir.
“Gak, Mel.. Tenang aja..” jawabku.
Segera kumasukkan kontolku lagi ke meqinya setelah Imel dalam posisi nungging langsung amblas ke dalam, Imel melenguh panjang “uuuuuugghhhh…masssshh.. “.
Segera kugenjot Imel dalam posisi doggy, dia tambah mendesah-desah tak karuan. Rupanya posisi ini memberikan sensasi yg hebat buat dia. Benar saja, tak sampai 5 menit dia mengalami orgasme lagi sampai wajahnya tertelungkup ke lantai. Posisi seperti ini membuat dia jadi lebih tinggi nunggingnya. Aku pun berhenti dan berdiri. Kumasukkan lagi kontolku ke meqi Imel yg sedang nungging. Bleeesss….. Langsung kugenjot lagi dengan irama biasa dan lama2 menjadi cepat. Imel kembali mendesah-desah tak karuan. Dia nampaknya pasrah mau dibuat seperti apa.
Setelah puas kulepas kontolku lalu kubaringkan Imel lagi di lantai. Kutindih dia lagi dgn posisi misionaris. Kembali kuhujamkan kontolku kedalm meqinya. Langsung kugenjot cepat karena aku sudah tidak tahan ingin segera menyemburkan maniku. Imel rupanya paham dengan maksudku, kakinya segera melingkar di pinggangku dengan erat. Rasanya semakin enak sekali meqi Imel. Terus kupercepat genjotanku sambil berbisik ke Imel, “Keluarin diluar atau dalam, Mel..?”
“Terserah, mas…aku gak peduli, ah..” jawab Imel disela-sela deshan nafasnya yg memburu. Pikiranku sempat bimbang juga, aku gak mau kalo Imel sampai hamil juga. Bisa panjang sekali nanti urusannya, pikirku.
Lalu kulepaskan lilitan kaki Imel di pinggangku dan kunaikkan ke depan dadanya, terus kugenjot lagi dia dengan cepat. Imel semakin hebat menggelinjangnya menandakan dia hampir sampai orgasme. Semakin kupercepat genjotanku karena kurasakan sesuatu akan segera menyembur.
“Massss…massss…uuuhhh…aa agghh..uuuhhhhhhhh.. .maassss…!!!” Imel memekik tanda dia sudah orgasme lagi. Kupercepat lagi genjotanku sampai terasa klimak. Sebelum laharku menyembur, kulepas kontolku dari meqi Imel dan beringsut ke atas badan Imel. Aku sudah tidak tahan, akhirnya..
“aaaahhhh… Mel…aku keluarrrr…!!” dan.. Crot..crot..crot..crot.. Beberapa kali aku menyemburkan maniku di dada dan wajah Imel. Dia tidak menolak sama sekali, bahkan ikut mengocok kontolku dan itu membuatku semakin kegelian.
Tak lama kemudian Imel meraih t-shirtnya dan membersihkan cairan maniku di wajah dan dadanya. Aku pun berbaring di sisinya. Lalu Imel memelukku sambil berkata, “Terima kasih ya mas, pengalaman ini indah sekali…”
“Sama-sama, Mel… Kamu suka..?”
“Ehhmmmm…, baru kali ini aku merasakan seperti ini. Dulu sama mantanku gak kayak gini. Payah dia, cuma mau enaknya sendiri..” sungut Imel.
Setelah ngobrol2 sejenak sambil berbaring di lantai kami pun segera mengenakan baju dan aku juga berkemas bersiap2 untuk pulang. Sebelum membuka pintu Imel memegang tanganku dan memberikan ciuman di pipiku, baru kami keluar dan turun. Di bawah nampak Mei sedang berdiri di depan kantornya. Dia agak terkejut melihat kami berdua.
“Lho, dari mana aja kalian dari tadi..?” tanya Mei. Aku baru ingat ternyata tadi cukup lama juga aku dengan Imel. Makan + ngobrol kira2 1 jam-an, sesi foto 1,5 jam-an, sesi ‘bercinta’ hampi 1 jam-an, istirahat 30 menitan, kira-kira 4 jam lebih!
“Dari atas lah…emang mau dari mana lagi..” jawab Imel. Kulirik Imel nampak dia mengerlingkan sebelah mata ke Mei dan kulihat raut Mei jadi berubah agak melongo dan bertanya-tanya. Wah, jangan2 Imel nanti cerita ke Mei tentang peristiwa tadi. Tapi kubuang pikiran itu dan segera berpamitan pada mereka berdua.
Aku pun pulang dengan perasaan puas sekali. Hunting foto yang akhirnya dapat obyek bagus + bonusnya.
Sejak itu Imel kadang kontak kalau sedang ingin ditemani, entah untuk teman ngobrol atau ‘yang lain’…
Ibu Muda Sexy Di Kereta Api
Hari minggu pagi dibulan februari 2010 aku menunggu kereta ekspress
yang akan mengantarku kembali ke kota Y karena esok hari aku harus masuk
kuliah lagi. Sebelumnya perkenalkan namaku didit berumur 22 tahun,
menurut mantan – mantanku dan sahabat – sahabat cewekku aku ini orangnya
berwajah menarik, supel, ramah, misterius, dan tinggi (sekitar 180cm)
sehingga banyak yang tertarik denganku. aku mahasiswa semester atas di
sebuah universitas ternama di kota Y. Aku berasal dari kota S, jadi bisa
disimpulkan aku seorang perantau. Saat kereta mulai bergerak aku
menyegerakan tidur karena badanku sudah lelah akibat begadang semalaman
bersama teman – teman lamaku. Aku terbangun beberapa kali selama
perjalanan yaitu saat pengen kencing (dikamar kecil aku sempat sedikit
bingung karena kamar kecilnya tidak ada batang selotnya tapi akhirnya
teratasi dengan diselipin pulpen) dan saat berhenti di beberapa stasiun
besar untuk menaikkan penumpang. Saat itu seingatku di stasiun kota M
naiklah pasutri muda dan anaknya yang masih balita. Aku terperangah
karena sang suami tidak cakep dan cenderung jelek akan tetapi istrinya
cantik berambut lurus panjang, tinggi sekitar 170cm (lebih tinggi
suaminya sedikit). Tapi yang paling membuatku shock adalah meski tinggi
tapi tubuhnya montok dengan payudara yang ukurannya lumayan besar,
pantat yang sekal dan pinggang yang ramping bak biola spanyol.tubuh bagus itu terbungkus dengan celana panjang ketat dan kemeja agak ketat yang paduan warnanya bagus.
Sesaat setelah mereka duduk dibangku sebelah bangku yang aku tempati kereta mulai kembali berjalan dan sang suami dan anak langsung terlelap seperti aku tadi setelah perjalanan dilanjutkan kembali sekitar setengah jam. Karena sang istri tinggal sendirian, aku memberanikan diri menyapa dan mengajak ngobrol. Yah sekedar basa basi agar tidak boring selama perjalanan (kebiasaanku sejak aku SMA).
“mbak, mau kekota apa?” sambil tersenyum ramah aku menegurnya.
“mau ke ke kota Y karena mertua sakit dik. Adik sendiri?” jawabnya sambil tersenyum manis.
“oh, aku juga sama mbak tapi karena aku emang kuliah di kota Y. Oya nama mbak siapa? Kenalkan namaku didit” kuulurkan tangan untuk berjabat tangan.
“aku ani dik, ini suamiku rudi dan anakku sandi” dia menyambut jabat tanganku sambil memperkenalkan suami dan anaknya.
Perbincanganpun mengalir dengan hangat selama kurang lebih 1 jam karena kelihaianku mengolah suasana. Kami juga sempat bercanda hingga dia tertawa terkikik karena lucunya. Menurutku mbak ani orangnya terbuka dan supel, buktinya dia tidak marah saat leluconku mulai menjurus kearah sex bahkan dia malah membalas dengan lelucon yang lebih menjurus. Selama ngobrol mataku sesekali melirik bongkahan dadanya yang terlihat sedikit dari celah kemejanya yang tanpa dia sadari 1 kancingnya terbuka di bagian dada persis. Mbak ani mulai salah tingkah dalam duduknya (dugaanku dia terangsang) saat menjawab pertanyaanku seputar tips menyenangkan wanita di ranjang. Dari pertanyaan – pertanyaanku mbak ani bukan tipe wanita yang suka tentang variasi seks seperti oral dan anal. Tapi dia sudah beberapa kali mencoba berbagai variasi gaya bersetubuh selama menikah 2 tahun ini.
Perbincangan terpaksa diputus dulu karena dia permisi ke kamar kecil. Niat isengku muncul mengingat selot kamar kecil itu. Beberapa saat setelah dia pergi, aku membuntuti kekamar kecil. Rupanya dia tidak sadar bahwa pintunya tidak terkunci dan hanya tertutup, buktinya dia dengan santai telanjang bagian bawah membelakangiku. Hal itu membuatku mulai terangsang, segera kubuka resleting celana dan cd lalu keluarin si boy dari sarang. Ukuran si boy emang biasa aja (panjang 15cm dan diameter 3,5cm) tapi lumayanlah. Kudekati mbak ani perlahan, saat tangan kirinyanya mau meraih celana dan cdnya kuberanikan diri memegang tangannya dengan tangan kiriku sedangkan tangan kananku membekap mulutnya. Dia sempat kaget tapi ketika mbak ani menoleh siapa dibelakangnya dia terdiam.
“mbak, jangan teriak ya kumohon. Aku hanya ingin diajari muasin cewek dalam sex..plis…” kataku sambil menampakkan wajah memelas.
Awal mulanya dia hanya menggelengkan kepala dan tetap memberontak. Aku bisa membuat mataku sendiri berkaca – kaca seperti mau menangis, kulakukan itu sambil terus memohon dan pura – pura terisak. Akhirnya dia luluh dan menganggukkan kepala lemah. Kulepaskan tanganku, ”kena kau” batinku.
“didit udah pernah ciuman?” tanyanya.
“sudah mbak,kenapa mbak?” balasku dengan wajah polos.
“coba cium aku dit” perintahnya.
aku mulai memeluknya dan menciunmya, pada awalnya biasa saja lalu lidahku berusaha menyeruak kedalam mulutnya dan ternyata dia membalas dengan lebih agresif. Akhirnya kupakai teknik back door yang memanfaatkan lidahku yang panjang hingga aku bisa mengimbanginya.
“ciuman didit mantap juga ya” aku hanya tersenyum pura – pura malu.
“sekarang coba rangsang aku dit semampumu tapi hanya sebatas sampai leher saja”
dalam hati aku bersorak.
Aku mulai menciumnya lagi lalu menggerayangi dan menciumi bagian belakang telinga dan menjilati telinganya. “Aaahhg…sssttt…eeeenggghh…” desahnya saat kulakuin itu,ciumanku mulai turun ke leher. Kujilat dan kucium leher putihnya, harum parfumnya membuatku bersemangat. “Uuuugghh….aaaahhhh….eeemmghh….sssstttt… dit enak dit… terus dit… aaaaaahhh…eeeeennnggghh… dit jangan ada bekasnya…” bisiknya. Aku sadar bahwa mbak ani takut ketahuan suaminya. Kucoba menelusupkan tanganku kedalam bajunya saat kedua tangannya terangkat memeluk leherku. Terlambat buat mbak ani untuk merespon karena kedua tanganku sudah masuk kedalam baju dan meremas – remas payudaranya dari luar BH. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengerang dan mendesah karena kuserang leher dan kedua payudaranya secara bersamaan.
“didit…aaaaahhhhgg…kamu nakal…ssssttt….eeeennggghh…” rancaunya tapi tanpa penolakan karena rangsangan yang mbak ani alami begitu kuat. Secara mendadak kuangkat bajunya sebatas leher hingga mempertontonkan 2 bongkah gunung kembar dibungkus BH kuning menyala. Beruntungnya aku karena kancing Bhnya ada di depan. Sekilas kulihat ukurannya 36C (besar cuy…), seketika itu pula kubuka kancin bhnya dan terpampanglah payudaranya tanpa penutup apapun. Langsung aku kenyot putting kanannya dan kupilin – pilin putting kirinya. “Aaaaaaahhhh…eeeemmnggh…dit…kamu apakan putingku…uuggghh…” erangnya sambil bersandar di dinding. “Geli dit…aaaaaggghh…dit…cukup…ssstt…dit…enak banget…mmmnngghh..melayang aku rasanya…aaahhh…” rancaunya makin keras.
Karena takut ada yang mendengar langsung aku cium lagi mbak ani dengan ganas sambil tangan kananku meremas payudara kanannya dan tangan kiriku mengocok kemaluannya yang ternyata sudah banjir. “mmmpphh…nnnggghh…ssslllurrpp…” yang keluar dari mulutnya yang sedang kuajak french kiss lagi. Kedua tangannya tidak berdaya karena terjepit punggungnya sendiri sedang tubuh mbak ani terjepit antara tubuhku dan dinding. Tapi tubuhnya semakin menggelinjang kuperlakuin seperti itu. Tidak lama kemudian kemaluan mbak ani makin lembab, disini aku lagi – lagi memasang perangkap. Kuhentikan semua cumbuanku hingga mbak ani termangu.
“lho dit kok berhenti?! Jangan dong..lanjutin ya dit..aku jadi ngambang dan aneh nih rasanya..lanjutin dong ampe mbak keluar..” pintanya.
“ya mbak..tapi sekarang boleh ya aku masukin si boy? Dari tadi berdiri ampe sakit nih” rayuku.
“jangan dit, aku sudah bersuami…” tolaknya.
“cuma digesek – gesekin aja deh mbak enggak papa ampe aku juga keluar biar sama – sama enak. Boleh ya mbak? Plis……” rengekku sambil mulai kembali membelai – belai payudaranya dan tanganku satunya mengelus – elus si boy yang sedari tadi menganguk – angguk karena sudah tegang.
Mendapat serangan psikologis seperti itu terus menerus akhirnya dia luluh.
“cuma digesek – gesek aja ya ga lebih…” pintanya sambil kududukkan dia ke kloset.
“makasih ya mbak ani sayang” ucapku dan kukecup singkat bibirnya sambil ku posisikan tubuhku sedemikian rupa hingga penisku terhimpit diantara pangkal pahanya persis di mulut vaginanya (bayangin aja duduk berhadapan dan aku terlihat seperti memangku mbak ani dan kakinya memeluk pinggangku sedang tubuh kami seperti berpelukan).
Aku mulai menggoyang pantatku sehinnga kemaluan kami bergesekan. Hal ini membuat kami sama – sama merasakan nikmat. Tak lupa kami tetap berciuman dan saling meraba. Saat kembali kuserbu lehernya, mbak ani mulai mendesah dan merancau lagi. Desahannya makin sering saat kumulai menggesek dengan cepat. Hal ini membuatku semakin terangsang dan ingin segera memasukkan penisku kedalam hangatnya liang vaginanya.
Saat asyik saling menggesek hingga kurasakan cairan vaginanya makin membanjiri penisku, tanpa mbak ani sadari kumasukkan penisku secara mendadak dan cepat hingga mentok. Ugh meski sudah pernah melahirkan tapi vaginanya masih ketat menjepit penisku. Kelihatannya leher rahimnya dangkal, buktinya pangkal penisku masih diluar sekitar 1-2cm saat kurasakan ujung penisku membentur bagian terdalam vaginanya. “aaaaauuuuhhh….dit kok dimasukin??!! cabut dit!! aku udah bersuami!!” perintahnya tapi tak ku gubris dan malah melanjutkan menggonyang pantatku sehingga penisku mulai bergerak menikmati jepitan kuat, hangat dan lembab vaginanya sambil menciumnya agar tidak bisa berteriak. Posisiku yang sedikit menindih mbak ani membuatnya tidak bisa berkutik. Pada awalnya mbak ani terus meronta, tapi karena kondisinya yang mendekati orgasme saat kumasukkan penisku membuat mbak ani akhirnya menyerah dan malah menikmati goyanganku.
Kugoyang pantatku dengan semangat dengan beberapa variasi goyangan. Kadang maju mundur, kadang kiri kanan, kadang memutar. Hal ini membuatnya semakin melayang. “auuuhh…dit..kamu apakan vaginaku?? enak banget… eeemmmggghhh…sssttt…dit…aku udah ga tahan… aaaahhh…aku ingin keluar…” rintihnya kira – kira 15 menit setelah kemasukan penis. “keluarin saja mbak ani sayang…enggghh..vagina mbak enak sekali..” pujiku sambil mempercepat goyanganku. “Dit…aku keluar sayang!!! aaahhhh..enggghh… ssssttt..uuunngghh..” lenguhnya menikmati orgasme panjang yang dirasakan. Suuurrr….Suuuurrrr.. penisku merasakan siraman air surganya. “dit..nikmat sekali sayang…makasih ya..aku baru kali ini merasakan orgasme karena bersetubuh..suamiku hanya peduli diri sendiri..kamu belum keluar ya??” ucapnya sambil kembali menciumku. “sebentar lagi mbak… masih boleh kan kugoyang??” tanyaku. “boleh dong sayang…kamu sudah membuatku melayang…sekarang nikmati tubuhku semaumu…tapi sekarang kamu yang duduk ya dit…” katanya sambil berganti posisi. Mbak ani sekarang duduk dipangkuanku berhadapan.
“sekarang biar mbak yang puasin kamu sayang… didit haus ga??? mau minum susu??” tanyanya sambil menyodorkan payudaranya untuk kukenyot lagi sembari mulai menggoyang pantatnya maju mundur. Ternyata mbak ani membalas perlakuanku kepadanya yaitu dengan kardang merubah arah goyangan pantatnya. Aku hanya menikmati itu semua sambil menjilati dan ku kenyot payudaranya serta mendesah sesekali di telinganya. Hal ini membuat mbak ani makin bersemangat dan kembali terangsang. “Aaaahhh…dit….penismu enak sekali..uunggghh…eemmmhhhgg…”rancaunya. “vagina mbak juga enak…ssssttt…. aahh…mbak..enak mbak… bentar lagi…” rintihku yang disambut makin menggilanya goyangan mbak ani.
Tak lama kemudian aku yang hampir mencapai puncak merasakan bahwa mbak ani juga merasakan yang sama karena vaginanya makin ketat menjepit penisku dan rintihannya makin sering dan merangsang. “ dit…aku ingin keluar lagi…enak banget dit…aaahhh…sssttt..” baru saja mbak ani berkata seperti itu aku sudah tidak tahan ingin orgasme. “mbak aku keluar!!! aaaahhh…..eeengggghh…ssstttt…uuungggghh…” lenguhku mengiringi muncratnya spermaku kedalam rahimnya. Merasakan semburan lahar panasku membuat mbak ani juga orgasme. “aaahhh… dit!!!! aku keluar sayang!!!” segera saja kami kembali berciuman dengan rakus sambil menikmati orgasme berpelukan.
Selama beberapa saat kami terus berciuman hingga akhirnya melepaskan pagutan mesra kami. Mbak ani berbisik “terima kasih ya sayang…didit sudah membuatku menikmati surga dunia yang belum pernah kurasakan.” “mbak ga takut hamil karena aku keluar didalam???” tanyaku ragu. “tenang saja…aku sedang tidak subur…” ucapnya tersenyum dan menciumku singkat. Lega rasanya mendengar hal itu hingga akupun tersenyum dan membalas dengan meremas gemas payudaranya sejenak. Kami cepat cepat merapikan pakaian dan keluar dari kamar mandi bergantian lalu duduk kembali di kursi masing – masing. Suami dan anaknya masih tertidur pulas padahal saat itu kulihat sudah memasuki kota Y. Kami saling berpandangan dan tersenyum. Mbak ani kemudian memberikan nomer handphonenya kepadaku dan berkata “kapan – kapan lagi ya” sambil mengedipkan mata. Kujawab dengan senyuman dan kami berpisah di stasiun kota Y. Benar – benar beruntung aku bisa menikmati tubuh semantap itu.
Sesaat setelah mereka duduk dibangku sebelah bangku yang aku tempati kereta mulai kembali berjalan dan sang suami dan anak langsung terlelap seperti aku tadi setelah perjalanan dilanjutkan kembali sekitar setengah jam. Karena sang istri tinggal sendirian, aku memberanikan diri menyapa dan mengajak ngobrol. Yah sekedar basa basi agar tidak boring selama perjalanan (kebiasaanku sejak aku SMA).
“mbak, mau kekota apa?” sambil tersenyum ramah aku menegurnya.
“mau ke ke kota Y karena mertua sakit dik. Adik sendiri?” jawabnya sambil tersenyum manis.
“oh, aku juga sama mbak tapi karena aku emang kuliah di kota Y. Oya nama mbak siapa? Kenalkan namaku didit” kuulurkan tangan untuk berjabat tangan.
“aku ani dik, ini suamiku rudi dan anakku sandi” dia menyambut jabat tanganku sambil memperkenalkan suami dan anaknya.
Perbincanganpun mengalir dengan hangat selama kurang lebih 1 jam karena kelihaianku mengolah suasana. Kami juga sempat bercanda hingga dia tertawa terkikik karena lucunya. Menurutku mbak ani orangnya terbuka dan supel, buktinya dia tidak marah saat leluconku mulai menjurus kearah sex bahkan dia malah membalas dengan lelucon yang lebih menjurus. Selama ngobrol mataku sesekali melirik bongkahan dadanya yang terlihat sedikit dari celah kemejanya yang tanpa dia sadari 1 kancingnya terbuka di bagian dada persis. Mbak ani mulai salah tingkah dalam duduknya (dugaanku dia terangsang) saat menjawab pertanyaanku seputar tips menyenangkan wanita di ranjang. Dari pertanyaan – pertanyaanku mbak ani bukan tipe wanita yang suka tentang variasi seks seperti oral dan anal. Tapi dia sudah beberapa kali mencoba berbagai variasi gaya bersetubuh selama menikah 2 tahun ini.
Perbincangan terpaksa diputus dulu karena dia permisi ke kamar kecil. Niat isengku muncul mengingat selot kamar kecil itu. Beberapa saat setelah dia pergi, aku membuntuti kekamar kecil. Rupanya dia tidak sadar bahwa pintunya tidak terkunci dan hanya tertutup, buktinya dia dengan santai telanjang bagian bawah membelakangiku. Hal itu membuatku mulai terangsang, segera kubuka resleting celana dan cd lalu keluarin si boy dari sarang. Ukuran si boy emang biasa aja (panjang 15cm dan diameter 3,5cm) tapi lumayanlah. Kudekati mbak ani perlahan, saat tangan kirinyanya mau meraih celana dan cdnya kuberanikan diri memegang tangannya dengan tangan kiriku sedangkan tangan kananku membekap mulutnya. Dia sempat kaget tapi ketika mbak ani menoleh siapa dibelakangnya dia terdiam.
“mbak, jangan teriak ya kumohon. Aku hanya ingin diajari muasin cewek dalam sex..plis…” kataku sambil menampakkan wajah memelas.
Awal mulanya dia hanya menggelengkan kepala dan tetap memberontak. Aku bisa membuat mataku sendiri berkaca – kaca seperti mau menangis, kulakukan itu sambil terus memohon dan pura – pura terisak. Akhirnya dia luluh dan menganggukkan kepala lemah. Kulepaskan tanganku, ”kena kau” batinku.
“didit udah pernah ciuman?” tanyanya.
“sudah mbak,kenapa mbak?” balasku dengan wajah polos.
“coba cium aku dit” perintahnya.
aku mulai memeluknya dan menciunmya, pada awalnya biasa saja lalu lidahku berusaha menyeruak kedalam mulutnya dan ternyata dia membalas dengan lebih agresif. Akhirnya kupakai teknik back door yang memanfaatkan lidahku yang panjang hingga aku bisa mengimbanginya.
“ciuman didit mantap juga ya” aku hanya tersenyum pura – pura malu.
“sekarang coba rangsang aku dit semampumu tapi hanya sebatas sampai leher saja”
dalam hati aku bersorak.
Aku mulai menciumnya lagi lalu menggerayangi dan menciumi bagian belakang telinga dan menjilati telinganya. “Aaahhg…sssttt…eeeenggghh…” desahnya saat kulakuin itu,ciumanku mulai turun ke leher. Kujilat dan kucium leher putihnya, harum parfumnya membuatku bersemangat. “Uuuugghh….aaaahhhh….eeemmghh….sssstttt… dit enak dit… terus dit… aaaaaahhh…eeeeennnggghh… dit jangan ada bekasnya…” bisiknya. Aku sadar bahwa mbak ani takut ketahuan suaminya. Kucoba menelusupkan tanganku kedalam bajunya saat kedua tangannya terangkat memeluk leherku. Terlambat buat mbak ani untuk merespon karena kedua tanganku sudah masuk kedalam baju dan meremas – remas payudaranya dari luar BH. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengerang dan mendesah karena kuserang leher dan kedua payudaranya secara bersamaan.
“didit…aaaaahhhhgg…kamu nakal…ssssttt….eeeennggghh…” rancaunya tapi tanpa penolakan karena rangsangan yang mbak ani alami begitu kuat. Secara mendadak kuangkat bajunya sebatas leher hingga mempertontonkan 2 bongkah gunung kembar dibungkus BH kuning menyala. Beruntungnya aku karena kancing Bhnya ada di depan. Sekilas kulihat ukurannya 36C (besar cuy…), seketika itu pula kubuka kancin bhnya dan terpampanglah payudaranya tanpa penutup apapun. Langsung aku kenyot putting kanannya dan kupilin – pilin putting kirinya. “Aaaaaaahhhh…eeeemmnggh…dit…kamu apakan putingku…uuggghh…” erangnya sambil bersandar di dinding. “Geli dit…aaaaaggghh…dit…cukup…ssstt…dit…enak banget…mmmnngghh..melayang aku rasanya…aaahhh…” rancaunya makin keras.
Karena takut ada yang mendengar langsung aku cium lagi mbak ani dengan ganas sambil tangan kananku meremas payudara kanannya dan tangan kiriku mengocok kemaluannya yang ternyata sudah banjir. “mmmpphh…nnnggghh…ssslllurrpp…” yang keluar dari mulutnya yang sedang kuajak french kiss lagi. Kedua tangannya tidak berdaya karena terjepit punggungnya sendiri sedang tubuh mbak ani terjepit antara tubuhku dan dinding. Tapi tubuhnya semakin menggelinjang kuperlakuin seperti itu. Tidak lama kemudian kemaluan mbak ani makin lembab, disini aku lagi – lagi memasang perangkap. Kuhentikan semua cumbuanku hingga mbak ani termangu.
“lho dit kok berhenti?! Jangan dong..lanjutin ya dit..aku jadi ngambang dan aneh nih rasanya..lanjutin dong ampe mbak keluar..” pintanya.
“ya mbak..tapi sekarang boleh ya aku masukin si boy? Dari tadi berdiri ampe sakit nih” rayuku.
“jangan dit, aku sudah bersuami…” tolaknya.
“cuma digesek – gesekin aja deh mbak enggak papa ampe aku juga keluar biar sama – sama enak. Boleh ya mbak? Plis……” rengekku sambil mulai kembali membelai – belai payudaranya dan tanganku satunya mengelus – elus si boy yang sedari tadi menganguk – angguk karena sudah tegang.
Mendapat serangan psikologis seperti itu terus menerus akhirnya dia luluh.
“cuma digesek – gesek aja ya ga lebih…” pintanya sambil kududukkan dia ke kloset.
“makasih ya mbak ani sayang” ucapku dan kukecup singkat bibirnya sambil ku posisikan tubuhku sedemikian rupa hingga penisku terhimpit diantara pangkal pahanya persis di mulut vaginanya (bayangin aja duduk berhadapan dan aku terlihat seperti memangku mbak ani dan kakinya memeluk pinggangku sedang tubuh kami seperti berpelukan).
Aku mulai menggoyang pantatku sehinnga kemaluan kami bergesekan. Hal ini membuat kami sama – sama merasakan nikmat. Tak lupa kami tetap berciuman dan saling meraba. Saat kembali kuserbu lehernya, mbak ani mulai mendesah dan merancau lagi. Desahannya makin sering saat kumulai menggesek dengan cepat. Hal ini membuatku semakin terangsang dan ingin segera memasukkan penisku kedalam hangatnya liang vaginanya.
Saat asyik saling menggesek hingga kurasakan cairan vaginanya makin membanjiri penisku, tanpa mbak ani sadari kumasukkan penisku secara mendadak dan cepat hingga mentok. Ugh meski sudah pernah melahirkan tapi vaginanya masih ketat menjepit penisku. Kelihatannya leher rahimnya dangkal, buktinya pangkal penisku masih diluar sekitar 1-2cm saat kurasakan ujung penisku membentur bagian terdalam vaginanya. “aaaaauuuuhhh….dit kok dimasukin??!! cabut dit!! aku udah bersuami!!” perintahnya tapi tak ku gubris dan malah melanjutkan menggonyang pantatku sehingga penisku mulai bergerak menikmati jepitan kuat, hangat dan lembab vaginanya sambil menciumnya agar tidak bisa berteriak. Posisiku yang sedikit menindih mbak ani membuatnya tidak bisa berkutik. Pada awalnya mbak ani terus meronta, tapi karena kondisinya yang mendekati orgasme saat kumasukkan penisku membuat mbak ani akhirnya menyerah dan malah menikmati goyanganku.
Kugoyang pantatku dengan semangat dengan beberapa variasi goyangan. Kadang maju mundur, kadang kiri kanan, kadang memutar. Hal ini membuatnya semakin melayang. “auuuhh…dit..kamu apakan vaginaku?? enak banget… eeemmmggghhh…sssttt…dit…aku udah ga tahan… aaaahhh…aku ingin keluar…” rintihnya kira – kira 15 menit setelah kemasukan penis. “keluarin saja mbak ani sayang…enggghh..vagina mbak enak sekali..” pujiku sambil mempercepat goyanganku. “Dit…aku keluar sayang!!! aaahhhh..enggghh… ssssttt..uuunngghh..” lenguhnya menikmati orgasme panjang yang dirasakan. Suuurrr….Suuuurrrr.. penisku merasakan siraman air surganya. “dit..nikmat sekali sayang…makasih ya..aku baru kali ini merasakan orgasme karena bersetubuh..suamiku hanya peduli diri sendiri..kamu belum keluar ya??” ucapnya sambil kembali menciumku. “sebentar lagi mbak… masih boleh kan kugoyang??” tanyaku. “boleh dong sayang…kamu sudah membuatku melayang…sekarang nikmati tubuhku semaumu…tapi sekarang kamu yang duduk ya dit…” katanya sambil berganti posisi. Mbak ani sekarang duduk dipangkuanku berhadapan.
“sekarang biar mbak yang puasin kamu sayang… didit haus ga??? mau minum susu??” tanyanya sambil menyodorkan payudaranya untuk kukenyot lagi sembari mulai menggoyang pantatnya maju mundur. Ternyata mbak ani membalas perlakuanku kepadanya yaitu dengan kardang merubah arah goyangan pantatnya. Aku hanya menikmati itu semua sambil menjilati dan ku kenyot payudaranya serta mendesah sesekali di telinganya. Hal ini membuat mbak ani makin bersemangat dan kembali terangsang. “Aaaahhh…dit….penismu enak sekali..uunggghh…eemmmhhhgg…”rancaunya. “vagina mbak juga enak…ssssttt…. aahh…mbak..enak mbak… bentar lagi…” rintihku yang disambut makin menggilanya goyangan mbak ani.
Tak lama kemudian aku yang hampir mencapai puncak merasakan bahwa mbak ani juga merasakan yang sama karena vaginanya makin ketat menjepit penisku dan rintihannya makin sering dan merangsang. “ dit…aku ingin keluar lagi…enak banget dit…aaahhh…sssttt..” baru saja mbak ani berkata seperti itu aku sudah tidak tahan ingin orgasme. “mbak aku keluar!!! aaaahhh…..eeengggghh…ssstttt…uuungggghh…” lenguhku mengiringi muncratnya spermaku kedalam rahimnya. Merasakan semburan lahar panasku membuat mbak ani juga orgasme. “aaahhh… dit!!!! aku keluar sayang!!!” segera saja kami kembali berciuman dengan rakus sambil menikmati orgasme berpelukan.
Selama beberapa saat kami terus berciuman hingga akhirnya melepaskan pagutan mesra kami. Mbak ani berbisik “terima kasih ya sayang…didit sudah membuatku menikmati surga dunia yang belum pernah kurasakan.” “mbak ga takut hamil karena aku keluar didalam???” tanyaku ragu. “tenang saja…aku sedang tidak subur…” ucapnya tersenyum dan menciumku singkat. Lega rasanya mendengar hal itu hingga akupun tersenyum dan membalas dengan meremas gemas payudaranya sejenak. Kami cepat cepat merapikan pakaian dan keluar dari kamar mandi bergantian lalu duduk kembali di kursi masing – masing. Suami dan anaknya masih tertidur pulas padahal saat itu kulihat sudah memasuki kota Y. Kami saling berpandangan dan tersenyum. Mbak ani kemudian memberikan nomer handphonenya kepadaku dan berkata “kapan – kapan lagi ya” sambil mengedipkan mata. Kujawab dengan senyuman dan kami berpisah di stasiun kota Y. Benar – benar beruntung aku bisa menikmati tubuh semantap itu.
Perawat Berjilbab
gan perkenalin ane Ian sekarang ane kerja di kota terbesar kedua di
Jatim (you know lah..), ini cerita ane beberapa tahun lalu. Waktu itu
ane lagi magang di Jakarta selama disini ane tinggal di rumah om ane.
Tapi lebaran ne ane ndak bisa pulang coz mahalnya tiket pp n banyaknya
kerjaan.
nah, dirumah om ane ne ada anak yang ngekos sebut saja namanya mbak Ida. Dia uda dianggap keluarga sendiri jadi uda dipercaya ma keluarga om ane. Ida ne kerja di rumah sakit deket sini sebagai suster. dia juga ndak bisa pulang coz dia g dapet cuti.. anaknya sih lumayan imut, item manis (kesukaan ane ne). tapi badannya lebih kecil daripada ane tapi toketnya ukuran 34b ma bokongnya juga lumayan montok. Selama di rumah dia tetep pakai jilbab walaupun Cuma pake kaos lengan pendek sama celana panjang. Pernah dia make kaos ketat n clana training, maaak bikin ane selalu curi2 pandang ke dia.
well selama ane disini ane uda mulai akrab ma dia n dia uda anggep ane adiknya (katanya dia sih gitu, emang sih dia lebih tua 3 tahun) jadi kita sering bencanda2 gitu.. awalnya sih cuma bcanda biasa tapi akhir2 ne dia mulai berani nyentuh2 ane duluan mulai nggenggam tangan ane sampe mbelai kepala ane. nah beberapa waktu kemaren ane iseng ne tidur di pundaknya trus turun di pangkuannya dia, eh dia ngebiarin n malah mbelai2 rambut ane.. pokoknya manjain ane banget dah gan cowok mana tu yang g seneng?? otomatis ane jadi mikir yang aneh-aneh juga
nah lebaran pasti identik dengan mudik g terkecuali om ane sekeluarga bakal mudik so ane bakal beduaan ma dia dirumah om ane.. Wah kesempatan banget ne pikirku..
setelah beberapa hari setelah lebaran ane ajak aja si Ida buat jalan2 ke mall makan malam bareng sekalian nonton dan dia ngeiyain. Kebetulan besok dia dapet shift pagi, jadi sorenya jadwa dia kosong. Ane jemput dia pake motor V-xion kesayangan ane. Sampai di RS ane sms dia
“mbak, aku di depan”
G lama dia bales “ok, langsung berangkat ne?”“iya, males kalau balik ke rumah”
5 menit setelah itu dia keluar, tapi dia da ganti baju. Memang sih biasanya dia berangkat pakai baju bebas tapi di kantor dia ganti baju seragamnya yang putih2 itu. Hari itu dia pakai jilbab putih, kaos lengan panjang lumayan ketat, n clana jins. Hmmm sopan, tapi ******
Waktu mau naik dia ngrasa kesulitan, otomatis ane langsung sodorin tangan ane buat pegangannya dia. Mulus gan tangannya.. langsung kita cabut ke salah satu mall, makan bareng di resto fastfood jepang. Trus nonton, waktu itu genre filmnya drama-action cukup lah buat curi2 kesempatan. Dia emang ga bawa jaket so ane tawarin buat ngasih jaket ane dia mau.. dapet bonus gan, dia meluk lengan ane trus nyenderin kepalanya ke pundak ane. Hmmm lengan ane nempel ke dadanya gan. Huft clana ane langsung sempit ne..
Pulang dari mall kita langsung pulang coz takut kemaleman. Nyampe rumah jam 9 ane langsung rebahan di sofa depan TV. Ida pun protes “iiih jorok, ayo mandi dulu adekq cayaang.” Ane heran juga dipanggil gitu, ane pun ngelunjak “g mau ah, males.” “ayo mandi.. aku mandiin loh.” “ah, mbak jangan becanda ah.” Batinku bilang mulai nakal ni orang. “yauda sih.. mbak mandi dulu ya, ntar klo aku da mandi gantian.” Dia pun langsung ke kamar, ambil peralatan mandi trus ke kamar mandi. Pikiranku langsung melayang mikirin gimana kulit sawo matangnya mengkilat terkena air. Ah, bangun lagi kan si otong.. yauda lah ane buat tidur aja daripada mupeng tapi g bisa disalurin hasratnya. Mana acara di TV g ada yang menarik.
Ane pun tertidur di sofa. Bangun2 ane liat di jam dinding uda jam 11 malem ne, tapi ane ngrasa ada seseorang di sebelahku. Mbak Ida ikutan nimbrung, dia bilang lagi g bisa tidur n lagi bete. Malem itu dia pakai jilbab pendek hitam, n baju tidur warna kuning. Tiba2 dia bilang ”Ian, boleh pinjem tangannya g?” aq jawab ”buat apa?” ”gpp biar tenang dikit” wah pikiranku mulai macem2 neh ”ywda pegang aja. Tapi di karpet yuk biar aq bisa tiduran” dia pun setuju
aq pura-pura tidur di samping kanannya. Nah waktu pura-pura tidur ane miringin badan ane trus meluk pinggangnya dari belakang pke tangan kanan ane. Tapi dia diem aja sambil tetep genggam tangan kiri ane pke tangan kanannya n tangan kirinya belai-belai rambutku. 5 menit kemudian aq melek trus ane tanya ”emang masalah apa sih?” ” gpp g usah dibahas ya,, btw tadi kamu meluk aku loh,, kamu kira aku guling? Nakal ya” ujarnya sambil nyubit tanganku. Ane pura2 ngrasa bersalah ”ah masa sih? Ya maaf klo kamu g suka” ” gpp kk, aku jadi lebih tenang” jawabnya sambil tersenyum.
Wah ada kesempatan nih pikirku. ”Aku isengin lagi ah” ujarku dalam hati. ”ywda mau ku peluk lagi?” ”emm gimana ya.. Iy deh”
wuih kesempatan emas neh. Lalu ane duduk dibelakangnya trus meluk dia dari belakang sambil ngajak dia ngobrol. Uda hampir setengah jam ane diposisi gini. Mulai bosen ane iseng masukin tangan ke bajunya jadi tangan kanan ane meluk langsung ke kulit perutnya yang mulus itu dia diem aja, tangan kiriku pun g mau ketinggalan kasih serangan ngelus2 pahanya. Ane rasa nafasnya mulai g teratur. Lalu ane bilang ke dia, “mbak kamu sayang aku g?” “iya ian.. mbak sayang kamu, selama ne mbak ngrasa punya seseorang yang bisa ngelindungin mbak…” ane langsung ngelus2 pipinya trus nyium pipinya, dia diem aja. Ane coba langsung ngecup bibirnya, dia awalnya diem tapi akhirnya dia membalas.
Tanganku kananku mulai naik ngelus2 dada 34b nya yang masih tertutup BH dan yang kiri tetep mbelai pahanya n semakin dekat ke mrs. V nya. “ian.. jangan..” ucapnya lirih menahan nafsu. “mbak, jujur aku slama ne slalu terbayang sama dadamu ini. boleh kan aku nyentuh sebentar.. aja” “emmmf terserah kamu sayang..” tangang langsung masuk ke dalam BH nya, “kenyal banget sih..” dia Cuma bisa melenguh saat aku putar2 dada kanannya. Ku buka BH nya pakai tangan kiriku, tess langsung ku putar2 kedua payudaranya pakai kedua tanganku. Dia menggelinjang seperti tersengat oleh listrik watt saat tangan ane terus meremas, dan sesekali menyentuh dengan lembut puting payudara mbak ida dengan jariku. lalu aq tarik badannya agar bersandar di dadaku lalu aku menciumi bukit indah itu, lidahku mengulum dan menggigit kecil puting susu Ida yang masih berwarna coklat tua itu. “enak mbak??” “enak sayaang.. teruuus”
Lalu tangan kiriku langsung mengusap mrs. Vnya dengan lembut bibir vagina tersebut sampai akhirnya aku tak sabar dan segera memasukkan tanganku ke dalam celana dalamnya dan memainkan permukaan mrs. Vnya. Dia langsung menjambak rambutku, tak ku hiraukan, aku menikmati reaksinya yang menggelinjang hebat. Aku semakin liar menciumi payudaranya.. jariku mulai memasuki liang vaginanya.
“aaaah.. iaaaan emmmmmf” Ida semakin liar dan jilbabnya pun berantakan. Tangan ane g merasakan ada halangan apapun. “mbak, kamu da pernah ML ya?” “emmmf iya ian, sama mantan mbak waktu sma. Sudah lama banget mbak g ngrasain kenikmatan ini.” ah tak masalah dia g perawan, yang penting dapet.. “kamu juga uda pernah ya ian?” “iya mbak.” “pantes pinter bangeet.. emmf terus ian…” ucapnya memohon.
Aku pun mulai menggerakkannya keluar masuk secara perlahan-lahan, ane melakukannya dengan lembut sambil sesekali mengulum bibirnya dan dadanya bergantian. “argh …. ian.” kata Ida terbata-bata. Ia lalu mulai meraba2 isi celanaku dan bergerak ke sisi kanan dengan tetap membiarkan tanganku mengobok2 mrs. Vnya. Dikeluarkanlah si otong yang uda on banget dan mulai mengelus2nya. Kepala si otong uda mulai keluar cairan pelumasnya lalu dikocoknya dengan tangannya yang lembut. Ukuran panjang otongku normal sih.. 13 cm dengan tebal 4 cm. “ian, gede juga ya kontolmu.” Ia lalu mengocoknya perlahan sesekali diemutnya. “aaaaaahh mbak.. enaaaaak” ida pun tersenyum dan langsung menggarap otongku dengan ganas. Ane g mau kalah dengan makin cepat mengocok Mrs. Vnya.
Lalu dia pun berhenti mengocok otongku. “Ian, masukin kontolmu ya.. plisss mbak kangen pengen ML.” “iya,, g sabaran amat sih say..” jawab ane sambil meremas dadanya. “jilbabmu jangan dilepas ya.” “iya ian..” lalu ane mlorotin celananya dan kini dia Cuma memakai jilbab dan kaosnya yang suda ane singkap ke atas. Meninggalkan pemandangan indah, seorang gadis berjilbab dengan kulit sawo matang terhampar di depan ane. Lalu ane bertumpu dengan lututku dan pelan2 aku menggesek2an si otong ke mrs. Vnya “mmmf gelii” ujar mbak Ida terbata “ahhhh …. pelan2 ian.. mbak uda lama g ML.” “Iya mabk, tahan ya…” jawab Toni penuh perhatian.. aku pun pelan2 masukin kepala si otong ke dalam mrs. V mbak Ida. Mrs. V mbak ida rapet banget gan mungkin karena dia da lama g maen sama cowok kali ya.. “emmmmf… memekk mu rapet banget sih mbak…..” sambil pelan2 ane masukin si otong ke dalam liang kenikmatan itu.
“arghhh… ian…” Ida mendesis pelan sambil memejamkan matanya menahan rasa nikmat itu. Ane diemin dulu aja, biar dia nikmati rasa yang sudah lama g dia rasain. Lalu ane pelan2 gerakin pinggul ane, maju mundur semakin lama semakin cepat. Sesekali aku sodok sampai mentok “ah ah ah iiaaaan… mmmf sssh..” “enak mbak?” “enaaak bangeet” jawabnya terbata2 mrs. Vnya pun semakin becek.. mbak Ida pun akhirnya ikut menggerakkan pinggulnya.
Setelah 10 menit ane Bosan gaya ini, ane angkat kakinya dan ane letakkan di pundak ane supaya sodokanku bisa lebih dalam. Terbukti mbak ida makin liar mendesah. “aaaahh.. iaaan nikmat yaan..” 10 menit kemudian rasanya aku mau mencapai puncak kenikmatan “mbak, kayaknya aku da mau keluar ini..” “yauda keluarin aja yan.. mbak juga da mau kluar ne.. kluarin didalem aja.. mbak kemaren baru selesai dapet kok.. jadi gpp.. ahhh…”
Benar saja tak lama ane n mbak ida mencapai puncaknya “ian…. aku mau keluar.. geli bangeeeett aaaahhhhhghh.. “ teriak mbak Ida lalu badan mbak Ida kejang, dan aku pun mengeluarkan semburan spermaku ke dalam liang kenikmatan itu “arghhhh…..”
Hah.. hah.. hah.. kami berdua sama2 ngos2an setelah bertempur.. benar2 kenikmatan yang tiada tara. Lalu aku pun mengajak mbak ida untuk tidur berdua di kamarku, sama2 telanjang tapi aku suruh dia agar ga melepaskan jilbabnya. Esoknya kami ga kemana2 , mandi, makan, tidur2an kami lakukan berdua tanpa pakaian, hanya dia yang menggunakan jilbabnya. Benar2 pengalaman yang gila dan tak terlupakan. Kini aku kembali ke Jatim dan bekerja disini sementara dia masih di Jakarta. Kami pun masih berhubungan baik sampai sekarang dan setiap aku ke jakarta pasti aku sempatkan memuaskan nafsu birahiku dengannya
nah, dirumah om ane ne ada anak yang ngekos sebut saja namanya mbak Ida. Dia uda dianggap keluarga sendiri jadi uda dipercaya ma keluarga om ane. Ida ne kerja di rumah sakit deket sini sebagai suster. dia juga ndak bisa pulang coz dia g dapet cuti.. anaknya sih lumayan imut, item manis (kesukaan ane ne). tapi badannya lebih kecil daripada ane tapi toketnya ukuran 34b ma bokongnya juga lumayan montok. Selama di rumah dia tetep pakai jilbab walaupun Cuma pake kaos lengan pendek sama celana panjang. Pernah dia make kaos ketat n clana training, maaak bikin ane selalu curi2 pandang ke dia.
well selama ane disini ane uda mulai akrab ma dia n dia uda anggep ane adiknya (katanya dia sih gitu, emang sih dia lebih tua 3 tahun) jadi kita sering bencanda2 gitu.. awalnya sih cuma bcanda biasa tapi akhir2 ne dia mulai berani nyentuh2 ane duluan mulai nggenggam tangan ane sampe mbelai kepala ane. nah beberapa waktu kemaren ane iseng ne tidur di pundaknya trus turun di pangkuannya dia, eh dia ngebiarin n malah mbelai2 rambut ane.. pokoknya manjain ane banget dah gan cowok mana tu yang g seneng?? otomatis ane jadi mikir yang aneh-aneh juga
nah lebaran pasti identik dengan mudik g terkecuali om ane sekeluarga bakal mudik so ane bakal beduaan ma dia dirumah om ane.. Wah kesempatan banget ne pikirku..
setelah beberapa hari setelah lebaran ane ajak aja si Ida buat jalan2 ke mall makan malam bareng sekalian nonton dan dia ngeiyain. Kebetulan besok dia dapet shift pagi, jadi sorenya jadwa dia kosong. Ane jemput dia pake motor V-xion kesayangan ane. Sampai di RS ane sms dia
“mbak, aku di depan”
G lama dia bales “ok, langsung berangkat ne?”“iya, males kalau balik ke rumah”
5 menit setelah itu dia keluar, tapi dia da ganti baju. Memang sih biasanya dia berangkat pakai baju bebas tapi di kantor dia ganti baju seragamnya yang putih2 itu. Hari itu dia pakai jilbab putih, kaos lengan panjang lumayan ketat, n clana jins. Hmmm sopan, tapi ******
Waktu mau naik dia ngrasa kesulitan, otomatis ane langsung sodorin tangan ane buat pegangannya dia. Mulus gan tangannya.. langsung kita cabut ke salah satu mall, makan bareng di resto fastfood jepang. Trus nonton, waktu itu genre filmnya drama-action cukup lah buat curi2 kesempatan. Dia emang ga bawa jaket so ane tawarin buat ngasih jaket ane dia mau.. dapet bonus gan, dia meluk lengan ane trus nyenderin kepalanya ke pundak ane. Hmmm lengan ane nempel ke dadanya gan. Huft clana ane langsung sempit ne..
Pulang dari mall kita langsung pulang coz takut kemaleman. Nyampe rumah jam 9 ane langsung rebahan di sofa depan TV. Ida pun protes “iiih jorok, ayo mandi dulu adekq cayaang.” Ane heran juga dipanggil gitu, ane pun ngelunjak “g mau ah, males.” “ayo mandi.. aku mandiin loh.” “ah, mbak jangan becanda ah.” Batinku bilang mulai nakal ni orang. “yauda sih.. mbak mandi dulu ya, ntar klo aku da mandi gantian.” Dia pun langsung ke kamar, ambil peralatan mandi trus ke kamar mandi. Pikiranku langsung melayang mikirin gimana kulit sawo matangnya mengkilat terkena air. Ah, bangun lagi kan si otong.. yauda lah ane buat tidur aja daripada mupeng tapi g bisa disalurin hasratnya. Mana acara di TV g ada yang menarik.
Ane pun tertidur di sofa. Bangun2 ane liat di jam dinding uda jam 11 malem ne, tapi ane ngrasa ada seseorang di sebelahku. Mbak Ida ikutan nimbrung, dia bilang lagi g bisa tidur n lagi bete. Malem itu dia pakai jilbab pendek hitam, n baju tidur warna kuning. Tiba2 dia bilang ”Ian, boleh pinjem tangannya g?” aq jawab ”buat apa?” ”gpp biar tenang dikit” wah pikiranku mulai macem2 neh ”ywda pegang aja. Tapi di karpet yuk biar aq bisa tiduran” dia pun setuju
aq pura-pura tidur di samping kanannya. Nah waktu pura-pura tidur ane miringin badan ane trus meluk pinggangnya dari belakang pke tangan kanan ane. Tapi dia diem aja sambil tetep genggam tangan kiri ane pke tangan kanannya n tangan kirinya belai-belai rambutku. 5 menit kemudian aq melek trus ane tanya ”emang masalah apa sih?” ” gpp g usah dibahas ya,, btw tadi kamu meluk aku loh,, kamu kira aku guling? Nakal ya” ujarnya sambil nyubit tanganku. Ane pura2 ngrasa bersalah ”ah masa sih? Ya maaf klo kamu g suka” ” gpp kk, aku jadi lebih tenang” jawabnya sambil tersenyum.
Wah ada kesempatan nih pikirku. ”Aku isengin lagi ah” ujarku dalam hati. ”ywda mau ku peluk lagi?” ”emm gimana ya.. Iy deh”
wuih kesempatan emas neh. Lalu ane duduk dibelakangnya trus meluk dia dari belakang sambil ngajak dia ngobrol. Uda hampir setengah jam ane diposisi gini. Mulai bosen ane iseng masukin tangan ke bajunya jadi tangan kanan ane meluk langsung ke kulit perutnya yang mulus itu dia diem aja, tangan kiriku pun g mau ketinggalan kasih serangan ngelus2 pahanya. Ane rasa nafasnya mulai g teratur. Lalu ane bilang ke dia, “mbak kamu sayang aku g?” “iya ian.. mbak sayang kamu, selama ne mbak ngrasa punya seseorang yang bisa ngelindungin mbak…” ane langsung ngelus2 pipinya trus nyium pipinya, dia diem aja. Ane coba langsung ngecup bibirnya, dia awalnya diem tapi akhirnya dia membalas.
Tanganku kananku mulai naik ngelus2 dada 34b nya yang masih tertutup BH dan yang kiri tetep mbelai pahanya n semakin dekat ke mrs. V nya. “ian.. jangan..” ucapnya lirih menahan nafsu. “mbak, jujur aku slama ne slalu terbayang sama dadamu ini. boleh kan aku nyentuh sebentar.. aja” “emmmf terserah kamu sayang..” tangang langsung masuk ke dalam BH nya, “kenyal banget sih..” dia Cuma bisa melenguh saat aku putar2 dada kanannya. Ku buka BH nya pakai tangan kiriku, tess langsung ku putar2 kedua payudaranya pakai kedua tanganku. Dia menggelinjang seperti tersengat oleh listrik watt saat tangan ane terus meremas, dan sesekali menyentuh dengan lembut puting payudara mbak ida dengan jariku. lalu aq tarik badannya agar bersandar di dadaku lalu aku menciumi bukit indah itu, lidahku mengulum dan menggigit kecil puting susu Ida yang masih berwarna coklat tua itu. “enak mbak??” “enak sayaang.. teruuus”
Lalu tangan kiriku langsung mengusap mrs. Vnya dengan lembut bibir vagina tersebut sampai akhirnya aku tak sabar dan segera memasukkan tanganku ke dalam celana dalamnya dan memainkan permukaan mrs. Vnya. Dia langsung menjambak rambutku, tak ku hiraukan, aku menikmati reaksinya yang menggelinjang hebat. Aku semakin liar menciumi payudaranya.. jariku mulai memasuki liang vaginanya.
“aaaah.. iaaaan emmmmmf” Ida semakin liar dan jilbabnya pun berantakan. Tangan ane g merasakan ada halangan apapun. “mbak, kamu da pernah ML ya?” “emmmf iya ian, sama mantan mbak waktu sma. Sudah lama banget mbak g ngrasain kenikmatan ini.” ah tak masalah dia g perawan, yang penting dapet.. “kamu juga uda pernah ya ian?” “iya mbak.” “pantes pinter bangeet.. emmf terus ian…” ucapnya memohon.
Aku pun mulai menggerakkannya keluar masuk secara perlahan-lahan, ane melakukannya dengan lembut sambil sesekali mengulum bibirnya dan dadanya bergantian. “argh …. ian.” kata Ida terbata-bata. Ia lalu mulai meraba2 isi celanaku dan bergerak ke sisi kanan dengan tetap membiarkan tanganku mengobok2 mrs. Vnya. Dikeluarkanlah si otong yang uda on banget dan mulai mengelus2nya. Kepala si otong uda mulai keluar cairan pelumasnya lalu dikocoknya dengan tangannya yang lembut. Ukuran panjang otongku normal sih.. 13 cm dengan tebal 4 cm. “ian, gede juga ya kontolmu.” Ia lalu mengocoknya perlahan sesekali diemutnya. “aaaaaahh mbak.. enaaaaak” ida pun tersenyum dan langsung menggarap otongku dengan ganas. Ane g mau kalah dengan makin cepat mengocok Mrs. Vnya.
Lalu dia pun berhenti mengocok otongku. “Ian, masukin kontolmu ya.. plisss mbak kangen pengen ML.” “iya,, g sabaran amat sih say..” jawab ane sambil meremas dadanya. “jilbabmu jangan dilepas ya.” “iya ian..” lalu ane mlorotin celananya dan kini dia Cuma memakai jilbab dan kaosnya yang suda ane singkap ke atas. Meninggalkan pemandangan indah, seorang gadis berjilbab dengan kulit sawo matang terhampar di depan ane. Lalu ane bertumpu dengan lututku dan pelan2 aku menggesek2an si otong ke mrs. Vnya “mmmf gelii” ujar mbak Ida terbata “ahhhh …. pelan2 ian.. mbak uda lama g ML.” “Iya mabk, tahan ya…” jawab Toni penuh perhatian.. aku pun pelan2 masukin kepala si otong ke dalam mrs. V mbak Ida. Mrs. V mbak ida rapet banget gan mungkin karena dia da lama g maen sama cowok kali ya.. “emmmmf… memekk mu rapet banget sih mbak…..” sambil pelan2 ane masukin si otong ke dalam liang kenikmatan itu.
“arghhh… ian…” Ida mendesis pelan sambil memejamkan matanya menahan rasa nikmat itu. Ane diemin dulu aja, biar dia nikmati rasa yang sudah lama g dia rasain. Lalu ane pelan2 gerakin pinggul ane, maju mundur semakin lama semakin cepat. Sesekali aku sodok sampai mentok “ah ah ah iiaaaan… mmmf sssh..” “enak mbak?” “enaaak bangeet” jawabnya terbata2 mrs. Vnya pun semakin becek.. mbak Ida pun akhirnya ikut menggerakkan pinggulnya.
Setelah 10 menit ane Bosan gaya ini, ane angkat kakinya dan ane letakkan di pundak ane supaya sodokanku bisa lebih dalam. Terbukti mbak ida makin liar mendesah. “aaaahh.. iaaan nikmat yaan..” 10 menit kemudian rasanya aku mau mencapai puncak kenikmatan “mbak, kayaknya aku da mau keluar ini..” “yauda keluarin aja yan.. mbak juga da mau kluar ne.. kluarin didalem aja.. mbak kemaren baru selesai dapet kok.. jadi gpp.. ahhh…”
Benar saja tak lama ane n mbak ida mencapai puncaknya “ian…. aku mau keluar.. geli bangeeeett aaaahhhhhghh.. “ teriak mbak Ida lalu badan mbak Ida kejang, dan aku pun mengeluarkan semburan spermaku ke dalam liang kenikmatan itu “arghhhh…..”
Hah.. hah.. hah.. kami berdua sama2 ngos2an setelah bertempur.. benar2 kenikmatan yang tiada tara. Lalu aku pun mengajak mbak ida untuk tidur berdua di kamarku, sama2 telanjang tapi aku suruh dia agar ga melepaskan jilbabnya. Esoknya kami ga kemana2 , mandi, makan, tidur2an kami lakukan berdua tanpa pakaian, hanya dia yang menggunakan jilbabnya. Benar2 pengalaman yang gila dan tak terlupakan. Kini aku kembali ke Jatim dan bekerja disini sementara dia masih di Jakarta. Kami pun masih berhubungan baik sampai sekarang dan setiap aku ke jakarta pasti aku sempatkan memuaskan nafsu birahiku dengannya
Minggu, 21 September 2014
Tergoda Tetanggaku ....
Kurasa tidak perlu aku ceritakan tentang nama dan asalku, serta
tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati empat
puluh tahun, kalau dipikir-pikir seharusnya aku sudah punya anak, karena
aku sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya. Walaupun aku tidak
begitu ganteng, aku cukup beruntung karena mendapat isteri yang
menurutku sangat cantik. Bahkan dapat dikatakan dia yang tercantik di
lingkunganku, yang biasanya menimbulkan kecemburuan para tetanggaku.
Isteriku bernama Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.
Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, wooow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.
Mereka pun sama seperti kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini karena tugas baru suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang baru membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Agus dan Mbak Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami seperti saudara saja karena hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.
Pada suatu malam, saya seperti biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya baru dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak karena selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami.
“Waduh, gimana ini Gus..? Nggak enak nih..!”
“Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak bisa dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian.” katanya menyebut isteriku.
Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya aku pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.
“Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?” kata isteriku ketika kuajak.
Akhirnya aku malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan langsung tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya aku tidak bertemu Agus, karena sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya aku hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika aku lewat, dia menanyaiku tentang yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga aku langsung saja tidur.
Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Resty kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.
Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.
“Mas.., sekarang Mas..!” pinta isteriku memelas.
Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.
Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, “Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?”
Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini.
Sorenya Agus datang ke rumahku, “Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?” tanyanya setelah kami berbasa-basi.
“Maksudmu apa Gus..?” tanyaku heran.
“Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi dia melihat Mas dan Mbak Resty bergulat setelah ngobrol dengannya.”
Loh, aku heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.
Agus langsung menambahkan, “Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas.” katanya tanpa malu-malu.
“Begini saja Mas,” tanpa harus memahami perasaanku, Agus langsung melanjutkan, “Aku punya ide, gimana kalau nanti malam kita bikin acara..?”
“Acara apa Gus..?” tanyaku penasaran.
“Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?”
“Pesta apaan..? Gila kamu.”
“Pokoknya tenang aja Mas, kamu cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?”
Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya.
Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya. Sesaat aku merasa bersalah, kenapa aku melakukan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.
Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya aku sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.
Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.
“Kegilaan apa lagi ini..?” batinku.
Seolah-olah Agus mengerti, karena selalu saya perhatikan menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan mulut terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus.
Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar karena memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya aku lah yang melakukannya.
Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kemaluan Rini. Kuelus bagian itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Rini ini.
“Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!” erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya.
Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Rini yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.
Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
“Sshh.., akh..!” Rini menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis.
Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bagian putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.
Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku seperti membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.
Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.
Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Rini.
Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, “Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!”
Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Rini nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Rini berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini.
Luar biasa kemaluan Rini ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Rini juga semakin ketat karena membungkuk.
Kukangkangkan kaki Rini dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Rini membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun menikmati gaya ini.
Buah dada Rini bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.
Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Rini.
Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut Rini semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Rini memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.
Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya.
Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara. Resty juga tersenyum, hanya nampak malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.
Hingga saat ini peristiwa itu masih jelas dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berhubungan lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Rini berkunjung ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja…
Isteriku bernama Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.
Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, wooow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.
Mereka pun sama seperti kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini karena tugas baru suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang baru membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Agus dan Mbak Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami seperti saudara saja karena hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.
Pada suatu malam, saya seperti biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya baru dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak karena selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami.
“Waduh, gimana ini Gus..? Nggak enak nih..!”
“Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak bisa dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian.” katanya menyebut isteriku.
Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya aku pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.
“Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?” kata isteriku ketika kuajak.
Akhirnya aku malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan langsung tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya aku tidak bertemu Agus, karena sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya aku hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika aku lewat, dia menanyaiku tentang yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga aku langsung saja tidur.
Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Resty kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.
Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.
“Mas.., sekarang Mas..!” pinta isteriku memelas.
Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.
Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, “Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?”
Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini.
Sorenya Agus datang ke rumahku, “Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?” tanyanya setelah kami berbasa-basi.
“Maksudmu apa Gus..?” tanyaku heran.
“Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi dia melihat Mas dan Mbak Resty bergulat setelah ngobrol dengannya.”
Loh, aku heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.
Agus langsung menambahkan, “Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas.” katanya tanpa malu-malu.
“Begini saja Mas,” tanpa harus memahami perasaanku, Agus langsung melanjutkan, “Aku punya ide, gimana kalau nanti malam kita bikin acara..?”
“Acara apa Gus..?” tanyaku penasaran.
“Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?”
“Pesta apaan..? Gila kamu.”
“Pokoknya tenang aja Mas, kamu cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?”
Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya.
Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya. Sesaat aku merasa bersalah, kenapa aku melakukan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.
Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya aku sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.
Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.
“Kegilaan apa lagi ini..?” batinku.
Seolah-olah Agus mengerti, karena selalu saya perhatikan menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan mulut terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus.
Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar karena memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya aku lah yang melakukannya.
Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kemaluan Rini. Kuelus bagian itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Rini ini.
“Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!” erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya.
Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Rini yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.
Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
“Sshh.., akh..!” Rini menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis.
Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bagian putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.
Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku seperti membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.
Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.
Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Rini.
Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, “Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!”
Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Rini nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Rini berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini.
Luar biasa kemaluan Rini ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Rini juga semakin ketat karena membungkuk.
Kukangkangkan kaki Rini dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Rini membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun menikmati gaya ini.
Buah dada Rini bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.
Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Rini.
Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut Rini semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Rini memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.
Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya.
Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara. Resty juga tersenyum, hanya nampak malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.
Hingga saat ini peristiwa itu masih jelas dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berhubungan lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Rini berkunjung ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja…
Nakalnya Anak Jalanan
Namaku Tita, kali ini aku kembali menceritakan kisah sex-ku. Kejadian
ini terjadi sekitar 2 tahun lalu, usiaku saat itu 27 tahun. Aku mulai
mengenal dunia sex lewat pacarku waktu SMA. Tapi aku tidak pernah
melakukan hal-hal yang terlalu jauh dengan pacarku waktu itu.
Aku kehilangan keperawanan pada usia 26 tahun di tangan adik kandungku sendiri (baca : pengalaman dengan adik laki-lakiku). Kejadian itu menjadikan aku gadis yang mudah terangsang, walaupun aku tidak pernah melakukan sex dengan sembarang orang, kecuali adikku itu. Di saat aku tidak dapat menahan birahi sedangkan adikku tidak ada di rumah, aku pasti melakukan masturbasi dengan tangan, tapi tidak pernah dengan vibrator atau benda-benda lainnya. Karenanya vaginaku masih memiliki bentuk seperti perawan.
Bagi yang belum mengenal aku secara fisik, aku memiliki tinggi badan 160 cm ditunjang berat badan sekitar 48 kg, kulitku berwarna kuning langsat. Rambut lurus milikku yang berwarna hitam dengan panjang sebahu menghiasi wajahku yang manis, awet muda dan tentunya seperti anak baik-baik. Ukuran payudaraku juga tidak besar, bahkan termasuk kecil namun kencang.
Kejadian yang aku alami adalah sebuah kejadian yang tidak disengaja, tetapi membawa kenikmatan yang luar biasa. Saat itu hari Jumat, aku baru pulang dari kantor sekitar jam setengah 6 sore. Aku pulang sendirian dengan menaiki mobil omprengan menuju rumahku di daerah Cibubur. Udara yang dingin dan awan yang mendung saat itu, membuat aku kuatir akan turun hujan deras.
Karena jalur terakhir yang dilewati omprengan tersebut masih cukup jauh dari rumahku, aku turun di jalan dan mengambil jalan pintas untuk sampai ke jalan raya, kemudian naik angkot dari situ. Tapi sebelum sampai jalan raya, tiba-tiba hal aku kuatirkan terjadi, hujan turun sangat deras.
“Aduh! Mana aku tidak bawa payung lagi…” keluhku.
Karena bukan daerah pertokoan, maka aku tidak menemukan adanya tempat yang bisa digunakan untuk berteduh. Aku sempat bingung, karena aku hanya menggunakan tas kerjaku yang bisa untuk menutup bagian kepalaku saja. Akhirnya di saat aku mencari-cari tempat berlindung dari hujan, aku melihat bangunan rumah yang sudah cukup tua, tapi bisa aku gunakan untuk berteduh, Aku berlari kecil ke rumah itu, sesampainya disitu aku berteduh di depan terasnya.
Hari itu aku memakai pakaian kemeja putih dan rok yang pendeknya sedikit di atas lutut berwarna hitam. Kemeja putihku yang tidak sempat terlindung dari guyuran hujan menjadi basah, braku terlihat sedikit tembus. Untung saja braku berwarna putih, jadi tidak terlalu kontras dengan kemejaku. Namun tetap saja aku terlihat cukup sexy dengan pakaianku ini. Aku baru memperhatikan kalau tidak ada orang di daerah itu. Padahal daerah perumahan ini biasanya cukup ramai oleh orang yang lalu lalang.
“Mungkin karena hujan deras orang jadi malas keluar…” pikirku.
Sambil menunggu hujan reda, aku mengisi waktu dengan browsing internet lewat HP-ku. Sedang enak-enaknya melihat status teman-temanku di Facebook, tiba-tiba dari dalam rumah yang aku gunakan untuk berteduh, muncul seorang anak yang aku taksir umurnya masih sekitar 13-14 tahun. Penampilannya lusuh dan tidak terurus, seperti anak jalanan.
Anak itu tersenyum ramah kemudian menyapaku “Kehujanan ya Mbak…?”
“Iya nih Dik, mana makin deras saja hujannya…” jawabku sambil membalas senyumannya.
“Masuk aja ke dalam rumah Mbak…” dengan sopan anak itu mempersilahkan aku masuk.
Aku sempat segan untuk mengikuti ajakannya, tapi setelah aku pikir-pikir udara diluar sangat dingin dan hujannya juga semakin bertambah besar. Lagipula, aku juga tidak sempat berpikir yang aneh-aneh tentang anak ini. Akhirnya aku masuk juga mengikuti anak itu. Sesampainya di dalam, rumah itu ternyata kotor sekali dan sudah tidak terawat, tidak jauh berbeda dari penampakan luarnya. Di dalamnya juga tidak ada perabotan sama sekali, sekilas yang aku lihat hanya ada tumpukan baju-baju kotor, botol-botol bekas dan gitar kecil yang bergeletakan begitu saja di bawah.
Ternyata anak itu tidak sendirian, aku melihat ada satu anak lagi yang sedang tidur-tiduran beralaskan lembaran-lembaran kardus bekas. Melihat kedatanganku anak tadi langsung terbangun. Anak itu juga aku taksir usianya tidak jauh berbeda dengan yang pertama tadi. Aku memperkenalkan diri ke mereka, kemudian aku tanya nama kedua anak tersebut. Anak yang mengajakku masuk mengaku bernama Udin dan yang sedang tidur-tiduran tadi bernama Dodo.
Kemudian Udin mempersilahkanku duduk lesehan beralaskan lembaran-lembaran kardus yang tadi digunakan Dodo untuk tidur-tiduran. Karena aku melihat kelakuan mereka berdua sopan dan ramah, aku mulai merasa nyaman untuk ikut bergabung dengan mereka. Aku membuka sepatu kerjaku, menaruh tasku dan ikut duduk bersama kedua anak itu di atas kardus. Aku mengajak mereka berdua mengobrol, dari obrolan itu akhirnya aku tau, kalau rumah ini sudah lama kosong ditinggal penghuninya. Dan seperti dugaanku sebelumnya, keduanya adalah anak-anak jalanan. Sebelumnya, mereka tinggal berpindah-pindah, mulai dari emperan toko sampai kolong jembatan. Sehingga ketika menemukan ada rumah kosong, mereka memanfaatkannya untuk tempat tinggal.
“Pantas saja mereka bisa tinggal di dalam rumah ini seenaknya” kataku dalam hati.
Mereka juga tidak tinggal bersama dengan keluarganya, karena mereka tidak pernah tau siapa keluarga mereka. Mereka berdua masih berusia 14 tahun. Walaupun seharusnya mereka sudah duduk di bangku SMP, namun keduanya mengaku tidak pernah merasakan bangku sekolah sejak kecil. Karena menurut mereka, untuk mencari uang makan saja sudah sangat sulit. Mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan cara mengamen di jalanan dan angkutan umum, walaupun terkadang mereka juga tidak jarang untuk mengemis. Mereka juga bertanya kepadaku mulai dari dimana aku tinggal, tempat aku bekerja, sampai apakah sudah punya pacar atau belum.
Setelah aku perhatikan, Udin yang berambut keriting, memiliki muka bopengan khas anak jalanan, badannya yang kurus dipadu dengan kulitnya yang hitam legam karena terjemur sinar matahari, tinggi badannya lebih pendek dari aku, mungkin sekitar 150 cm. Sedangkan si Dodo, tidak jauh berbeda dari temannya, tingginya sekitar 145 cm, kepalanya botak seperti tuyul, kulit hitam, wajahnya lebih buruk dari Udin dan ditambah lagi giginya yang tonggos.
Selagi asyik mengobrol dengan mereka, aku sesekali menangkap mata Udin dan Dodo berusaha mencuri-curi melihat ke arah pahaku maupun dadaku. Mungkin karena kemejaku yang tembus dan rokku yang sedikit terangkat karena duduk lesehan. Tapi aku berpikir anak umur segitu memang sedang penasaran dengan lawan jenisnya. Apalagi anak jaman sekarang yang lebih cepat dewasa. Aku kemudian jadi teringat pengalamanku sex dengan adikku, makanya aku juga jadi agak horny dan berpikiran aneh-aneh.
Aku tiba-tiba nyeletuk “Hayo, kalian lagi pada lihat-lihat apa? Masih pada kecil udah lihat-lihat kayak gitu…”
Mereka tersipu dan tertunduk malu. Mereka diam, tidak berani menjawab pertanyaanku.
“Emang kalian udah pada ngerti? Kok udah berani lihat-lihat ke tubuh Mbak sih?” lanjutku.
“Udah ngerti dong Mbak! Soalnya Mbak Tita tuh orangnya manis, ditambah lagi bajunya tembus… Kontol saya jadi ngaceng neh…” jawab Udin dengan kata-katanya yang kasar tapi polos.
Aku juga bisa maklum karena dia anak jalanan, jadi pasti omongannya memang kasar seperti itu. Tapi gila juga, ini anak masih kecil, tapi udah berani-beraninya ngomong kayak gitu ke wanita yang lebih dewasa. Tapi justru hal itu yang semakin menambah keisenganku.
Terus aku meledek lagi ke mereka “Mbak gak percaya kalo itu-nya kalian udah bisa berdiri. Kan kalian berdua masih kecil…?”
Mungkin karena merasa tertantang dan tidak terima dibilang seperti itu, tiba-tiba Udin berdiri di depanku lalu berkata “Kita taruhan aja ya Mbak. Kalo ternyata omongan Mbak yang benar, alias punya kami belum bisa berdiri, kami janji gak akan lihat-lihat tubuh Mbak lagi. Tapi kalo ternyata kontol kami bisa berdiri, Mbak mau ngasih apa…?”
Gila juga anak ini membuat aku jadi benar-benar bingung mau jawab apa.
Akhirnya aku bilang “Gak tau ah. Mbak Tita bingung nih…! Terserah kalian aja deh mau minta apa kalau kalian menang taruhan…”
Lalu Udin berbisik-bisik kepada Dodo. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang tidak baik, karena aku melihat Udin dan Dodo berdiskusi sambil tertawa tertahan.
Setelah selesai berdiskusi, akhirnya Udin berkata “Mbak Tita mau tau kontol kami bisa ngaceng apa nggak kan? Berarti Mbak harus lihat kontol kami berdua. Nah, kalo kami yang menang gimana kalo sebagai taruhannya kami juga gantian melihat memeknya Mbak?”
“Dasar bocah cabul!!!” umpatku dalam hati.
Terus terang aku kaget dengan permintaan mereka, aku tidak menyangka kalau Udin akan bicara seperti itu. Tapi karena sudah telanjur bilang terserah sama mereka, makanya aku dengan nada malas-malasan bilang iya saja. Kemudian Udin yang masih berdiri didepanku mulai memelorotkan celana pendek dan juga celana dalamnya. Dan hal yang tadinya aku ragukan ternyata benar-benar terjadi.
Penis Udin ternyata sudah mengacung tegak! Berarti aku hanya tinggal berharap kalau penis Dodo tidak akan berdiri. Melihat Udin sudah membuka celananya, Dodo pun pelan-pelan juga mulai membuka celana pendeknya yang dekil, beserta celana dalamnya. Aku benar-benar merasa deg-degan, apalagi saat aku melihat penis Dodo justru lebih tegak dan lebih menantang dibanding punya Udin. Walaupun panjang kedua penis mereka hanya sekitar 11-12 cm, mungkin memang sesuai dengan anak seusianya, tapi tetap saja aku kalah taruhan. Sekarang tubuh mereka berdua hanya ditutupi oleh baju yang sudah lusuh dan kotor. Aku sangat berharap mereka tidak jadi menagih ‘janji’ taruhanku. Tapi ternyata kenyataan berkata lain.
“Sekarang giliran kami yang lihat memeknya Mbak Tita. Karena Mbak kalah taruhan, dan harus nepatin janji ke kami…” sambil tersenyum nakal Udin mengatakannya kepadaku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain bilang “Ya udah deh Mbak mengaku kalah. Sekarang kalian boleh lihat punya Mbak deh. Tapi kalian buka rok Mbak sendiri ya…?”
“Mbak Tita tiduran aja, biar kami lebih enak ngeliat memek Mbak…” Dodo pun ikut ambil suara.
Mungkin karena aku juga sudah terangsang, makanya aku menurut saja. Aku berbaring di lembaran-lembaran kardus yang sudah lusuh itu. Udin mulai memegang ujung rokku dan pelan-pelan menyingkapnya ke atas sampai batas pinggang. Aku benar-benar merasa malu sekaligus terangsang karena kejadian ini. Aku memilih memejamkan kedua mataku saja, tidak lama kemudian aku merasakan ada tangan yang menarik celana dalamku ke bawah sampai batas mata kakiku.
Di tengah-tengah aku sedang memejamkan mata, aku mendengar salah satu dari mereka berbisik ke yang lain “Memek Mbak Tita bentuknya bagus…! Masih rapet, botak lagi… Beda banget sama memek cewek yang sering kita liat di majalah bekas ya!?”
“Sialan! Masa vaginaku dibandingkan dengan milik cewek di majalah murahan sih..!” aku menggumam kesal.
Aku yang penasaran dengan yang mereka lakukan, memberanikan diri untuk membuka mata. Sungguh kejadian yang sangat membuatku deg-degan. Aku melihat kedua anak itu sedang melihat memekku dari jarak yang sangat dekat. Aku sangat malu, bagaimana tidak, vaginaku yang licin tanpa bulu sedang dilihat oleh dua orang anak, dimana mereka masih di bawah umur. Namun mungkin hal itu yang membuatnya menjadi sensasi tersendiri. Aku kembali memejamkan mataku, tapi tidak berapa lama aku terpejam, aku merasakan ada tangan yang menyentuh bibir vaginaku, aku kaget dan terlonjak.
Aku membuka mataku dan berteriak “Eh! Apa-apaan kamu Do!! Kan Mbak bilang perjanjiannya kalian cuma ngeliat aja! Gak lebih kan…?” kataku dengan nada tinggi karena marah.
“Tolong dong Mbak Tita, kami pengen banget ngerasain megang-megang memek. Dikit aja kok! Kami kali ini janji deh cuma megang aja. Boleh ya Mbak…?” kata Dodo dengan nada memohon.
“Ngeliatin memek Mbak Tita bikin kami tambah konak sih…” timpal Udin.
Entah kenapa saat itu aku hanya bisa berkata “Ya udah. Tapi beneran ya cuma megang doang? Sebentar aja dan jangan minta macam-macam lagi…”
Mendengar jawabanku, wajah mereka langsung terlihat senang. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka langsung berebut untuk menyentuh vaginaku, jari-jari mereka yang kasar dan kotor mengelus-ngelus bibir vaginaku. Aku mulai merasa terangsang, kakiku yang awalnya hanya lurus saja, pelan-pelan semakin aku lebarkan. Sekarang kakiku sudah dalam posisi mengangkang, sehingga tangan-tangan mereka berdua dapat lebih leluasa. Sungguh pemandangan yang mengusik birahi, seorang wanita kantoran berparas manis dan imut, berkulit bersih, sedang dikerjai oleh dua orang anak jalanan yang berpenampilan kumal.
“Gitu dong Mbak, mulai nikmatin yah? Asyik kan…!” ejek Udin.
“Dijamin deh kami berdua pasti muasin Mbak Tita…” Dodo ikut menambahkan sambil terus mengelus-elus vaginaku.
“Sial! Sekarang aku benar-benar terangsang!” aku mengumpat diriku dalam hati yang mulai menerima rangsangan-rangsangan yang di berikan kedua anak ini.
“Memek Mbak Tita masih rapet banget…!! Dodo pasti betah banget maenan memek Mbak seharian…” puji Dodo yang tidak aku tanggapi.
Entah jari siapa yang mulai menempel mengikuti jalur belahan vaginaku dan tak lagi hanya sekedar menyentuh-nyentuh ataupun menggesek-gesek bibir vaginaku. Jari-jari mereka itu sesekali didesak-desakan masuk, sekaligus berulang kali mencari klitorisku dan memainkan jarinya disana. Cukup lama dirangsang oleh kedua anak jalanan itu, vaginaku mulai terasa basah. Secara tidak sadar, aku mulai mengeluarkan lenguhan-lenguhan nikmat. Aku benar-benar sudah tidak ingin menghentikan perbuatan mereka, dan mereka sepertinya tau kalau aku sudah terangsang berat sehingga mereka semakin berbuat berani.
“Ouuhh.. Aaah.. Aaaahh…” aku merintih saat jari-jari mereka bermain semakin liar di dalam vaginaku.
“Mbak Tita tadi gak mau, tapi begitu udah dipegang-pegang memeknya malah keenakan…” ujar Udin bernada meledek.
Dodo sepertinya tidak mau lagi berebut dengan Udin untuk menjamah vaginaku. Sekarang Dodo mulai memindahkan tangannya untuk menelusup kebalik kemejaku yang masih dalam keadaan tertutup. Aku memekik pelan saat tangan Dodo menemukan gundukan kembar di dadaku. Rangsangan di tubuhku semakin menjadi-jadi.
“Ahhh… kalian nakaaal bangett siiihhhh…” aku mendesah semakin kencang.
Tangan Dodo kemudian mulai membuka satu-persatu kancing kemejaku. Dan setelah semuanya terbuka dia menariknya ke atas. Tanpa aku sadari, akupun membantu dengan sedikit mengangkat punggungku dan meluruskan tanganku keatas sampai kemejaku lepas. Kemudian Dodo melanjutkan dengan melepas Bra-ku sebelum melemparnya entah kemana.
“Wuih, teteknya Mbak mantep banget! Biar kecil tapi kenceng…!” sahut Dodo sambil meremas payudaraku dengan gemas.
Kini aku hanya tinggal memakai rok, yang sudah tersingkap dipinggangku. Sementara Udin masih sibuk memainkan jari-jarinya di vaginaku. Kadang ia memainkan klitorisku, vaginaku pun makin basah karenanya. Di saat bersamaan, Dodo mulai memilin-milin putingku, dirangsang seperti itu aku benar-benar sudah terangsang hebat.
“Enak gak Mbak teteknya diisep kayak gini…? Mmmhhh…. Mmmmhh…” tanya Dodo sambil terus menyusu di dadaku.
“Aaah i.. iya-a… e-e-enaaakk.. bangeeeettt..” kataku tersengal-sengal.
Vagina dan payudaraku sekarang sedang dipermainkan secara bersamaan oleh anak-anak kecil, tapi aku tidak berdaya karena nafsuku yang memuncak sehingga aku tidak mampu menolak perbuatan mereka. Dodo fokus meremas-remas payudaraku, tidak hanya diremas-remas tapi juga memuntir-muntir putingku. Dengan leluasa Udin menggesek-gesek bagian tubuh yang paling rahasia milikku itu. Hampir 5 menit kini liang vaginaku sudah becek dan menimbulkan bunyi kecipak karena gerakan jari-jari Udin yang semakin terbiasa.
“Aaahh.. jangan dilepas…” jeritku saat tangan Udin mengangkat tangannya dari vaginaku yang sudah basah itu dan bergerak mengelus-elus paha dan meremas pantatku.
Lalu dengan jarinya, Udin menggerayangi lagi bibir vaginaku yang sudah terasa becek itu dan menggesek dengan cepat. Aku melenguh penuh nikmat sambil meregangkan badanku, lalu tersentak hebat saat jari itu menusuk masuk dan menemukan klitorisku. Sambil menggigit bibir dan memejamkan mata, aku berusaha menahan orgasmeku. Aku tidak pernah mengira bahwa diriku dapat dibuat hampir klimaks oleh seorang anak kecil. Jari Udin bergerak semakin cepat menggesek-gesek bibir luar vaginaku dan kadang-kadang menekan-nekan klitorisku.
Kini Udin mulai memasukan jarinya untuk membelah vaginaku. Jarinya mulai menusuk masuk, aku reflek mendesah ketika jemarinya ia desak masuk. Aku menatap lirih pada Udin, aku hanya bisa pasrah saat Udin mendesakkan jemarinya lagi ke dalam vaginaku. Aku dapat merasakan bagaimana jari kecilnya itu seolah sebuah penis yang masuk dalam vaginaku, sedikit demi sedikit jari tengahnya itu masuk lebih dalam lagi, aku hanya bisa mengigit bibirku lebih keras lagi, sementara desahan-desahan pelan masih saja keluar dari mulutku.
“Emmm…Enak Din… Uhhh” kataku membisik.
Basahnya vaginaku oleh cairan cinta membuat Udin kian mudah mengerjaiku, jarinya tertambat di dalam sebelum mulai bergerak naik turun. Seolah ada penis yang sedang menyetubuhiku, kakiku menjadi begitu lemas, jarinya begitu cepat merangsangku. Sampai akhirnya akupun tidak kuat lagi untuk menahan rangsangan terus-menerus dan sepertinya aku sudah akan mencapai orgasme. Tubuhku mengejang kuat dan tanganku mencengkeram ujung kardus.
“Enak ya Mbak diginiin??” tanya Udin.
“Aagghhhhhh Udiiinnn…!! Ssssshhhh… Enaaaakk bangeeettt… Ougghhh… Teruusss Din… Jangan berhentiii…. Udiiinn…!! Aaahhh…. Mbak keluaarrr Din…” aku meneriakkan namanya saat hampir mencapai orgasme.
Pantatku sampai terangkat ke atas ketika akhirnya aku meraih orgasmeku. Aku merasa lemas, keringat bercucuran di tubuhku padahal saat itu udara cukup dingin.
“Mbak Tita kok cepet banget keluarnya sih…!? Memeknya jadi becek gini…” ejek Udin saat aku mencapai orgasmeku.
“Din… Aaah… Habisnya kamu… Hebaaat banget…. Aaaah… Mbak gak bisa naha-an lama-a…” jawabku sambil terengah-engah.
“Dod, gue udah ngebuat Mbak Tita ngecrot dong…!! Hahahahaha” tawa nakal Udin menggema di seluruh ruangan.
Mungkin karena lelah memainkan vaginaku, Udin menghentikan gesekan tangannya. Tapi Dodo yang tidak mau kalah dengan temannya bukannya berhenti, dia malah mulai mengganti tangannya dengan bibirnya, dia menunduk, mendekatkan mukanya ke payudaraku, dan sejurus kemudian puting sebelah kananku sudah dilumatnya. Sedangkan payudaraku yang kiri diremas-remas dengan oleh tangannya yang hitam. Pelan-pelan libidoku mulai bangkit lagi akibat rangsangan dari Dodo pada payudaraku. Putingku kini sudah mancung dan mengeras. Tangan Dodo terus meremas-remas payudaraku, tampaknya ia begitu menyukai bentuk payudaraku itu yang termasuk kecil ukurannya. Ia menghisap payudaraku bergantian, kanan dan kiri. Dodo menjilati seluruh permukaannya sambil masih terus meremas-remas puting payudaraku.
“Ouh… Do. teruuus… jilaaatin putiiniinngg Mbak ouhhhh” desahku sambil mengigit bibirku menahan gejolak didadaku.
Aku terkejut sesaat, ketika kurasakan tangan Udin mulai mengelus-elus kedua pahaku. Dengan leluasa Udin menjelajahi setiap jengkal pahaku yang mulus itu tanpa penolakan, kulit pahaku yang lembut terasa hangat dalam usapan tangan kasar Udin. Karena belaian-belaian yang dilakukannya ini membuat aku semakin menggelinjang karena birahiku sudah mulai muncul lagi.
“Wah pahanya Mbak Tita mulus banget deh…” Udin mulai memuji kemulusan pahaku.
Sementara Dodo masih sibuk mengulum dan meremas putingku Udin secara tiba-tiba berkata padaku “Mbak Tita sekarang saatnya Udin nyicipin memek Mbak yah…”
Tanpa aku sempat menjawab, Udin mulai menjilati vaginaku dengan lidahnya. Aroma khas dari vaginaku membuat Udin semakin bernafsu menjilatinya. Vaginaku pasti begitu harum karena aku rawat dengan baik, Udin pun semakin bernafsu karenanya. Tubuhku yang berpeluh keringat sama sekali tidak berbau, malah aroma wangi semakin kuat tercium oleh Udin dan Dodo seakan-akan keringatku wangi. Semakin berkeringat, tubuhku semakin wangi menggoda, nafsu mereka semakin meloncat tinggi sehingga Dodo pun mencumbui dan menjilati payudara dan vaginaku.
“Mbaak, enaaakk banget rasaaa… Slurrrpp… memeknyaa…. Slurrpp… Slurrrpp…” puji Udin sambil terus menjilati vaginaku.
Sementara itu Dodo masih terlihat asyik menjilati dan mengisap puting susuku. Sambil meremas payudaraku dengan keras, sesekali Dodo juga menggigit dan menarik puting susuku dengan giginya, sehingga aku merasa kesakitan sekaligus nikmat. Namun ketika Dodo mendengar Udin menikmati sekali menjilat vaginaku, Dodo pun tidak mau ketinggalan untuk merasakan cairan cinta yang terus menerus keluar dari vaginaku. Dodo kemudian ikut ambil bagian untuk menjilati vaginaku.
Sekarang lidah mereka berdua menempel di pinggiran vaginaku, seolah berlomba merangsangku. Sambil terus menjilati vaginaku, tangan mereka mengelus-elus kedua pahaku, mereka terus berusaha merangsangku lebih dan lebih lagi. Aku semakin dibuat tak berdaya dengan kenikmatan yang mereka berikan, rasanya seluruh klitorisku ditekan-tekan dengan rasa nikmat yang berbeda dari sentuhan jemari. Lidah mereka yang menyelusur mulai dari pahaku hingga kebibir kemaluan membuat tubuhku kian sensitif terbakar kenikmatan birahi yang tak tertahan, aku mendesah-desah nikmat.
“Sedaaap banget ya Din! Mana wangi lagi! Memek Mbak Tita emang nikmaaat..” kata Dodo kepada Udin sambil melanjutkan mengecup dan menjilati bibir vaginaku.
“Huehehe bener kan Do? Enak banget kan rasanya…!? Memek Mbak Tita sampe banjir kayak gini. Ternyata Mbak juga napsu yah!? Udin suka banget sama memek Mbak… Hhhhmhh. Sslluurrpp… cairannya juga manis!” Udin mengakhiri kata-katanya dengan menghirup lendir vaginaku.
Sesaat kemudian, aku melihat Udin melepas celana dalamku yang masih ada di ujung kakiku, kemudian menurunkan rokku hingga aku sekarang sudah bugil tanpa sehelai benangpun. Setelah selesai, Udin menyuruh agar Dodo menyingkir dari vaginaku.
“Minggir dulu sana, gue pengen ngentot nih…! Kita kasih liat ke Mbak Tita biar masih kecil kita bisa bikin dia lebih puas…!” kata Udin.
Dodo pun menuruti saja apa yang dikatakan oleh Udin. Udin mengambil posisi duduk dengan kedua lututnya tepat ditengah-tengah kedua pahaku yang mengangkang. Dia memegang penisnya dan menempelkannya di bibir vaginaku. Dia mulai menggesekannya di bibir vaginaku, aku melenguh lagi dan aku seperti tersadar saat aku rasakan Udin mulai berusaha mendorong penisnya masuk ke dalam vaginaku.
“Mbak Tita mau kan nikmatin kontol Udin?” tanya Udin yang sekarang sudah dikuasai hawa nafsu.
“Jangan dimasukin Din… Mbak gak mau!” kataku bernada memohon.
“Udin udah gak tahan pengen ngentotin Mbak Tita…” kata Udin yang tetap memaksa memasukkan penisnya ke dalam vaginaku.
Tapi walaupun mulutku berusaha mencegah, tapi tubuhku tidak berusaha menghindar saat Udin kembali berusaha mendorongnya. Akhirnya bagian kepala penis Udin berhasil menyeruak ke dalam vaginaku.
“Pelan-pelan ya. Auughh… Aaahhh…” aku mendesah.
Udin kembali mendorongnya sampai penisnya sudah masuk setengahnya.
“Enaaakk banget Diiin…. Ayo Din… teruuuusss Diiin….” pintaku yang semakin merasa nikmat.
“Mbak sudah gak tahaaaan lagi! Masukiiinn semuaaaaannyyaa… Aaaahh…” aku mulai tidak tahan dengan rangsangan yang datang.
Mendengar aku yang sudah terangsang berat, dia mendorong sekuat tenaga sampai akhirnya penisnya masuk semua ke dalam vaginaku. Badan Udin semakin menegang dan mengejang keras disertai lolongan ketika kemaluannya berhasil menembus ke dalam liang vaginaku yang masih sempit tersebut. Setelah berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya di dalam lubang vaginaku, Udin mulai menggenjotnya mulai dengan irama perlahan-lahan hingga cepat.
“Uuhhh Aaaanjing..!!!! Enaaak beneeer ngentot sama Mbak Tita Aaahhh…” Kata Udin bersemangat.
Lendir pun mulai mengalir dari sela-sela kemaluanku yang sedang disusupi kemaluan anak itu. Rintihanku pun semakin teratur dan berirama mengikuti irama gerakan Udin. Pelan-pelan Udin mulai mengeluarkan penisnya sampai ujung, kemudian mendorongnya lagi. Lama-lama aku semakin merasa nikmat. Dan sekarang aku merasakan nikmat yang teramat sangat, ketika penis Udin terus keluar masuk di vaginaku.
“Gimana rasanya dientot sama Udin Mbak? Enak kan? Gak usah pura-pura gak mau lah…!” tanya Udin melecehkan aku.
Namun dilecehkan seperti itu bukan membuat aku marah, tapi malah membuat aku semakin terangsang.
“Aaaahhh… Aaaahh… terus Din… nikmaaat bangeeet!! Ouughhh…Enaaakk…” aku mendesah nikmat.
“Gimana rasanya ngentot sama Mbak Tita Din?” tanya Dodo, yang dari tadi hanya melongo saja, dengan nada penasaran.
“Nikmaaaat banget Do…! Sempit…!!! Enaaakk!! jawab Udin saat tengah menyetubuhiku.
“Udiinnn Aaaahhh… Aaahh!” desahku pasrah.
“Aduh enak banget Do… Bener-bener bikin ketagihan nih…! Kapan lagi bisa ngentot cewek kantoraan…!” lanjut Udin yang sepertinya sengaja membuat Dodo iri.
Saat itu aku sudah tidak perduli lagi dengan siapa dan dimana aku disetubuhi. Aku sudah pasrah dan sudah tidak merasa seperti wanita baik-baik. Kedua anak ini memang sudah merendahkan derajatku.
“Aaaah, memek Mbak Tita emang enak!! Sempit dan seret banget… Aaahh Mbaaaakkk…” desah Udin semakin kencang.
Sementara aku melihat Dodo malah asyik menonton kami. Udin semakin cepat mengocok penisnya di vaginaku. Dia menekan penisnya semakin dalam dan semakin cepat. Tapi saat kukira Dodo hanya ingin menonton saja, ternyata ia tidak mau ketinggalan, penisnya menggantung tegak di hadapanku. Penis Dodo membuatku terbelalak, penis itu sudah begitu tegak dan lebih panjang dari ketika pertama kali aku melihatnya, meski tetap saja tidak terlalu panjang dan tebal.
“Mbak Tita, kocokin kontol Dodo dong…” Dodo memintaku mengocok penisnya.
Aku yang sudah terangsang mengikuti saja apa mau Dodo. Sementara aku sedang mengocok-ngocokan penisnya dalam dekapan tanganku yang halus, ternyata payudaraku masih menjadi mainan Dodo. Payudaraku diremasnya berulang-ulang sambil memainkan putingnya, menarik-narik semaunya membuatku merintih sakit bercampur nikmat diantara penis Dodo.
Tidak lama kemudian Dodo mengarahkan kepalaku ke arah kemaluannya dan berkata “Cukup Mbak pake tangannya. Sekarang sepongin kontol Dodo ya Mbak…”
Ternyata tidak cukup puas dengan hanya dikocok oleh tanganku, Dodo menyuruhku untuk menghisap penisnya. Kemudian aku membuka mulutku, dengan bantuan tanganku aku menarik penis Dodo dan mulai menjilatinya dari bagian kepala hingga buah zakarnya. Aku terus melanjutkan dengan mengecup kembali kepala penisnya dan memakai ujung lidahku untuk menggelikitiknya. Kemudian lidahku turun menjalari permukaan benda itu, sesekali kugesekkan pada wajahku yang halus, kubuat penisnya basah oleh liurku. Bibirku lalu turun lagi ke pangkalnya yang belum ditumbuhi bulu-bulu sama sekali, buah zakarnya kujilati dan yang lainnya kupijat dalam genggaman tanganku.
“Cepat dong Mbak isepin kontol Dodo. Jangan cuman dijilat-jilat aja…” perintah Dodo kepadaku.
Dodo kemudian memintaku untuk menghisap penisnya yang sudah basah dengan air liurku, aku mulai memasukkan penisnya itu ke mulutku. Kuemut perlahan dan terus memijati buah zakarnya. Sesekali pula ia menarik penisnya dari mulutku, dan memintaku menggunakan lidahku lagi untuk membelai seluruh batang kemaluannya. Sesekali aku menghisap buah zakarnya yang membuat Dodo melayang nikmat, sebelum kembali harus menikmati penis itu dalam mulutku. Akhirnya penis Dodo aku kulum semua karena ukurannya yang tidak terlalu panjang, sesuai dengan mulutku yang mungil. Aku terus menghisap penis itu dengan nikmat dan lidahku yang basah dan panas itu terus menjilati dengan cepat.
“Uuuugghhh Mbak jago bangeeeet ngisepnya…!” teriak Dodo menikmati setiap hisapan dan jilatanku pada penisnya.
Kulihat ekspresi Dodo meringis dan merem-melek waktu penisnya kumain-mainkan di dalam mulutku. Kujilati memutar kepala kemaluannya sehingga memberinya kehangatan sekaligus sensasi luar biasa. Semakin kuemut benda itu semakin keras. Aku memasukkan mulutku lebih dalam lagi sampai kepala penisnya menyentuh langit-langit tenggorokanku.
“Sluurrp…Suka gak Do… Mbak isepin…Sluurrpp… kayak gini…? Sluurrrppp…” tanyaku sambil terus menghisap penisnya.
“Oughhh enak banget Mbak…” Dodo mengomentari apa yang kulakukan dengan penisnya.
Dodo tampak semakin menikmati, ia terus menyodok-nyodokan penisnya, aku berusaha menggunakan tanganku menahan pinggulnya namun aku tak berdaya, Dodo masih terus berusaha menyodok-nyodokan penisnya.
Di saat aku sedang sibuk mengulum penis Dodo, tiba-tiba Udin berkata “Aaaahh Mbaaakkkk, aku mao keluaaar…”
Aku yang kaget melepas kulumanku pada Dodo dan berteriak “Jangan keluar di dalem Diinn…!! keluarinnya di luar ajaaa… Mbaak gaak mau ha….” aku berusaha membujuk Udin di tengah kenikmatan yang melanda kami berdua.
Namun belum sempat aku menyelesaikan kata ‘hamil’, aku merasakan ada cairan yang menyemprot sangat banyak di dalam dinding vagina dan dirahimku.
“Aaaagggghhhhhhhhhh… Enaaak bangeeeet Mbaaak…!!” Udin melenguh panjang.
Berkali-kali Udin memuncratkan spermanya memenuhi cekungan liang senggamaku. Ia membiarkan batang penisnya tertancap dalam kemaluanku beberapa saat sambil meresapi sisa orgasme hingga tuntas. Sebelum akhirnya dia lemas dan penisnya tercabut dari vaginaku. Udin kini terbaring di sampingku karena kelelahan akibat pergumulan tadi.
Melihat Udin yang sudah terkapar, aku melanjutkan mengulum penis Dodo dengan posisi duduk. Sapuan lidah dan hisapanku membuat Dodo semakin terbang ke awang-awang dan makin mempercepat gerakan pinggulnya yang tepat berada di depan wajahku. Sesekali aku tersedak karena Dodo ‘menyetubuhi’ mulutku.
“Aaah sedooot terus Mbak!” ceracaunya menikmati hisapan penisnya di mulutku.
Setelah beberapa lama kuhisap, benda itu mulai berdenyut-denyut, sepertinya mau keluar. Aku semakin gencar memaju-mundurkan kepalaku mengemut benda itu. Dodo semakin merintih keenakan dibuatnya, tanpa disadarinya pinggulnya juga bergerak maju-mundur semakin cepat di mulutku.
“Aahh.. sssshhhh.. hhmmh… Dodo keluaaarr Mbaakk…!!” desahnya dengan tubuh menggeliat.
Anak itu mendesah dan menumpahkan spermanya di rongga mulutku. Aku yang merasakan semburan dahsyat di mulutku tersentak dan kaget, cairan itu begitu banyak dan kental, serta berbau tidak sedap. Aku sebenarnya ingin menarik mulutku dari penis Dodo dan memuntahkan spermanya. Namun pegangan tangan Dodo pada kepalaku keras sekali, sehingga dengan terpaksa aku menelan sebagian besar cairan putih kental itu. Kulirikan mataku ke atas melihat Dodo merintih sambil mendongak ke atas.
“Oohh Enaaak Mbak Telen terus peju Dodo Mbaakk Iyaaahh Enaaaak!” Dodo melenguh keenakan sambil mengeluarkan isi penisnya sampai benda itu menyusut di mulutku.
Tidak jauh berbeda dengan kondisi Udin, Dodo pun ambruk dalam posisi duduk. Wajahnya terlihat lelah tapi puas, badannya juga sudah bermandikan keringat. Sementara aku yang cukup lelah melayani dua anak ini, beristirahat sejenak dan mengambil posisi tidur di sebelah Udin. Namun karena aku belum merasakan orgasme lagi masih merasa ‘gantung’. Aku menunggu inisiatif Dodo melanjutkan pekerjaan Udin untuk menyetubuhiku, tapi Dodo ternyata malah diam saja. Mungkin ia masih dalam kondisi lemas karena spermanya keluar sangat banyak di mulutku.
Aku yang dilanda birahi tinggi jadi tidak sabar. Aku bangun dari tidurku, dan mencium bibir Dodo dengan penuh nafsu hingga bibirnya basah. Tanpa diperintah, lidah Dodo menari-nari di bibirku. Lidah itu kemudian menjulur ke dalam mulutku. Aku yang tidak perduli dengan bau mulut Dodo yang tidak sedap, malah membuka mulutku dengan lebar dan membalas mengisap lidah Dodo dengan penuh gairah. Dodo merangkul leherku dan mulutnya benar-benar beradu dengan mulut milikku. Air liur kami saling bertukar. Aku menelan liur Dodo sementara Dodo menelan liurku penuh selera. Kami saling berpagutan dalam posisi duduk selama kurang lebih 10 menit.
Merasa sudah cukup untuk membangkitkan gairah Dodo kembali, aku dorong dodo yang dalam posisi duduk sampai Dodo terjatuh dalam posisi terlentang. Aku duduk di atas paha Dodo, dan memegang penisnya yang masih dalam keadaan tegang kemudian mengarahkan ke vaginaku yang masih belepotan sperma Udin dan bercampur dengan cairan pelumas vaginaku. Jadi aku sekarang sedang berada dalam posisi ‘Woman On Top’. Aku mulai mendorong pantatku ke bawah setelah ujung penis Dodo tepat di mulut vaginaku.
“Aahhhhhh Dodooo…” aku mulai mendesah.
Penisnya Dodo agak susah masuk, karena walaupun badannya lebih pendek dari Udin, tapi penisnya ternyata masih lebih besar dari punya Udin. Kemudian Dodo membantu dengan mendorong pantatnya sendiri ke atas, dan akhirnya penis Dodo masuk seluruhnya ke vaginaku. Aku mulai naik turun diatas tubuh Dodo, dan tangan Dodo pun secara naluriah mulai meremas lagi payudaraku yang bergoyang-goyang karena hentakan tubuhku.
“Aaahhh Dooo.. Mbak ngerasaaa enakk bangeeeettt… Aaaahh….” aku tidak tahan untuk tidak mendesah.
Sampai sekitar 15 menit di dalam posisi itu, aku melihat dodo sudah mulai mempercepat dorongan pantatnya ke atas. Sepertinya Dodo sudah akan mencapai orgasme untuk kedua kalinya. Akupun tidak mau kalah, aku bergerak semakin cepat biar dapat mencapai orgasme bersamaan.
“Mbaaakkkkkk…. ahhhhhhhhhh Dodo mauuu keluaaaaar laagiiii Mbaakkk…” Dodo setengah berteriak.
“Tahaaan seeebentar lagi Doo…! Mbak juga bentaaarr lagi keluaaarrr…. Aaghhh….” aku makin merasa nikmat.
Tak lama kemudian, akhirnya tubuh Dodo pun mengejang keras. Dan akhirnya “croooott croottt.. ” lagi-lagi rahimku ditembak banyak sperma tapi kali ini milik Dodo. Akupun merasakan orgasme untuk yang kedua kalinya . Badanku lemas dan jatuh di atas tubuh Dodo, dengan penisnya masih di dalam vaginaku. Aku melirik ke samping, ternyata Udin tertidur pulas karena lelah.
“Dasar anak-anak! Udah keenakan tinggal tidur deh…” bathinku.
Setelah agak kuat aku bangun dari atas tubuh Dodo. Aku mengambil tasku dan meraih tissue basah dari dalamnya. Aku membersihkan vagina dan pahaku yang sudah banjir dengan sperma kedua anak itu dengan tissue itu. Aku mengambil dan memakai kembali celana dalam dan rokku yang berserakan, kemudian aku meraih bra dan kemejaku yang sudah lumayan kering. Setelah berpakaian lengkap aku pun berpamitan.
“Dodo, Mbak Tita pulang dulu ya. Tolong sampaikan ke Udin nanti…” karena Udin masih tertidur pulas, maka aku hanya berpamitan dengan Dodo.
Dodo mengiyakan dengan wajah kecewa. Mungkin dia merasa tidak akan pernah mengalami situasi seperti ini lagi. Tapi siapa yang akan pernah tau? Namun satu hal yang pasti, baik bagi Dodo maupun Udin, mereka tidak akan pernah bisa melupakan pengalaman yang didapatnya dariku. Pengalaman itu pasti akan menjadi kesan tersendiri dalam kehidupan mereka berdua.
“Makasih ya Mbak Tita udah ngebolehin kami berdua nyicipin badan Mbak yang nikmat… hehehe…” kata Dodo dengan kurang ajar.
Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Ada rasa sesal, benci sekaligus kepuasan tersendiri di dalam diriku. Kemudian aku bergegas berjalan ke luar rumah, ternyata hujan masih belum reda, walaupun hanya tinggal gerimis kecil saja. Namun aku harus memberanikan diri untuk pulang, kalau tidak pasti nanti kedua anak itu minta yang aneh-aneh lagi. Kemudian aku setengah berlari menuju ke arah jalan raya sambil menutupi kepalaku dengan tas.
Tidak berapa lama setelah sampai di jalan raya, angkot yang menuju rumahku sedang lewat. Di dalam angkot aku melihat ke jam tanganku, dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 kurang. Tidak terasa sudah lama sekali aku menghabiskan waktu di rumah itu. Aku juga melihat HP-ku sudah ada banyak miscall dan SMS dari pacar serta ibuku. Ternyata selagi aku ‘bermain’ dengan Udin dan Dodo, aku tidak tau kalau HP-ku bergetar, mungkin saking aku menikmatinya. Aku membalas SMS mereka dan menjelaskan bahwa tadi aku sempat berteduh dahulu sambil menunggu hujan reda, dan aku tidak berani membalas SMS atau mengangkat telepon dari mereka karena takut dijahati. Moga-moga saja mereka berdua tidak curiga, karena tidak biasanya aku belum pulang sampai jam 9 tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah aku langsung mandi untuk membersihkan diriku. Selagi mandi sebenarnya aku menyesali, kenapa harus kedua anak jalanan itu yang memuaskan birahiku. Itulah pertama kalinya aku bersetubuh dengan orang lain selain adikku. Aku juga bersyukur, ternyata aku tidak hamil dari perbuatanku dengan anak-anak jalanan itu. Lain kali aku akan menceritakan pengalaman-pengalamanku yang tidak kalah mendebarkan.
Aku kehilangan keperawanan pada usia 26 tahun di tangan adik kandungku sendiri (baca : pengalaman dengan adik laki-lakiku). Kejadian itu menjadikan aku gadis yang mudah terangsang, walaupun aku tidak pernah melakukan sex dengan sembarang orang, kecuali adikku itu. Di saat aku tidak dapat menahan birahi sedangkan adikku tidak ada di rumah, aku pasti melakukan masturbasi dengan tangan, tapi tidak pernah dengan vibrator atau benda-benda lainnya. Karenanya vaginaku masih memiliki bentuk seperti perawan.
Bagi yang belum mengenal aku secara fisik, aku memiliki tinggi badan 160 cm ditunjang berat badan sekitar 48 kg, kulitku berwarna kuning langsat. Rambut lurus milikku yang berwarna hitam dengan panjang sebahu menghiasi wajahku yang manis, awet muda dan tentunya seperti anak baik-baik. Ukuran payudaraku juga tidak besar, bahkan termasuk kecil namun kencang.
Kejadian yang aku alami adalah sebuah kejadian yang tidak disengaja, tetapi membawa kenikmatan yang luar biasa. Saat itu hari Jumat, aku baru pulang dari kantor sekitar jam setengah 6 sore. Aku pulang sendirian dengan menaiki mobil omprengan menuju rumahku di daerah Cibubur. Udara yang dingin dan awan yang mendung saat itu, membuat aku kuatir akan turun hujan deras.
Karena jalur terakhir yang dilewati omprengan tersebut masih cukup jauh dari rumahku, aku turun di jalan dan mengambil jalan pintas untuk sampai ke jalan raya, kemudian naik angkot dari situ. Tapi sebelum sampai jalan raya, tiba-tiba hal aku kuatirkan terjadi, hujan turun sangat deras.
“Aduh! Mana aku tidak bawa payung lagi…” keluhku.
Karena bukan daerah pertokoan, maka aku tidak menemukan adanya tempat yang bisa digunakan untuk berteduh. Aku sempat bingung, karena aku hanya menggunakan tas kerjaku yang bisa untuk menutup bagian kepalaku saja. Akhirnya di saat aku mencari-cari tempat berlindung dari hujan, aku melihat bangunan rumah yang sudah cukup tua, tapi bisa aku gunakan untuk berteduh, Aku berlari kecil ke rumah itu, sesampainya disitu aku berteduh di depan terasnya.
Hari itu aku memakai pakaian kemeja putih dan rok yang pendeknya sedikit di atas lutut berwarna hitam. Kemeja putihku yang tidak sempat terlindung dari guyuran hujan menjadi basah, braku terlihat sedikit tembus. Untung saja braku berwarna putih, jadi tidak terlalu kontras dengan kemejaku. Namun tetap saja aku terlihat cukup sexy dengan pakaianku ini. Aku baru memperhatikan kalau tidak ada orang di daerah itu. Padahal daerah perumahan ini biasanya cukup ramai oleh orang yang lalu lalang.
“Mungkin karena hujan deras orang jadi malas keluar…” pikirku.
Sambil menunggu hujan reda, aku mengisi waktu dengan browsing internet lewat HP-ku. Sedang enak-enaknya melihat status teman-temanku di Facebook, tiba-tiba dari dalam rumah yang aku gunakan untuk berteduh, muncul seorang anak yang aku taksir umurnya masih sekitar 13-14 tahun. Penampilannya lusuh dan tidak terurus, seperti anak jalanan.
Anak itu tersenyum ramah kemudian menyapaku “Kehujanan ya Mbak…?”
“Iya nih Dik, mana makin deras saja hujannya…” jawabku sambil membalas senyumannya.
“Masuk aja ke dalam rumah Mbak…” dengan sopan anak itu mempersilahkan aku masuk.
Aku sempat segan untuk mengikuti ajakannya, tapi setelah aku pikir-pikir udara diluar sangat dingin dan hujannya juga semakin bertambah besar. Lagipula, aku juga tidak sempat berpikir yang aneh-aneh tentang anak ini. Akhirnya aku masuk juga mengikuti anak itu. Sesampainya di dalam, rumah itu ternyata kotor sekali dan sudah tidak terawat, tidak jauh berbeda dari penampakan luarnya. Di dalamnya juga tidak ada perabotan sama sekali, sekilas yang aku lihat hanya ada tumpukan baju-baju kotor, botol-botol bekas dan gitar kecil yang bergeletakan begitu saja di bawah.
Ternyata anak itu tidak sendirian, aku melihat ada satu anak lagi yang sedang tidur-tiduran beralaskan lembaran-lembaran kardus bekas. Melihat kedatanganku anak tadi langsung terbangun. Anak itu juga aku taksir usianya tidak jauh berbeda dengan yang pertama tadi. Aku memperkenalkan diri ke mereka, kemudian aku tanya nama kedua anak tersebut. Anak yang mengajakku masuk mengaku bernama Udin dan yang sedang tidur-tiduran tadi bernama Dodo.
Kemudian Udin mempersilahkanku duduk lesehan beralaskan lembaran-lembaran kardus yang tadi digunakan Dodo untuk tidur-tiduran. Karena aku melihat kelakuan mereka berdua sopan dan ramah, aku mulai merasa nyaman untuk ikut bergabung dengan mereka. Aku membuka sepatu kerjaku, menaruh tasku dan ikut duduk bersama kedua anak itu di atas kardus. Aku mengajak mereka berdua mengobrol, dari obrolan itu akhirnya aku tau, kalau rumah ini sudah lama kosong ditinggal penghuninya. Dan seperti dugaanku sebelumnya, keduanya adalah anak-anak jalanan. Sebelumnya, mereka tinggal berpindah-pindah, mulai dari emperan toko sampai kolong jembatan. Sehingga ketika menemukan ada rumah kosong, mereka memanfaatkannya untuk tempat tinggal.
“Pantas saja mereka bisa tinggal di dalam rumah ini seenaknya” kataku dalam hati.
Mereka juga tidak tinggal bersama dengan keluarganya, karena mereka tidak pernah tau siapa keluarga mereka. Mereka berdua masih berusia 14 tahun. Walaupun seharusnya mereka sudah duduk di bangku SMP, namun keduanya mengaku tidak pernah merasakan bangku sekolah sejak kecil. Karena menurut mereka, untuk mencari uang makan saja sudah sangat sulit. Mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan cara mengamen di jalanan dan angkutan umum, walaupun terkadang mereka juga tidak jarang untuk mengemis. Mereka juga bertanya kepadaku mulai dari dimana aku tinggal, tempat aku bekerja, sampai apakah sudah punya pacar atau belum.
Setelah aku perhatikan, Udin yang berambut keriting, memiliki muka bopengan khas anak jalanan, badannya yang kurus dipadu dengan kulitnya yang hitam legam karena terjemur sinar matahari, tinggi badannya lebih pendek dari aku, mungkin sekitar 150 cm. Sedangkan si Dodo, tidak jauh berbeda dari temannya, tingginya sekitar 145 cm, kepalanya botak seperti tuyul, kulit hitam, wajahnya lebih buruk dari Udin dan ditambah lagi giginya yang tonggos.
Selagi asyik mengobrol dengan mereka, aku sesekali menangkap mata Udin dan Dodo berusaha mencuri-curi melihat ke arah pahaku maupun dadaku. Mungkin karena kemejaku yang tembus dan rokku yang sedikit terangkat karena duduk lesehan. Tapi aku berpikir anak umur segitu memang sedang penasaran dengan lawan jenisnya. Apalagi anak jaman sekarang yang lebih cepat dewasa. Aku kemudian jadi teringat pengalamanku sex dengan adikku, makanya aku juga jadi agak horny dan berpikiran aneh-aneh.
Aku tiba-tiba nyeletuk “Hayo, kalian lagi pada lihat-lihat apa? Masih pada kecil udah lihat-lihat kayak gitu…”
Mereka tersipu dan tertunduk malu. Mereka diam, tidak berani menjawab pertanyaanku.
“Emang kalian udah pada ngerti? Kok udah berani lihat-lihat ke tubuh Mbak sih?” lanjutku.
“Udah ngerti dong Mbak! Soalnya Mbak Tita tuh orangnya manis, ditambah lagi bajunya tembus… Kontol saya jadi ngaceng neh…” jawab Udin dengan kata-katanya yang kasar tapi polos.
Aku juga bisa maklum karena dia anak jalanan, jadi pasti omongannya memang kasar seperti itu. Tapi gila juga, ini anak masih kecil, tapi udah berani-beraninya ngomong kayak gitu ke wanita yang lebih dewasa. Tapi justru hal itu yang semakin menambah keisenganku.
Terus aku meledek lagi ke mereka “Mbak gak percaya kalo itu-nya kalian udah bisa berdiri. Kan kalian berdua masih kecil…?”
Mungkin karena merasa tertantang dan tidak terima dibilang seperti itu, tiba-tiba Udin berdiri di depanku lalu berkata “Kita taruhan aja ya Mbak. Kalo ternyata omongan Mbak yang benar, alias punya kami belum bisa berdiri, kami janji gak akan lihat-lihat tubuh Mbak lagi. Tapi kalo ternyata kontol kami bisa berdiri, Mbak mau ngasih apa…?”
Gila juga anak ini membuat aku jadi benar-benar bingung mau jawab apa.
Akhirnya aku bilang “Gak tau ah. Mbak Tita bingung nih…! Terserah kalian aja deh mau minta apa kalau kalian menang taruhan…”
Lalu Udin berbisik-bisik kepada Dodo. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang tidak baik, karena aku melihat Udin dan Dodo berdiskusi sambil tertawa tertahan.
Setelah selesai berdiskusi, akhirnya Udin berkata “Mbak Tita mau tau kontol kami bisa ngaceng apa nggak kan? Berarti Mbak harus lihat kontol kami berdua. Nah, kalo kami yang menang gimana kalo sebagai taruhannya kami juga gantian melihat memeknya Mbak?”
“Dasar bocah cabul!!!” umpatku dalam hati.
Terus terang aku kaget dengan permintaan mereka, aku tidak menyangka kalau Udin akan bicara seperti itu. Tapi karena sudah telanjur bilang terserah sama mereka, makanya aku dengan nada malas-malasan bilang iya saja. Kemudian Udin yang masih berdiri didepanku mulai memelorotkan celana pendek dan juga celana dalamnya. Dan hal yang tadinya aku ragukan ternyata benar-benar terjadi.
Penis Udin ternyata sudah mengacung tegak! Berarti aku hanya tinggal berharap kalau penis Dodo tidak akan berdiri. Melihat Udin sudah membuka celananya, Dodo pun pelan-pelan juga mulai membuka celana pendeknya yang dekil, beserta celana dalamnya. Aku benar-benar merasa deg-degan, apalagi saat aku melihat penis Dodo justru lebih tegak dan lebih menantang dibanding punya Udin. Walaupun panjang kedua penis mereka hanya sekitar 11-12 cm, mungkin memang sesuai dengan anak seusianya, tapi tetap saja aku kalah taruhan. Sekarang tubuh mereka berdua hanya ditutupi oleh baju yang sudah lusuh dan kotor. Aku sangat berharap mereka tidak jadi menagih ‘janji’ taruhanku. Tapi ternyata kenyataan berkata lain.
“Sekarang giliran kami yang lihat memeknya Mbak Tita. Karena Mbak kalah taruhan, dan harus nepatin janji ke kami…” sambil tersenyum nakal Udin mengatakannya kepadaku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain bilang “Ya udah deh Mbak mengaku kalah. Sekarang kalian boleh lihat punya Mbak deh. Tapi kalian buka rok Mbak sendiri ya…?”
“Mbak Tita tiduran aja, biar kami lebih enak ngeliat memek Mbak…” Dodo pun ikut ambil suara.
Mungkin karena aku juga sudah terangsang, makanya aku menurut saja. Aku berbaring di lembaran-lembaran kardus yang sudah lusuh itu. Udin mulai memegang ujung rokku dan pelan-pelan menyingkapnya ke atas sampai batas pinggang. Aku benar-benar merasa malu sekaligus terangsang karena kejadian ini. Aku memilih memejamkan kedua mataku saja, tidak lama kemudian aku merasakan ada tangan yang menarik celana dalamku ke bawah sampai batas mata kakiku.
Di tengah-tengah aku sedang memejamkan mata, aku mendengar salah satu dari mereka berbisik ke yang lain “Memek Mbak Tita bentuknya bagus…! Masih rapet, botak lagi… Beda banget sama memek cewek yang sering kita liat di majalah bekas ya!?”
“Sialan! Masa vaginaku dibandingkan dengan milik cewek di majalah murahan sih..!” aku menggumam kesal.
Aku yang penasaran dengan yang mereka lakukan, memberanikan diri untuk membuka mata. Sungguh kejadian yang sangat membuatku deg-degan. Aku melihat kedua anak itu sedang melihat memekku dari jarak yang sangat dekat. Aku sangat malu, bagaimana tidak, vaginaku yang licin tanpa bulu sedang dilihat oleh dua orang anak, dimana mereka masih di bawah umur. Namun mungkin hal itu yang membuatnya menjadi sensasi tersendiri. Aku kembali memejamkan mataku, tapi tidak berapa lama aku terpejam, aku merasakan ada tangan yang menyentuh bibir vaginaku, aku kaget dan terlonjak.
Aku membuka mataku dan berteriak “Eh! Apa-apaan kamu Do!! Kan Mbak bilang perjanjiannya kalian cuma ngeliat aja! Gak lebih kan…?” kataku dengan nada tinggi karena marah.
“Tolong dong Mbak Tita, kami pengen banget ngerasain megang-megang memek. Dikit aja kok! Kami kali ini janji deh cuma megang aja. Boleh ya Mbak…?” kata Dodo dengan nada memohon.
“Ngeliatin memek Mbak Tita bikin kami tambah konak sih…” timpal Udin.
Entah kenapa saat itu aku hanya bisa berkata “Ya udah. Tapi beneran ya cuma megang doang? Sebentar aja dan jangan minta macam-macam lagi…”
Mendengar jawabanku, wajah mereka langsung terlihat senang. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka langsung berebut untuk menyentuh vaginaku, jari-jari mereka yang kasar dan kotor mengelus-ngelus bibir vaginaku. Aku mulai merasa terangsang, kakiku yang awalnya hanya lurus saja, pelan-pelan semakin aku lebarkan. Sekarang kakiku sudah dalam posisi mengangkang, sehingga tangan-tangan mereka berdua dapat lebih leluasa. Sungguh pemandangan yang mengusik birahi, seorang wanita kantoran berparas manis dan imut, berkulit bersih, sedang dikerjai oleh dua orang anak jalanan yang berpenampilan kumal.
“Gitu dong Mbak, mulai nikmatin yah? Asyik kan…!” ejek Udin.
“Dijamin deh kami berdua pasti muasin Mbak Tita…” Dodo ikut menambahkan sambil terus mengelus-elus vaginaku.
“Sial! Sekarang aku benar-benar terangsang!” aku mengumpat diriku dalam hati yang mulai menerima rangsangan-rangsangan yang di berikan kedua anak ini.
“Memek Mbak Tita masih rapet banget…!! Dodo pasti betah banget maenan memek Mbak seharian…” puji Dodo yang tidak aku tanggapi.
Entah jari siapa yang mulai menempel mengikuti jalur belahan vaginaku dan tak lagi hanya sekedar menyentuh-nyentuh ataupun menggesek-gesek bibir vaginaku. Jari-jari mereka itu sesekali didesak-desakan masuk, sekaligus berulang kali mencari klitorisku dan memainkan jarinya disana. Cukup lama dirangsang oleh kedua anak jalanan itu, vaginaku mulai terasa basah. Secara tidak sadar, aku mulai mengeluarkan lenguhan-lenguhan nikmat. Aku benar-benar sudah tidak ingin menghentikan perbuatan mereka, dan mereka sepertinya tau kalau aku sudah terangsang berat sehingga mereka semakin berbuat berani.
“Ouuhh.. Aaah.. Aaaahh…” aku merintih saat jari-jari mereka bermain semakin liar di dalam vaginaku.
“Mbak Tita tadi gak mau, tapi begitu udah dipegang-pegang memeknya malah keenakan…” ujar Udin bernada meledek.
Dodo sepertinya tidak mau lagi berebut dengan Udin untuk menjamah vaginaku. Sekarang Dodo mulai memindahkan tangannya untuk menelusup kebalik kemejaku yang masih dalam keadaan tertutup. Aku memekik pelan saat tangan Dodo menemukan gundukan kembar di dadaku. Rangsangan di tubuhku semakin menjadi-jadi.
“Ahhh… kalian nakaaal bangett siiihhhh…” aku mendesah semakin kencang.
Tangan Dodo kemudian mulai membuka satu-persatu kancing kemejaku. Dan setelah semuanya terbuka dia menariknya ke atas. Tanpa aku sadari, akupun membantu dengan sedikit mengangkat punggungku dan meluruskan tanganku keatas sampai kemejaku lepas. Kemudian Dodo melanjutkan dengan melepas Bra-ku sebelum melemparnya entah kemana.
“Wuih, teteknya Mbak mantep banget! Biar kecil tapi kenceng…!” sahut Dodo sambil meremas payudaraku dengan gemas.
Kini aku hanya tinggal memakai rok, yang sudah tersingkap dipinggangku. Sementara Udin masih sibuk memainkan jari-jarinya di vaginaku. Kadang ia memainkan klitorisku, vaginaku pun makin basah karenanya. Di saat bersamaan, Dodo mulai memilin-milin putingku, dirangsang seperti itu aku benar-benar sudah terangsang hebat.
“Enak gak Mbak teteknya diisep kayak gini…? Mmmhhh…. Mmmmhh…” tanya Dodo sambil terus menyusu di dadaku.
“Aaah i.. iya-a… e-e-enaaakk.. bangeeeettt..” kataku tersengal-sengal.
Vagina dan payudaraku sekarang sedang dipermainkan secara bersamaan oleh anak-anak kecil, tapi aku tidak berdaya karena nafsuku yang memuncak sehingga aku tidak mampu menolak perbuatan mereka. Dodo fokus meremas-remas payudaraku, tidak hanya diremas-remas tapi juga memuntir-muntir putingku. Dengan leluasa Udin menggesek-gesek bagian tubuh yang paling rahasia milikku itu. Hampir 5 menit kini liang vaginaku sudah becek dan menimbulkan bunyi kecipak karena gerakan jari-jari Udin yang semakin terbiasa.
“Aaahh.. jangan dilepas…” jeritku saat tangan Udin mengangkat tangannya dari vaginaku yang sudah basah itu dan bergerak mengelus-elus paha dan meremas pantatku.
Lalu dengan jarinya, Udin menggerayangi lagi bibir vaginaku yang sudah terasa becek itu dan menggesek dengan cepat. Aku melenguh penuh nikmat sambil meregangkan badanku, lalu tersentak hebat saat jari itu menusuk masuk dan menemukan klitorisku. Sambil menggigit bibir dan memejamkan mata, aku berusaha menahan orgasmeku. Aku tidak pernah mengira bahwa diriku dapat dibuat hampir klimaks oleh seorang anak kecil. Jari Udin bergerak semakin cepat menggesek-gesek bibir luar vaginaku dan kadang-kadang menekan-nekan klitorisku.
Kini Udin mulai memasukan jarinya untuk membelah vaginaku. Jarinya mulai menusuk masuk, aku reflek mendesah ketika jemarinya ia desak masuk. Aku menatap lirih pada Udin, aku hanya bisa pasrah saat Udin mendesakkan jemarinya lagi ke dalam vaginaku. Aku dapat merasakan bagaimana jari kecilnya itu seolah sebuah penis yang masuk dalam vaginaku, sedikit demi sedikit jari tengahnya itu masuk lebih dalam lagi, aku hanya bisa mengigit bibirku lebih keras lagi, sementara desahan-desahan pelan masih saja keluar dari mulutku.
“Emmm…Enak Din… Uhhh” kataku membisik.
Basahnya vaginaku oleh cairan cinta membuat Udin kian mudah mengerjaiku, jarinya tertambat di dalam sebelum mulai bergerak naik turun. Seolah ada penis yang sedang menyetubuhiku, kakiku menjadi begitu lemas, jarinya begitu cepat merangsangku. Sampai akhirnya akupun tidak kuat lagi untuk menahan rangsangan terus-menerus dan sepertinya aku sudah akan mencapai orgasme. Tubuhku mengejang kuat dan tanganku mencengkeram ujung kardus.
“Enak ya Mbak diginiin??” tanya Udin.
“Aagghhhhhh Udiiinnn…!! Ssssshhhh… Enaaaakk bangeeettt… Ougghhh… Teruusss Din… Jangan berhentiii…. Udiiinn…!! Aaahhh…. Mbak keluaarrr Din…” aku meneriakkan namanya saat hampir mencapai orgasme.
Pantatku sampai terangkat ke atas ketika akhirnya aku meraih orgasmeku. Aku merasa lemas, keringat bercucuran di tubuhku padahal saat itu udara cukup dingin.
“Mbak Tita kok cepet banget keluarnya sih…!? Memeknya jadi becek gini…” ejek Udin saat aku mencapai orgasmeku.
“Din… Aaah… Habisnya kamu… Hebaaat banget…. Aaaah… Mbak gak bisa naha-an lama-a…” jawabku sambil terengah-engah.
“Dod, gue udah ngebuat Mbak Tita ngecrot dong…!! Hahahahaha” tawa nakal Udin menggema di seluruh ruangan.
Mungkin karena lelah memainkan vaginaku, Udin menghentikan gesekan tangannya. Tapi Dodo yang tidak mau kalah dengan temannya bukannya berhenti, dia malah mulai mengganti tangannya dengan bibirnya, dia menunduk, mendekatkan mukanya ke payudaraku, dan sejurus kemudian puting sebelah kananku sudah dilumatnya. Sedangkan payudaraku yang kiri diremas-remas dengan oleh tangannya yang hitam. Pelan-pelan libidoku mulai bangkit lagi akibat rangsangan dari Dodo pada payudaraku. Putingku kini sudah mancung dan mengeras. Tangan Dodo terus meremas-remas payudaraku, tampaknya ia begitu menyukai bentuk payudaraku itu yang termasuk kecil ukurannya. Ia menghisap payudaraku bergantian, kanan dan kiri. Dodo menjilati seluruh permukaannya sambil masih terus meremas-remas puting payudaraku.
“Ouh… Do. teruuus… jilaaatin putiiniinngg Mbak ouhhhh” desahku sambil mengigit bibirku menahan gejolak didadaku.
Aku terkejut sesaat, ketika kurasakan tangan Udin mulai mengelus-elus kedua pahaku. Dengan leluasa Udin menjelajahi setiap jengkal pahaku yang mulus itu tanpa penolakan, kulit pahaku yang lembut terasa hangat dalam usapan tangan kasar Udin. Karena belaian-belaian yang dilakukannya ini membuat aku semakin menggelinjang karena birahiku sudah mulai muncul lagi.
“Wah pahanya Mbak Tita mulus banget deh…” Udin mulai memuji kemulusan pahaku.
Sementara Dodo masih sibuk mengulum dan meremas putingku Udin secara tiba-tiba berkata padaku “Mbak Tita sekarang saatnya Udin nyicipin memek Mbak yah…”
Tanpa aku sempat menjawab, Udin mulai menjilati vaginaku dengan lidahnya. Aroma khas dari vaginaku membuat Udin semakin bernafsu menjilatinya. Vaginaku pasti begitu harum karena aku rawat dengan baik, Udin pun semakin bernafsu karenanya. Tubuhku yang berpeluh keringat sama sekali tidak berbau, malah aroma wangi semakin kuat tercium oleh Udin dan Dodo seakan-akan keringatku wangi. Semakin berkeringat, tubuhku semakin wangi menggoda, nafsu mereka semakin meloncat tinggi sehingga Dodo pun mencumbui dan menjilati payudara dan vaginaku.
“Mbaak, enaaakk banget rasaaa… Slurrrpp… memeknyaa…. Slurrpp… Slurrrpp…” puji Udin sambil terus menjilati vaginaku.
Sementara itu Dodo masih terlihat asyik menjilati dan mengisap puting susuku. Sambil meremas payudaraku dengan keras, sesekali Dodo juga menggigit dan menarik puting susuku dengan giginya, sehingga aku merasa kesakitan sekaligus nikmat. Namun ketika Dodo mendengar Udin menikmati sekali menjilat vaginaku, Dodo pun tidak mau ketinggalan untuk merasakan cairan cinta yang terus menerus keluar dari vaginaku. Dodo kemudian ikut ambil bagian untuk menjilati vaginaku.
Sekarang lidah mereka berdua menempel di pinggiran vaginaku, seolah berlomba merangsangku. Sambil terus menjilati vaginaku, tangan mereka mengelus-elus kedua pahaku, mereka terus berusaha merangsangku lebih dan lebih lagi. Aku semakin dibuat tak berdaya dengan kenikmatan yang mereka berikan, rasanya seluruh klitorisku ditekan-tekan dengan rasa nikmat yang berbeda dari sentuhan jemari. Lidah mereka yang menyelusur mulai dari pahaku hingga kebibir kemaluan membuat tubuhku kian sensitif terbakar kenikmatan birahi yang tak tertahan, aku mendesah-desah nikmat.
“Sedaaap banget ya Din! Mana wangi lagi! Memek Mbak Tita emang nikmaaat..” kata Dodo kepada Udin sambil melanjutkan mengecup dan menjilati bibir vaginaku.
“Huehehe bener kan Do? Enak banget kan rasanya…!? Memek Mbak Tita sampe banjir kayak gini. Ternyata Mbak juga napsu yah!? Udin suka banget sama memek Mbak… Hhhhmhh. Sslluurrpp… cairannya juga manis!” Udin mengakhiri kata-katanya dengan menghirup lendir vaginaku.
Sesaat kemudian, aku melihat Udin melepas celana dalamku yang masih ada di ujung kakiku, kemudian menurunkan rokku hingga aku sekarang sudah bugil tanpa sehelai benangpun. Setelah selesai, Udin menyuruh agar Dodo menyingkir dari vaginaku.
“Minggir dulu sana, gue pengen ngentot nih…! Kita kasih liat ke Mbak Tita biar masih kecil kita bisa bikin dia lebih puas…!” kata Udin.
Dodo pun menuruti saja apa yang dikatakan oleh Udin. Udin mengambil posisi duduk dengan kedua lututnya tepat ditengah-tengah kedua pahaku yang mengangkang. Dia memegang penisnya dan menempelkannya di bibir vaginaku. Dia mulai menggesekannya di bibir vaginaku, aku melenguh lagi dan aku seperti tersadar saat aku rasakan Udin mulai berusaha mendorong penisnya masuk ke dalam vaginaku.
“Mbak Tita mau kan nikmatin kontol Udin?” tanya Udin yang sekarang sudah dikuasai hawa nafsu.
“Jangan dimasukin Din… Mbak gak mau!” kataku bernada memohon.
“Udin udah gak tahan pengen ngentotin Mbak Tita…” kata Udin yang tetap memaksa memasukkan penisnya ke dalam vaginaku.
Tapi walaupun mulutku berusaha mencegah, tapi tubuhku tidak berusaha menghindar saat Udin kembali berusaha mendorongnya. Akhirnya bagian kepala penis Udin berhasil menyeruak ke dalam vaginaku.
“Pelan-pelan ya. Auughh… Aaahhh…” aku mendesah.
Udin kembali mendorongnya sampai penisnya sudah masuk setengahnya.
“Enaaakk banget Diiin…. Ayo Din… teruuuusss Diiin….” pintaku yang semakin merasa nikmat.
“Mbak sudah gak tahaaaan lagi! Masukiiinn semuaaaaannyyaa… Aaaahh…” aku mulai tidak tahan dengan rangsangan yang datang.
Mendengar aku yang sudah terangsang berat, dia mendorong sekuat tenaga sampai akhirnya penisnya masuk semua ke dalam vaginaku. Badan Udin semakin menegang dan mengejang keras disertai lolongan ketika kemaluannya berhasil menembus ke dalam liang vaginaku yang masih sempit tersebut. Setelah berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya di dalam lubang vaginaku, Udin mulai menggenjotnya mulai dengan irama perlahan-lahan hingga cepat.
“Uuhhh Aaaanjing..!!!! Enaaak beneeer ngentot sama Mbak Tita Aaahhh…” Kata Udin bersemangat.
Lendir pun mulai mengalir dari sela-sela kemaluanku yang sedang disusupi kemaluan anak itu. Rintihanku pun semakin teratur dan berirama mengikuti irama gerakan Udin. Pelan-pelan Udin mulai mengeluarkan penisnya sampai ujung, kemudian mendorongnya lagi. Lama-lama aku semakin merasa nikmat. Dan sekarang aku merasakan nikmat yang teramat sangat, ketika penis Udin terus keluar masuk di vaginaku.
“Gimana rasanya dientot sama Udin Mbak? Enak kan? Gak usah pura-pura gak mau lah…!” tanya Udin melecehkan aku.
Namun dilecehkan seperti itu bukan membuat aku marah, tapi malah membuat aku semakin terangsang.
“Aaaahhh… Aaaahh… terus Din… nikmaaat bangeeet!! Ouughhh…Enaaakk…” aku mendesah nikmat.
“Gimana rasanya ngentot sama Mbak Tita Din?” tanya Dodo, yang dari tadi hanya melongo saja, dengan nada penasaran.
“Nikmaaaat banget Do…! Sempit…!!! Enaaakk!! jawab Udin saat tengah menyetubuhiku.
“Udiinnn Aaaahhh… Aaahh!” desahku pasrah.
“Aduh enak banget Do… Bener-bener bikin ketagihan nih…! Kapan lagi bisa ngentot cewek kantoraan…!” lanjut Udin yang sepertinya sengaja membuat Dodo iri.
Saat itu aku sudah tidak perduli lagi dengan siapa dan dimana aku disetubuhi. Aku sudah pasrah dan sudah tidak merasa seperti wanita baik-baik. Kedua anak ini memang sudah merendahkan derajatku.
“Aaaah, memek Mbak Tita emang enak!! Sempit dan seret banget… Aaahh Mbaaaakkk…” desah Udin semakin kencang.
Sementara aku melihat Dodo malah asyik menonton kami. Udin semakin cepat mengocok penisnya di vaginaku. Dia menekan penisnya semakin dalam dan semakin cepat. Tapi saat kukira Dodo hanya ingin menonton saja, ternyata ia tidak mau ketinggalan, penisnya menggantung tegak di hadapanku. Penis Dodo membuatku terbelalak, penis itu sudah begitu tegak dan lebih panjang dari ketika pertama kali aku melihatnya, meski tetap saja tidak terlalu panjang dan tebal.
“Mbak Tita, kocokin kontol Dodo dong…” Dodo memintaku mengocok penisnya.
Aku yang sudah terangsang mengikuti saja apa mau Dodo. Sementara aku sedang mengocok-ngocokan penisnya dalam dekapan tanganku yang halus, ternyata payudaraku masih menjadi mainan Dodo. Payudaraku diremasnya berulang-ulang sambil memainkan putingnya, menarik-narik semaunya membuatku merintih sakit bercampur nikmat diantara penis Dodo.
Tidak lama kemudian Dodo mengarahkan kepalaku ke arah kemaluannya dan berkata “Cukup Mbak pake tangannya. Sekarang sepongin kontol Dodo ya Mbak…”
Ternyata tidak cukup puas dengan hanya dikocok oleh tanganku, Dodo menyuruhku untuk menghisap penisnya. Kemudian aku membuka mulutku, dengan bantuan tanganku aku menarik penis Dodo dan mulai menjilatinya dari bagian kepala hingga buah zakarnya. Aku terus melanjutkan dengan mengecup kembali kepala penisnya dan memakai ujung lidahku untuk menggelikitiknya. Kemudian lidahku turun menjalari permukaan benda itu, sesekali kugesekkan pada wajahku yang halus, kubuat penisnya basah oleh liurku. Bibirku lalu turun lagi ke pangkalnya yang belum ditumbuhi bulu-bulu sama sekali, buah zakarnya kujilati dan yang lainnya kupijat dalam genggaman tanganku.
“Cepat dong Mbak isepin kontol Dodo. Jangan cuman dijilat-jilat aja…” perintah Dodo kepadaku.
Dodo kemudian memintaku untuk menghisap penisnya yang sudah basah dengan air liurku, aku mulai memasukkan penisnya itu ke mulutku. Kuemut perlahan dan terus memijati buah zakarnya. Sesekali pula ia menarik penisnya dari mulutku, dan memintaku menggunakan lidahku lagi untuk membelai seluruh batang kemaluannya. Sesekali aku menghisap buah zakarnya yang membuat Dodo melayang nikmat, sebelum kembali harus menikmati penis itu dalam mulutku. Akhirnya penis Dodo aku kulum semua karena ukurannya yang tidak terlalu panjang, sesuai dengan mulutku yang mungil. Aku terus menghisap penis itu dengan nikmat dan lidahku yang basah dan panas itu terus menjilati dengan cepat.
“Uuuugghhh Mbak jago bangeeeet ngisepnya…!” teriak Dodo menikmati setiap hisapan dan jilatanku pada penisnya.
Kulihat ekspresi Dodo meringis dan merem-melek waktu penisnya kumain-mainkan di dalam mulutku. Kujilati memutar kepala kemaluannya sehingga memberinya kehangatan sekaligus sensasi luar biasa. Semakin kuemut benda itu semakin keras. Aku memasukkan mulutku lebih dalam lagi sampai kepala penisnya menyentuh langit-langit tenggorokanku.
“Sluurrp…Suka gak Do… Mbak isepin…Sluurrpp… kayak gini…? Sluurrrppp…” tanyaku sambil terus menghisap penisnya.
“Oughhh enak banget Mbak…” Dodo mengomentari apa yang kulakukan dengan penisnya.
Dodo tampak semakin menikmati, ia terus menyodok-nyodokan penisnya, aku berusaha menggunakan tanganku menahan pinggulnya namun aku tak berdaya, Dodo masih terus berusaha menyodok-nyodokan penisnya.
Di saat aku sedang sibuk mengulum penis Dodo, tiba-tiba Udin berkata “Aaaahh Mbaaakkkk, aku mao keluaaar…”
Aku yang kaget melepas kulumanku pada Dodo dan berteriak “Jangan keluar di dalem Diinn…!! keluarinnya di luar ajaaa… Mbaak gaak mau ha….” aku berusaha membujuk Udin di tengah kenikmatan yang melanda kami berdua.
Namun belum sempat aku menyelesaikan kata ‘hamil’, aku merasakan ada cairan yang menyemprot sangat banyak di dalam dinding vagina dan dirahimku.
“Aaaagggghhhhhhhhhh… Enaaak bangeeeet Mbaaak…!!” Udin melenguh panjang.
Berkali-kali Udin memuncratkan spermanya memenuhi cekungan liang senggamaku. Ia membiarkan batang penisnya tertancap dalam kemaluanku beberapa saat sambil meresapi sisa orgasme hingga tuntas. Sebelum akhirnya dia lemas dan penisnya tercabut dari vaginaku. Udin kini terbaring di sampingku karena kelelahan akibat pergumulan tadi.
Melihat Udin yang sudah terkapar, aku melanjutkan mengulum penis Dodo dengan posisi duduk. Sapuan lidah dan hisapanku membuat Dodo semakin terbang ke awang-awang dan makin mempercepat gerakan pinggulnya yang tepat berada di depan wajahku. Sesekali aku tersedak karena Dodo ‘menyetubuhi’ mulutku.
“Aaah sedooot terus Mbak!” ceracaunya menikmati hisapan penisnya di mulutku.
Setelah beberapa lama kuhisap, benda itu mulai berdenyut-denyut, sepertinya mau keluar. Aku semakin gencar memaju-mundurkan kepalaku mengemut benda itu. Dodo semakin merintih keenakan dibuatnya, tanpa disadarinya pinggulnya juga bergerak maju-mundur semakin cepat di mulutku.
“Aahh.. sssshhhh.. hhmmh… Dodo keluaaarr Mbaakk…!!” desahnya dengan tubuh menggeliat.
Anak itu mendesah dan menumpahkan spermanya di rongga mulutku. Aku yang merasakan semburan dahsyat di mulutku tersentak dan kaget, cairan itu begitu banyak dan kental, serta berbau tidak sedap. Aku sebenarnya ingin menarik mulutku dari penis Dodo dan memuntahkan spermanya. Namun pegangan tangan Dodo pada kepalaku keras sekali, sehingga dengan terpaksa aku menelan sebagian besar cairan putih kental itu. Kulirikan mataku ke atas melihat Dodo merintih sambil mendongak ke atas.
“Oohh Enaaak Mbak Telen terus peju Dodo Mbaakk Iyaaahh Enaaaak!” Dodo melenguh keenakan sambil mengeluarkan isi penisnya sampai benda itu menyusut di mulutku.
Tidak jauh berbeda dengan kondisi Udin, Dodo pun ambruk dalam posisi duduk. Wajahnya terlihat lelah tapi puas, badannya juga sudah bermandikan keringat. Sementara aku yang cukup lelah melayani dua anak ini, beristirahat sejenak dan mengambil posisi tidur di sebelah Udin. Namun karena aku belum merasakan orgasme lagi masih merasa ‘gantung’. Aku menunggu inisiatif Dodo melanjutkan pekerjaan Udin untuk menyetubuhiku, tapi Dodo ternyata malah diam saja. Mungkin ia masih dalam kondisi lemas karena spermanya keluar sangat banyak di mulutku.
Aku yang dilanda birahi tinggi jadi tidak sabar. Aku bangun dari tidurku, dan mencium bibir Dodo dengan penuh nafsu hingga bibirnya basah. Tanpa diperintah, lidah Dodo menari-nari di bibirku. Lidah itu kemudian menjulur ke dalam mulutku. Aku yang tidak perduli dengan bau mulut Dodo yang tidak sedap, malah membuka mulutku dengan lebar dan membalas mengisap lidah Dodo dengan penuh gairah. Dodo merangkul leherku dan mulutnya benar-benar beradu dengan mulut milikku. Air liur kami saling bertukar. Aku menelan liur Dodo sementara Dodo menelan liurku penuh selera. Kami saling berpagutan dalam posisi duduk selama kurang lebih 10 menit.
Merasa sudah cukup untuk membangkitkan gairah Dodo kembali, aku dorong dodo yang dalam posisi duduk sampai Dodo terjatuh dalam posisi terlentang. Aku duduk di atas paha Dodo, dan memegang penisnya yang masih dalam keadaan tegang kemudian mengarahkan ke vaginaku yang masih belepotan sperma Udin dan bercampur dengan cairan pelumas vaginaku. Jadi aku sekarang sedang berada dalam posisi ‘Woman On Top’. Aku mulai mendorong pantatku ke bawah setelah ujung penis Dodo tepat di mulut vaginaku.
“Aahhhhhh Dodooo…” aku mulai mendesah.
Penisnya Dodo agak susah masuk, karena walaupun badannya lebih pendek dari Udin, tapi penisnya ternyata masih lebih besar dari punya Udin. Kemudian Dodo membantu dengan mendorong pantatnya sendiri ke atas, dan akhirnya penis Dodo masuk seluruhnya ke vaginaku. Aku mulai naik turun diatas tubuh Dodo, dan tangan Dodo pun secara naluriah mulai meremas lagi payudaraku yang bergoyang-goyang karena hentakan tubuhku.
“Aaahhh Dooo.. Mbak ngerasaaa enakk bangeeeettt… Aaaahh….” aku tidak tahan untuk tidak mendesah.
Sampai sekitar 15 menit di dalam posisi itu, aku melihat dodo sudah mulai mempercepat dorongan pantatnya ke atas. Sepertinya Dodo sudah akan mencapai orgasme untuk kedua kalinya. Akupun tidak mau kalah, aku bergerak semakin cepat biar dapat mencapai orgasme bersamaan.
“Mbaaakkkkkk…. ahhhhhhhhhh Dodo mauuu keluaaaaar laagiiii Mbaakkk…” Dodo setengah berteriak.
“Tahaaan seeebentar lagi Doo…! Mbak juga bentaaarr lagi keluaaarrr…. Aaghhh….” aku makin merasa nikmat.
Tak lama kemudian, akhirnya tubuh Dodo pun mengejang keras. Dan akhirnya “croooott croottt.. ” lagi-lagi rahimku ditembak banyak sperma tapi kali ini milik Dodo. Akupun merasakan orgasme untuk yang kedua kalinya . Badanku lemas dan jatuh di atas tubuh Dodo, dengan penisnya masih di dalam vaginaku. Aku melirik ke samping, ternyata Udin tertidur pulas karena lelah.
“Dasar anak-anak! Udah keenakan tinggal tidur deh…” bathinku.
Setelah agak kuat aku bangun dari atas tubuh Dodo. Aku mengambil tasku dan meraih tissue basah dari dalamnya. Aku membersihkan vagina dan pahaku yang sudah banjir dengan sperma kedua anak itu dengan tissue itu. Aku mengambil dan memakai kembali celana dalam dan rokku yang berserakan, kemudian aku meraih bra dan kemejaku yang sudah lumayan kering. Setelah berpakaian lengkap aku pun berpamitan.
“Dodo, Mbak Tita pulang dulu ya. Tolong sampaikan ke Udin nanti…” karena Udin masih tertidur pulas, maka aku hanya berpamitan dengan Dodo.
Dodo mengiyakan dengan wajah kecewa. Mungkin dia merasa tidak akan pernah mengalami situasi seperti ini lagi. Tapi siapa yang akan pernah tau? Namun satu hal yang pasti, baik bagi Dodo maupun Udin, mereka tidak akan pernah bisa melupakan pengalaman yang didapatnya dariku. Pengalaman itu pasti akan menjadi kesan tersendiri dalam kehidupan mereka berdua.
“Makasih ya Mbak Tita udah ngebolehin kami berdua nyicipin badan Mbak yang nikmat… hehehe…” kata Dodo dengan kurang ajar.
Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Ada rasa sesal, benci sekaligus kepuasan tersendiri di dalam diriku. Kemudian aku bergegas berjalan ke luar rumah, ternyata hujan masih belum reda, walaupun hanya tinggal gerimis kecil saja. Namun aku harus memberanikan diri untuk pulang, kalau tidak pasti nanti kedua anak itu minta yang aneh-aneh lagi. Kemudian aku setengah berlari menuju ke arah jalan raya sambil menutupi kepalaku dengan tas.
Tidak berapa lama setelah sampai di jalan raya, angkot yang menuju rumahku sedang lewat. Di dalam angkot aku melihat ke jam tanganku, dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 kurang. Tidak terasa sudah lama sekali aku menghabiskan waktu di rumah itu. Aku juga melihat HP-ku sudah ada banyak miscall dan SMS dari pacar serta ibuku. Ternyata selagi aku ‘bermain’ dengan Udin dan Dodo, aku tidak tau kalau HP-ku bergetar, mungkin saking aku menikmatinya. Aku membalas SMS mereka dan menjelaskan bahwa tadi aku sempat berteduh dahulu sambil menunggu hujan reda, dan aku tidak berani membalas SMS atau mengangkat telepon dari mereka karena takut dijahati. Moga-moga saja mereka berdua tidak curiga, karena tidak biasanya aku belum pulang sampai jam 9 tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah aku langsung mandi untuk membersihkan diriku. Selagi mandi sebenarnya aku menyesali, kenapa harus kedua anak jalanan itu yang memuaskan birahiku. Itulah pertama kalinya aku bersetubuh dengan orang lain selain adikku. Aku juga bersyukur, ternyata aku tidak hamil dari perbuatanku dengan anak-anak jalanan itu. Lain kali aku akan menceritakan pengalaman-pengalamanku yang tidak kalah mendebarkan.
Langganan:
Postingan (Atom)